Skip to main content

Permintaan dan Penyediaan Energi Indonesia serta Emisi CO2

Sumber : Kementrian ESDM >


Update > Lihat Outlook Energi Indonesia 2020

Outlook Energi Indonesia (OEI) 2019

OEI 2019 memberikan gambaran proyeksi permintaan dan penyediaan energi nasional dalam kurun waktu 2019-2050 berdasarkan asumsi sosial, ekonomi dan perkembangan teknologi ke depan dengan menggunakan baseline data tahun 2018.

Analisis permintaan dan penyediaan energi dilakukan berdasarkan hasil perhitungan model LEAP (Long-range Energy Alternatives Planning System) dan dalam perhitungan penyediaan listrik menggunakan pemodelan Balmorel.

LEAP adalah aplikasi pemodelan perencanaan energi untuk menganalisis kondisi permintaan hingga penyediaan secara terintegrasi.

Balmorel adalah aplikasi pemodelan perencanaan energi khususnya untuk penyediaan energi listrik dengan pendekatan optimasi. Pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi dan harga energi menjadi dasar asumsi yang dikembangkan untuk memperoleh gambaran mengenai permintaan energi hingga tahun 2050.

Selain itu, beberapa asumsi tambahan terkait dengan kebijakan energi yang berlaku saat ini antara lain RUEN dan mandatori BBN juga menjadi pertimbangan dalam proyeksi permintaan energi ke depan.

Demikian pula asumsi dan target dalam pengembangan ketenagalistrikan dalam RUPTL, RIPIN dan NDC. Proyeksi permintaan dan penyediaan energi periode 2019-2050 menggunakan 3 skenario yaitu
1. skenario Business as Usual (BaU),
2. skenario Pembangunan Berkelanjutan (PB) dan
3. skenario Rendah Karbon (RK).

Ketiga skenario tersebut menggunakan asumsi dasar pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan populasi yang sama yaitu rata-rata pertumbuhan PDB sebesar 5,6% per tahun dan pertumbuhan populasi 0,7%.

Beberapa asumsi penting yang dimasukkan dalam OEI 2019 antara lain target penggunaan biodiesel dan bioetanol, pertumbuhan jaringan gas rumah tangga (jargas), target kendaraan listrik dan penggunaan kompor induksi dan Dimethyl Ether (DME) untuk substitusi LPG.

Khusus untuk pembangkit listrik mengacu pada target yang terdapat di RUPTL untuk skenario BaU, RUEN untuk skenario PB dan kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celsius untuk skenario RK.

Permintaan energi final nasional tahun 2025 pada skenario BaU, skenario PB dan skenario RK masing-masing sebesar 170,8 MTOE, 154,7 MTOE dan 150,1 MTOE.

Permintaan energi final pada tahun 2050 dengan skenario yang sama masing-masing sebesar 548,8 MTOE, 481,1 MTOE dan 424,2 MTOE.

Pada tahun 2025, permintaan energi untuk seluruh skenario masih didominasi oleh sektor transportasi yaitu sekitar 35% dan pada tahun 2050 didominasi oleh sektor industri antara 37-42%.

Permintaan listrik pada tahun 2025 pada masing-masing skenario akan tumbuh sekitar 11-12% sehingga akan mencapai 576,2 TWh (BaU), 537 TWh (PB) dan 520,7 TWh (RK) dan pada tahun 2050 akan tumbuh sekitar 6-7% sehingga akan mencapai 2.214 TWh (BaU), 1.917,9 TWh (PB) dan 1.625,2 TWh (RK).

Permintaan listrik sampai tahun 2050 di semua skenario masih didominasi oleh sektor rumah tangga, kemudian sektor industri dan komersial.


Kondisi Energi Saat Ini

Tahun 2018, total produksi energi primer yang terdiri dari minyak bumi, gas bumi, batubara, dan energi terbarukan mencapai 411,6 MTOE. Sebesar 64% atau 261,4 MTOE dari total produksi tersebut diekspor terutama batubara dan LNG

Indonesia juga melakukan impor energi terutama minyak mentah dan produk BBM sebesar 43,2 MTOE serta sejumlah kecil batubara kalori tinggi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sektor industri.

Total konsumsi energi final (tanpa biomasa tradisional) tahun 2018 sekitar 114 MTOE terdiri dari sektor transportasi 40%, kemudian industri 36%, rumah tangga 16%, komersial dan sektor lainnya masing-masing 6% dan 2%.


1. Minyak Bumi

Produksi minyak bumi selama 10 tahun terakhir menunjukkan kecenderungan menurun, dari 346 juta barel (949 ribu bph) pada tahun 2009 menjadi sekitar 283 juta barel (778 ribu bph) di tahun 2018.

Untuk memenuhi kebutuhan kilang, Indonesia mengimpor minyak bumi terutama dari Timur Tengah sehingga ketergantungan terhadap impor mencapai sekitar 35%

Lihat :  Gambar 1.1 Perkembangan Ketergantungan Impor Minyak Bumi

Untuk mendorong minat investor menanamkan modalnya di sektor hulu migas, pada akhir tahun 2015, Pemerintah melakukan revisi Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2010 menjadi PP No. 27 Tahun 2017 tentang Biaya Operasi yang dapat dikembalikan (cost recovery) dan Perlakuan Pajak di Bidang Usaha Hulu Migas.

Revisi PP tersebut dimaksudkan agar industri hulu migas menjadi lebih menarik dengan semakin ketatnya kompetisi produsen minyak dunia, melalui pengurangan fasilitas perpajakan pada masa eksplorasi dan ekploitasi seperti pembebasan bea masuk, PPN dan PPh 22. Selain itu,

Pemerintah juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No. 8 Tahun 2017 tentang kontrak bagi hasil gross split, yang merupakan skema baru dalam kontrak hulu migas. Melalui skema baru ini, modal dan resiko kegiatan hulu migas sepenuhnya ditanggung kontraktor.

Di sisi permintaan, kebutuhan BBM termasuk biodiesel dalam negeri pada tahun 2018 mencapai 465,7 juta barel/tahun yang dipenuhi dari produksi kilang dalam negeri dan impor. Produksi BBM dari kilang dalam negeri rata-rata sebesar 278,1 juta barel dan impor rata-rata sekitar 165,4 juta barel.

Perkembangan produksi dan impor BBM dalam 10 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 1.2.


2. Gas Bumi

Pada tahun 2018 produksi gas bumi 2,9 juta MMSCF yang digunakan terutama untuk memenuhi konsumsi dalam negeri di sektor industri feed stock dan atau energi, pembangkit listrik, gas kota (rumah tangga dan komersial) serta gas lift sebesar 1,7 juta MMSCF.

Selain itu, gas bumi juga dijadikan sebagai komoditas ekspor dalam bentuk LNG dan gas pipa sebesar 1,2 juta MMSCF. Persentase ekspor (melalui pipa maupun LNG) terhadap total produksi gas bumi menurun dari 50% pada tahun 2009 menjadi 40% pada tahun 2018.

(Gambar 1.3).

Energi primer gas bumi juga mencakup kebutuhan LPG yang dipenuhi dari produksi kilang LPG dan impor LPG. Pada tahun 2018, konsumsi LPG mencapai 7,5 juta ton yang dipenuhi dari produksi LPG dalam negeri sebesar 2 juta ton (26%) dan impor 5,5 juta ton (74%). Suksesnya program konversi minyak tanah ke LPG menyebabkan konsumsi LPG terus meningkat, sementara penyediaan LPG dari kilang LPG dan kilang minyak di dalam negeri terbatas.

Naiknya konsumsi LPG khususnya LPG 3 kg yang masih disubsidi perlu diantisipasi Pemerintah mengingat banyaknya penggunaan LPG 3 kg yang tidak tepat sasaran. Untuk mengurangi volume impor LPG yang terus meningkat, saat ini Pemerintah sedang merencanakan program substitusi LPG dengan DME (Dimethyl Ether) yang berasal dari batubara dan substitusi LPG dengan kompor listrik induksi.


3. Batubara

.Perkembangan produksi batubara periode tahun 2009-2018 mengalami peningkatan yang cukup besar, dengan capaian produksi pada tahun 2018 sebesar 557 juta ton. Dari total produksi tersebut, porsi ekspor batubara mencapai 357 juta ton (63%) dan sebagian besar digunakan untuk memenuhi permintaan China dan India.

Tingginya angka ekspor batubara Indonesia menjadikan Indonesia sebagai salah satu eksportir batubara terbesar di dunia selain Australia.

Sementara itu konsumsi batubara dalam negeri mencapai 115 juta ton atau lebih kecil dari target konsumsi batubara domestik sebesar 121 juta ton.

Salah satu faktor yang menyebabkan lebih rendahnya realisasi konsumsi batubara adalah pengoperasian beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) program 35.000 MW tidak sesuai dengan rencana dan terdapat beberapa kegiatan industri yang mengalami penurunan.

Gambaran produksi, konsumsi dan ekspor batubara dalam 10 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 1.4.


4. Energi Baru dan Energi Terbarukan

Potensi EBT

Berkurangnya produksi energi fosil terutama minyak bumi serta komitmen global dalam pengurangan emisi gas rumah kaca, mendorong Pemerintah untuk meningkatkan peran energi baru dan terbarukan secara terus menerus sebagai bagian dalam menjaga ketahanan dan kemandirian energi.

Sesuai PP No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, target bauran energi baru dan terbarukan pada tahun 2025 paling sedikit 23% dan 31% pada tahun 2050.

Indonesia mempunyai potensi energi baru terbarukan yang cukup besar untuk mencapai target bauran energi primer tersebut, seperti terlihat pada .▶️ Tabel 1.1

Total potensi energi terbarukan ekuivalen 442 GW digunakan untuk pembangkit listrik, sedangkan BBN dan Biogas sebesar 200 ribu Bph digunakan untuk keperluan bahan bakar pada sektor transportasi, rumah tangga, komersial dan industri.

Pemanfaatan EBT untuk pembangkit listrik tahun 2018 sebesar 8,8 GW atau 14% dari total kapasitas pembangkit listrik (fosil dan non fosil) yaitu sebesar 64,5 GW.

Minimnya pemanfaatan EBT untuk ketenagalistrikan disebabkan masih relatif tingginya harga produksi pembangkit berbasis EBT, sehingga sulit bersaing dengan pembangkit fosil terutama batubara.

Selain itu, kurangnya dukungan industri dalam negeri terkait komponen pembangkit energi terbarukan serta masih sulitnya mendapatkan pendanaan berbunga rendah, juga menjadi penyebab terhambatnya pengembangan energi terbarukan.

Pemanfaatan EBT pada sektor transportasi terutama biodiesel mulai berkembang cepat sejalan dengan pelaksanaan kebijakan mandatori BBN yang mengamanatkan campuran BBN ke BBM sebesar 20% (B20) pada sektor transportasi.

Perkembangan produksi, ekspor dan pemanfaatan biodiesel seperti pada Gambar 1.5.

Kebijakan Pendukung EBT

Untuk mempercepat pengembangan EBT, Pemerintah telah menetapkan beberapa regulasi diantaranya:

Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2016 (Pasal 14) tentang Percepatan Infrastruktur Ketenagalistrikan, mengamanatkan bahwa pelaksanaan percepatan infrastruktur ketenagalistrikan mengutamakan pemanfaatan energi baru dan terbarukan.

Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dapat memberikan dukungan berupa pemberian insentif fiskal, kemudahan perizinan dan non-perizinan, penetapan harga beli tenaga listrik dari masing-masing jenis sumber energi baru dan terbarukan, pembentukan badan usaha tersendiri dalam rangka penyediaan tenaga listrik untuk dijual ke PT PLN (Persero), dan/atau penyediaan subsidi.

Peraturan Presiden No. 66 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No. 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit, yang mewajibkan penggunaan biodiesel bagi PSO dan non PSO sesuai pasal 18 ayat (1b).

Peraturan Menteri Keuangan No.177/PMK.011/2007 tentang Pembebasan Bea Masuk atas Impor Barang untuk Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas serta Panas Bumi.

Peraturan Menteri Keuangan No.03/PMK.011/2012 tentang Tata Cara Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Fasilitas Dana Geothermal.

Peraturan Menteri ESDM No. 49 Tahun 2017 merupakan penyempurnaan atas Permen ESDM No. 10 Tahun 2017 tentang Pokok-Pokok Dalam Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik.

Peraturan Menteri ESDM No. 50 Tahun 2017 merupakan revisi dari Permen ESDM No. 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik, yang diterbitkan dalam rangka mewujudkan iklim usaha makin baik dengan tetap mendorong praktik efisiensi serta mewujudkan harga listrik yang wajar dan terjangkau.

Peraturan Menteri ESDM No. 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).


5.Ketenagalistrikan

Kapasitas pembangkit tenaga listrik sampai dengan tahun 2018 mencapai 64,5 GW atau naik sebesar 3% dibandingkan kapasitas tahun 2017. Kapasitas terpasang pembangkit listrik tahun 2018 sebagian besar berasal dari pembangkit energi fosil khususnya batubara (50%), diikuti gas bumi (29%), BBM (7%) dan energi terbarukan (14%) >> Lihat Gambar 1.6.

Hampir sebagian besar pembangkit listrik diusahakan oleh PLN yaitu sebesar 43,2 GW (67%) dan IPP hanya sebesar 14,9 GW (23%). Sedangkan pembangkit listrik yang dibangkitkan oleh Private Power Utility (PPU) dan Izin Operasi (IO) non bbm masing-masing sebesar 2,4 GW (4%) dan 4,1 GW (6%) >> Lihat Gambar 1.7.

Pada tahun 2018, produksi pembangkit listrik mencapai 283,8 TWh yang sebagian besar dihasilkan dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara sebesar 56,4%, pembangkit listrik berbahan bakar gas sebesar 20,2% dan BBM hanya 6,3%, sementara 17,1% berasal dari EBT  >> Lihat Gambar 1.8

Listrik dari PLN dan pembangkit non PLN yang telah tersambung pada jaringan PLN (on grid) disalurkan kepada konsumen rumah tangga sebesar 97,8 ribu GWh (42%), industri 76,9 ribu GWh (33%) dan komersial sebesar 59,5 ribu GWh (25%), sedangkan konsumsi listrik di sektor transportasi untuk pengoperasian kereta komuter konsumsinya sebesar 274 GWh (0,12%) >> Lihat Gambar 1.9


Permintaan Energi

Permintaan energi final nasional skenario BaU, PB dan RK akan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan per tahun masing-masing 5,0%, 4,7% dan 4,3% sehingga permintaannya pada tahun 2050 masing-masing akan mencapai 548,8 MTOE, 481,1 MTOE dan 424,2 MTOE.

Penghematan permintaan energi final skenario PB terhadap BaU pada tahun 2050 sebesar 12%, sementara penghematan permintaan energi final skenario RK terhadap BaU pada tahun 2050 sebesar 23%.

Perbandingan permintaan energi ketiga skenario pada Gambar 2.1

Permintaan energi final hingga tahun 2050 masih akan didominasi oleh sektor industri dan transportasi sebagaimana kondisi pada tahun 2018.

Peningkatan aktivitas industri dan aktivitas kendaraan bermotor memberikan kontribusi yang cukup besar pada peningkatan permintaan energi di kedua sektor tersebut.  

Permintaan di sektor industri diproyeksikan sejalan dengan proyeksi pertumbuhan industri pada “Visi Indonesia 2045” sedangkan permintaan energi di sektor transportasi dipengaruhi oleh pertumbuhan kendaraan bermotor, program substitusi kendaraan konvensional (BBM) ke kendaraan listrik, program mandatori biodiesel dan bioetanol serta beralihnya kendaraan pribadi ke kendaraan masal.

Pada tahun 2050, sektor industri akan lebih mendominasi dibandingkan sektor lainnya sehingga pangsanya menjadi 42% pada skenario BaU, 40% pada skenario PB dan 37% pada skenario RK.

Permintaan energi terbesar setelah industri adalah sektor transportasi, sektor rumah tangga, sektor komersial dan sektor lainnya seperti terlihat pada Gambar 2.2

Permintaan energi final berdasarkan jenis energi menunjukkan bahwa pada tahun 2050 permintaan listrik akan lebih dominan masing-masing sebesar 35% (BaU), 34% (PB) dan 33% (RK).

Tingginya permintaan listrik dipengaruhi oleh meningkatnya penggunaan alat elektronik terutama di sektor rumah tangga serta substitusi penggunaan genset pada sektor industri dan komersial yang berbahan bakar minyak ke penggunaan listrik on grid. 

Tren pemanfaatan energi final dari tahun 2018-2050, sebagaimana pada Gambar 2.3.


1. Sektor Industri

Gas bumi dan batubara masih menjadi sumber energi utama di sektor industri hingga tahun 2050.

Gas bumi paling banyak digunakan untuk memenuhi permintaan industri logam, pupuk (sebagai bahan baku) dan keramik.

Ketiga industri tersebut mengkonsumsi sekitar 83% gas bumi dari total permintaan gas bumi di sektor industri. Sedangkan batubara sebagian besar (90%) dikonsumsi oleh industri semen.

EBT terutama dimanfaatkan untuk industri makanan dan kertas.

Beberapa industri makanan masih menggunakan biomasa sebagai bahan bakar, sementara industri kertas menggunakan energi terbarukan seperti cangkang kelapa sawit, jerami padi, biogas dan black liquor (lindi hitam) sebagai pengganti batubara.

Tren permintaan EBT pada industri makanan akan turun sejalan dengan berkurangnya pemanfaatan biomasa, namun trennya diproyeksikan meningkat pada industri kertas.

Pada tahun 2050 permintaan energi di sektor industri akan mencapai 230,9 MTOE (BaU), 194,3 MTOE (PB) dan 157,7 MTOE (RK). Perkembangan permintaan energi di sektor industri per jenis energi dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Terdapat 6 (enam) sub sektor industri yang lahap mengkonsumsi energi yaitu industri semen, logam, makanan dan minuman, pupuk, keramik serta kertas. Total permintaan energi pada ke enam industri ini akan mencapai 87% dari total pemakaian energi di sektor industri.

Perkembangan permintaan energi enam sub sektor industri besar terlihat pada Gambar 2.5.


2. Sektor Transportasi

Bensin, solar, gas, avtur, avgas, biodiesel dan bioetanol serta listrik merupakan jenis energi yang dikonsumsi pada sektor transportasi.

Pada tahun 2018, permintaan energi terbanyak di sektor transportasi adalah BBM (96%) dan sisanya dipasok oleh biodiesel dan gas bumi.

Untuk mengurangi pemakaian BBM pada sektor transportasi yang sebagian besar pasokannya diperoleh melalui impor, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan substitusi BBM dengan BBN melalui penerapan mandatori BBN, namun realisasinya saat ini baru dapat diterapkan untuk B-20 (pencampuran biodiesel sebesar 20% dalam solar).

Kebijakan lain di sektor transportasi adalah substitusi BBM dengan gas bumi dan listrik, namun penerapannya belum berjalan seperti yang diharapkan.

Dengan demikian, pada skenario BaU dan skenario PB pangsa permintaan minyak sampai tahun 2050 masih tinggi.

pada skenario RK pangsa permintaan minyak di tahun 2050 akan menurun akibat diterapkannya pencampuran biodiesel sebesar 100% (green diesel) dan bioetanol sebesar 85%. Dengan demikian, pangsa permintaan minyak pada skenario RK pada tahun 2050 akan menjadi 37% dan pangsa permintaan EBT meningkat menjadi 62%.

Penggunaan mobil listrik pada ketiga skenario ini belum terlalu berpengaruh terhadap permintaan listrik, hal ini terjadi karena jumlah kendaraan listrik yang diasumsikan sangat kecil dibandingkan kendaraan konvensional. 

Gambaran permintaan energi di sektor transportasi pada Gambar 2.6.

Pada tahun 2018, pangsa permintaan energi terbesar di sektor transportasi adalah sepeda motor (41%), hal ini dipengaruhi oleh jumlah sepeda motor sudah mencapai lebih dari 118 juta unit.

Pada tahun 2050 diproyeksikan perbandingan jumlah motor di setiap rumah tangga trendnya hampir sama dengan trend saat ini yaitu setiap 1 rumah tangga mempunyai 2 motor, sehingga pangsa permintaan energi untuk sepeda motor menurun sejalan dengan beralihnya penumpang ke transportasi masal (MRT, LRT, KRL).

Secara absolut terdapat penambahan konsumsi energi angkutan masal dari 11,5 MTOE di 2025 menjadi 41,3 MTOE pada 2050 (BaU); 11,1MTOE di 2025 menjadi 41,0 MTOE pada 2050 (PB); dan 11,0 MTOE di 2025 menjadi 47,2 MTOE pada 2050 (RK).

Walaupun demikian, jumlah sepeda motor masih cukup tinggi karena masih menjadi andalan sebagai sarana transportasi terutama di kota- kota besar dengan pertimbangan waktu tempuh lebih cepat dibanding kendaraan lainnya.

Pada semua skenario permintaan energi untuk angkutan udara mengalami pertumbuhan tertinggi sepanjang periode proyeksi dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6%, sehingga permintaan avtur naik dari 4,5 MTOE pada tahun 2018 menjadi sekitar 27,6 MTOE di 2050.

Kondisi ini didorong oleh naiknya tingkat kesejahteraan masyarakat dan pesatnya pertumbuhan di sektor wisata yang mendorong masyarakat untuk berpergian.

Sementara itu, permintaan energi untuk kendaraan truk sepanjang periode proyeksi masih mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 5% untuk semua skenario sehingga pangsa permintaan energinya masih cukup besar hingga tahun 2050 yaitu sekitar 43%, terbesar diantara jenis kendaraan lainnya. Tren ekonomi digital dan meningkatnya aktivitas transaksi online (e-commerce) menjadi pendorong kenaikan permintaan energi pada truk mengingat lalu lintas distribusi barang umumnya menggunakan truk.

Untuk moda transportasi mobil penumpang, walau terdapat tren kenaikan permintaan energi, namun pertumbuhannya mampu diredam oleh pemanfaatan teknologi yang lebih hemat sehingga permintaan energi pada tahun 2050 naik dari 6,7 MTOE tahun 2018 menjadi menjadi 23,7 MTOE pada skenario BaU dan 21,1 MTOE pada skenario PB serta 20,9 MTOE pada skenario RK.

Gambaran, perkembangan pangsa permintaan energi berdasarkan moda transportasi pada ketiga skenario dapat dilihat pada Gambar 2.7.


3. Sektor Rumah Tangga

Permintaan energi sektor rumah tangga terutama dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah rumah tangga yang mencapai 70,6 juta pada tahun 2025 dan sekitar 80 juta pada tahun 2050.

Selain itu, tingkat urbanisasi juga mendorong naiknya permintaan energi ke depan.

Berdasarkan proyeksi BPS, tingkat urbanisasi pada tahun 2035 akan mencapai 67% naik dari tahun 2010 yang hanya 49,8% (Gambar 2.8).

Permintaan energi di sektor rumah tangga pada tahun 2050 akan mencapai 120 MTOE (BaU), 109 MTOE (PB) dan 94,7 MTOE (RK).

Jenis energi yang dominan digunakan di sektor rumah tangga pada tahun 2050 adalah listrik. Pangsa permintaan listrik naik dari 60% pada tahun 2018 menjadi 90% pada tahun 2050.

Naiknya permintaan listrik didorong oleh meningkatnya penggunaan alat- alat elektronik di rumah tangga seperti AC, refrigrator (kulkas), mesin pompa air, termasuk kompor listrik induksi.

Sementara permintaan LPG pada skenario BaU, PB dan RK pada tahun 2050 akan mencapai 4,8 MTOE, 4,3 MTOE dan 3,4 MTOE dengan adanya program substitusi LPG ke jargas, kompor listrik induksi dan DME.

Program pembangunan jargas untuk rumah tangga sesuai dengan  RUEN akan mencapai 4,7 juta SR sehingga digunakan sebagai acuan dalam proyeksi permintaan gas bumi.

Untuk mencapai target pembangunan jargas dalam RUEN pada tahun 2025, maka diperlukan pembangunan jargas sekitar 1 juta SR per tahun.

Pada skenario BaU diasumsikan sesuai RUEN, pada skenario PB pertumbuhannya sebesar 1 juta SR/tahun dan skenario RK pertumbuhannya lebih dari 1 juta/tahun. Berdasarkan hasil proyeksi, permintaan gas bumi pada skenario BaU, PB dan RK pada tahun 2050 akan mencapai masing-masing 2,2 MTOE, 3,4 MTOE dan 4,5 MTOE.

Substitusi minyak tanah ke LPG juga masih dimasukkan sebagai asumsi dalam outlook ini yang diproyeksikan akan selesai pada tahun 2022.

Proyeksi permintaan energi pada sektor rumah tangga seperti pada Gambar 2.9.


4. Sektor Komersial

Permintaan energi di sektor komersial terdiri dari perkantoran, perhotelan, restoran, rumah sakit dan jasa lainnya.

Energi yang dipergunakan di sektor komersial antara lain listrik, LPG, solar, gas, biodiesel dan DME. Permintaan energi di sektor komersial didominasi oleh listrik sekitar 60%-70%. Pemakaian listrik pada sektor komersial terutama digunakan untuk pendingin ruangan (AC), mesin pompa air dan penerangan (lampu).

Selain itu, permintaan LPG pangsanya cukup besar yaitu sekitar 22% dari total permintaan energi di sektor komersial. LPG di sektor komersial digunakan untuk memasak terutama di hotel dan restoran.

Pada tahun 2050, permintaan solar dan biodiesel pada sektor komersial yang pangsanya masing-masing sekitar 5% dan 2% digunakan untuk keperluan genset sebagai cadangan (back up) pasokan listrik.

Total permintaan energi final di sektor komersial pada tahun 2050 sebesar 47,7 MTOE (BaU), 40,5 MTOE (PB), dan 36,2 MTOE (RK). Perkembangan permintaan energi di sektor komersial dapat dilihat pada Gambar 2.10.

Permintaan energi sektor komersial di semua skenario menunjukkan tren yang sama. Hampir 50% permintaan energi dikonsumsi oleh sub sektor perdagangan serta hotel-restoran. Sedangkan 50% sisanya dikonsumsi oleh sub sektor jasa sosial, jasa komunikasi, jasa keuangan dan perkantoran.

Gambaran permintaan energi final per sub sektor komersial dapat dilihat pada Gambar 2.11.


5. Sektor Lainnya

Sektor lainnya terdiri dari tiga sub sektor, yaitu pertanian, pertambangan dan konstruksi.

Permintaan energi di sektor lainnya meliputi batubara, solar, biodiesel dan listrik.
☑️Batubara digunakan di sub sektor pertambangan, sementara
☑️solar dan biodiesel digunakan untuk genset sebagai cadangan pasokan listrik. 
☑️Listrik digunakan terutama untuk penerangan dan alat-alat elektronik lainnya.

Pangsa permintaan energi sektor pertambangan akan menurun dari 43% pada tahun 2018 menjadi sekitar 27% pada tahun 2050 salah satunya dipengaruhi oleh terbatasnya cadangan batubara dan mineral.

Namun pangsa permintaan energi di sektor konstruksi justru akan naik dari 26% pada tahun 2018 menjadi sekitar 42% tahun 2050 dipengaruhi oleh meningkatnya populasi dan pertumbuhan ekonomi.

Total permintaan energi final di sektor lainnya pada tahun 2050 sebesar 3,9 MTOE (BaU), 4,3 MTOE (PB), dan 4,6 MTOE (RK).

Perkembangan permintaan energi final sektor lainnya dapat dilihat pada Gambar 2.12.


Penyediaan Energi

Proyeksi penyediaan energi primer periode 2019-2050 disusun berdasarkan asumsi dan data yang terdapat dalam RUEN antara lain potensi energi, produksi energi fosil serta kebijakan pembatasan ekspor batubara dan gas bumi.

Penyediaan energi primer untuk pembangkit listrik dimasukkan dalam pemodelan berdasarkan asumsi kapasitas pembangkit sesuai RUPTL yang menghasilkan kebutuhan energi primer untuk masing-masing pembangkit listrik.

Penyediaan energi primer skenario BaU pada tahun 2025 dan 2050 diproyeksikan akan menjadi 314 MTOE dan 943 MTOE. Berbagai macam kebijakan yang diterapkan seperti diversifikasi energi, efisiensi energi serta lingkungan hidup akan memberikan dampak pada pertumbuhan penyediaan energi primer yang lebih rasional.

Penerapan kebijakan tersebut telah menahan laju pertumbuhan penyediaan energi primer. Beberapa tahun terakhir, Pemerintah telah mencabut beberapa subsidi energi seperti premium dan listrik untuk golongan rumah tangga mampu. Peningkatan aktivitas ekonomi diperkirakan tidak akan terpengaruh oleh kenaikan harga BBM dan listrik, sehingga permintaan energi tetap meningkat, khususnya permintaan energi fosil seperti batubara, gas dan minyak.

Ketiga jenis energi fosil ini masih menjadi pilihan utama dalam memenuhi permintaan energi nasional hingga tahun 2050.

Ditinjau dari jenis energi, penyediaan batubara termasuk briket meningkat menjadi 298 MTOE atau pangsanya sekitar 32% pada tahun 2050.

Pemanfaatan batubara diarahkan sebagai bahan baku dalam proses coal gasification dan coal liquifaction serta DME untuk meningkatkan nilai tambah.

Di sisi lain, batubara untuk pembangkit listrik diproyeksikan akan dibatasi pemanfaatannya hanya untuk PLTU mulut tambang.

Total permintaan gas yang mencakup gas pipa, LPG dan LNG naik menjadi 222 MTOE pada tahun 2050 atau 24% dari total penyediaan energi primer diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan gas domestik.

Peningkatan pemanfaatan gas domestik tersebut dilakukan melalui pembangunan infrastruktur gas nasional seperti jaringan pipa gas sesuai dengan Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas serta Floating Storage Regasification Unit (FSRU) untuk pemanfaatan LNG yang jaraknya jauh dari sumber gas dan pembangunan jargas sektor rumah tangga untuk daerah-daerah yang dekat dengan sumber gas.

Permintaan minyak pada tahun 2050 akan meningkat menjadi 147 MTOE, sehingga pangsa minyak dalam penyediaan energi primer turun menjadi 16%.

Tingginya permintaan minyak tersebut disebabkan oleh meningkatnya permintaan minyak di sektor transportasi baik berupa BBM sebagai bahan campuran biodiesel dan bioetanol maupun BBM murni (bensin, solar dan avtur).

Permintaan EBT pada tahun 2050 akan mencapai 275 MTOE sehingga pangsa EBT juga meningkat menjadi 29%.

Peningkatan penyediaan EBT dilakukan dipengaruhi oleh optimalisasi pemanfaatan solar cell, biomasa, panas bumi, dan air untuk pembangkit listrik serta substitusi BBM dengan BBN terutama sektor transportasi.

Perkembangan bauran energi selama periode proyeksi dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Pada skenario PB, penyediaan energi primernya lebih kecil dibandingkan skenario BaU yaitu 828 MTOE pada tahun 2050.

Di sisi lain, share EBT dalam bauran energi primer pada skenario PB lebih besar dibandingkan skenario BaU, yaitu 23% pada tahun 2025 dan 32% pada tahun 2050. Angka tersebut sesuai dengan target yang tercantum dalam KEN maupun RUEN. Perbandingan bauran energi primer skenario PB pada tahun 2025 dan 2050 dapat dilihat pada Gambar 3.2.

Pada skenario RK, share bauran energi primer khususnya EBT akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 36% pada tahun 2025 dan 58% pada tahun 2050.

Penerapan campuran BBN yang tinggi (E85 dan B100) merupakan salah satu penyebab tingginya share EBT pada skenario RK. Penggunaan B100 diproyeksikan akan digunakan pada tahun 2050, yang memungkinkan tersedianya teknologi yang dapat memproduksi POME dengan luas lahan terbatas dan tingkat produksi tinggi. Perbandingan bauran energi primer skenario RK pada tahun 2025 dan 2050 dapat dilihat pada Gambar 3.3.

KEN mentargetkan penyediaan energi primer per kapita pada tahun 2025 dan 2050 masing-masing sebesar 1,4 TOE/kapita dan 3,2 TOE/kapita.

Hasil proyeksi penyediaan energi primer per kapita pada skenario BaU masih berada di bawah target KEN yaitu sebesar 1,1 TOE/kapita pada tahun 2025 dan 2,9 TOE/kapita pada tahun 2050.

Demikian pula penyediaan energi primer per kapita pada skenario PB dan RK pada tahun 2050 lebih kecil dari BaU, masing-masing 2,51 TOE/kapita dan 2,47 TOE/kapita. Kondisi ini disebabkan oleh asumsi pertumbuhan ekonomi pada KEN lebih besar dibandingkan asumsi pertumbuhan ekonomi pada ketiga skenario tersebut.

Proyeksi penyediaan energi primer per kapita untuk ketiga skenario dapat dilihat pada Gambar 3.4.

1. Penyediaan Minyak

Untuk memenuhi kebutuhan di masing-masing sektor dan pembangkit listrik sampai tahun 2050 diperlukan penyediaan minyak sebesar 146,6 MTOE (BaU) yang nilainya meningkat hampir 3 kali lipat dari penyediaan minyak di tahun 2018 yang besarnya hanya 54,8 MTOE.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan minyak pada skenario PB dan RK, diperlukan penyediaan minyak masing-masing sebesar 127,1 MTOE dan 106,4 MTOE.

Produksi minyak untuk ketiga skenario pada 2050 menunjukan tren penurunan, terutama dipengaruhi oleh rendahnya kegiatan eksplorasi migas dan rendahnya tingkat keberhasilan eksplorasi yang dilakukan oleh perusahaan minyak.

Disamping itu, iklim investasi migas yang kurang kondusif bagi pelaku usaha dan belum optimalnya penerapan teknologi Enhanced

Oil Recovery (EOR) juga mendorong penurunan produksi minyak.

Tren penyediaan minyak selama periode proyeksi terdapat pada Gambar 3.5

2. Penyediaan Gas

Berdasarkan hasil proyeksi, penyediaan gas sampai tahun 2050 akan mencapai 167,4 MTOE pada skenario BaU, naik 3 kali lipat dibandingkan kondisi tahun 2018.

Sedangkan untuk skenario PB dan RK, penyediaan gas masing-masing akan menjadi 154,2 MTOE dan 140,3 MTOE.

Sama halnya dengan minyak, cadangan gas di dalam negeri juga menunjukkan penurunan dengan belum ditemukannya cadangan gas baru, akibatnya berpengaruh terhadap penurunan produksi gas dari 75,4 MTOE tahun 2018 menjadi 66,3 MTOE pada tahun 2050 untuk ketiga skenario.

Dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan gas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pemerintah akan menghentikan ekspor gas setelah semua kontrak ekspor berakhir, sehingga pada tahun 2040 Indonesia tidak lagi menjadi eksportir gas.

Kebutuhan gas akan terus mengalami peningkatan terutama untuk sektor industri dan pembangkit listrik, sehingga mulai tahun 2020 diperlukan impor gas.

Pada tahun 2050, impor gas diproyeksikan akan mencapai 101,1 MTOE (BaU), 87,8 MTOE (PB), 74 MTOE (RK). Selain itu, impor LPG juga menunjukkan peningkatan dari 6,8 MTOE tahun 2018 menjadi 14,9 MTOE (BaU), 13,4 MTOE (PB) dan 11,4 MTOE (RK).

Perbedaan volume impor di masing-masing skenario tergantung dari asumsi substitusi LPG ke kompor listrik induksi dan substitusi LPG dengan DME. Gambaran lengkap tentang penyediaan gas sepanjang periode proyeksi dapat dilihat pada Gambar 3.6.

3. Penyediaan Batubara

Sebagai negara yang mempunyai cadangan batubara terbesar ke-5 di dunia (39,9 milliar ton), batubara masih menjadi andalan sumber energi terutama untuk pembangkit listrik dan sebagian untuk sektor industri.

Dengan demikian, seluruh penyediaan batubara dipenuhi dari produksi dalam negeri, kecuali beberapa jenis batubara berkalori tinggi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri baja.

Dalam upaya mengamankan pasokan dan meningkatkan pemanfaatan batubara domestik, maka sesuai RUEN, pemerintah membatasi produksi batubara pada level 400 juta ton/tahun sehingga mengakibatkan ekspor batubara akan semakin menurun.

Pada tahun 2050, ekspor batubara akan menjadi 44 MTOE (BaU), 55,8 MTOE (PB), 67,6 MTOE (RK) atau turun dari 170,3 MTOE pada tahun 2018.

Proyeksi perbandingan ekspor terhadap produksi batubara juga mengalami penurunan dari 64% pada tahun 2018 menjadi 18% (BaU), 23% (PB), 28% (RK) pada tahun 2050. Proyeksi penyediaan batubara dapat dilihat pada Gambar 3.7.

3. Penyediaan EBT

Sebagian besar EBT dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dan sisanya untuk sektor transportasi, industri, komersial dan sektor lainnya sebagai bahan baku campuran biodiesel dan bioetanol.

Penyediaan EBT bersumber dari panas bumi, air, surya, angin, biomasa, sampah, bioetanol dan biodiesel.

Selain untuk pembangkit listrik, penggunaan biomasa digunakan pula pada sektor industri sebagai pengganti batubara.

Pada tahun 2050, penyediaan EBT akan mencapai 275,2 MTOE (BaU), 264 MTOE (PB) dan 477 MTOE (RK). Melonjaknya penyediaan EBT pada skenario RK di tahun 2050 dipengaruhi oleh program pencampuran biodiesel yang sudah mencapai 100% dan bioetanol 85%. Gambaran lengkap penyediaan EBT terlihat pada Gambar 3.8.


Listrik

1.Permintaan listrik

Permintaan listrik selalu tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan jenis energi lainnya.

Pertumbuhan permintaan listrik, diproyeksikan mencapai 2.214 TWh (BaU), 1.918 TWh (PB), 1.626 TWh (RK) pada tahun 2050 atau naik hampir 9 kali lipat dari permintaan listrik tahun 2018 sebesar 254,6 TWh.

Laju pertumbuhan permintaan listrik rata-rata pada ketiga skenario sebesar 7% (BaU), 6,5% (PB) dan 6,0% (RK) per tahun selama periode 2018-2050.

Pola permintaan listrik untuk ketiga skenario selama periode proyeksi relatif sama, dengan porsi terbesar di sektor rumah tangga, kemudian sektor industri, sektor komersial, sektor transportasi dan sektor lainnya.

Pangsa permintaan listrik di sektor rumah tangga akan meningkat dari 49% tahun 2018 menjadi 58% (BaU), 60% (PB) dan 61% (RK) pada tahun 2050, walaupun sudah ada upaya penghematan energi dari beberapa peralatan seperti penggunaan inverter pada AC dan penggunaan lampu hemat energi (CFL).

Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan jumlah rumah tangga yang meningkat dari 67 juta tahun 2018 menjadi lebih dari 80 juta pada tahun 2050.

Selain itu, naiknya level pendapatan masyarakat mendorong naiknya penggunaan barang-barang elektronik seperti pendingin (AC), kulkas, mesin cuci, TV, termasuk kompor listrik induksi.

Khusus untuk peningkatan penggunaan AC didorong oleh faktor pemanasan global.

Sama halnya dengan sektor rumah tangga, peningkatan permintaan listrik sektor komersial juga dipengaruhi oleh pemakaian listrik pada AC dan lampu serta pemakaian LPG dan listrik untuk memasak khusus hotel dan restoran. Permintaan listrik di sektor komersial akan meningkat sekitar 7 kali lipat pada tahun 2050 menjadi 389 TWh (BaU), 305 TWh (PB) dan 255 TWh (RK).

Permintaan listrik di sektor industri akan meningkat dari 70 TWh pada tahun 2018 menjadi 521 (BaU) TWh, 436 TWh (PB) dan 352 TWh (RK) pada tahun 2050.

Permintaan listrik pada sektor industri paling banyak digunakan untuk industri logam, kimia, makanan dan tekstil.

Diluncurkannya roadmap industri Making Indonesia 4.0 dengan lima (5) teknologi utama yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing, akan mempengaruhi permintaan listrik di sektor industri yang semuanya membutuhkan listrik sebagai pasokan energinya.

Listrik di sektor transportasi digunakan untuk MRT, LRT, monorail, mobil listrik, motor listrik dan bus listrik.

Permintaan listrik sektor transportasi walaupun pangsanya paling kecil dibandingkan sektor lainnya, namun pertumbuhan rata- rata per tahun paling tinggi yaitu sekitar 9%, sejalan dengan dikembangkannya kendaraan listrik oleh industri dalam negeri mulai tahun 2025.

Pada tahun 2025, jumlah motor sebesar 2 juta unit dan mobil 2.000 unit serta terdapat 600 unit bis (skenario BaU).

Pada skenario PB, jumlah motor sebesar 2 juta unit, mobil 2.500 unit dan bus 4.500 unit. Sedangkan pada skenario RK, jumlah kendaraan listrik diasumsikan lebih besar yaitu 3 juta unit sepeda motor, 127 ribu unit mobil dan 4.500 unit bus.

Kenaikan yang terjadi pada jumlah bus di skenario PB dan RK dipengaruhi dari mulai meningkatnya penggunaan bus sebagai moda transportasi umum, walaupun jumlah motor dan mobil juga mengalami peningkatan. Perbandingan jumlah kendaraan listrik dapat dilihat pada Gambar 4.1

Total permintaan listrik di sektor transportasi (termasuk bus dan kereta listrik) akan naik menjadi 2,51 TWh (BaU), 2,50 TWh (PB) dan 7,11 TWh (RK) pada tahun 2050. Permintaan listrik per sektor ketiga skenario dapat dilihat pada Gambar 4.2.

Secara keseluruhan, peningkatan permintaan listrik dan jumlah penduduk berdampak pada peningkatan listrik per kapita. Permintaan listrik per kapita pada tahun 2025 akan mencapai 2.030 kWh/kapita (BaU), 1.892 kWh/kapita (PB) dan 1.834 kWh/kapita (RK).

Sedangkan permintaan listrik per kapita pada tahun 2050 akan mencapai 6.723 kWh/kapita (BaU), 5.824 kWh/kapita (PB) dan 4.935 kWh/kapita (RK). Kondisi ini masih berada di bawah target listrik per kapita yang terdapat dalam KEN yaitu 2.500 kWh/kapita pada tahun 2025 dan 7.500 kWh/kapita pada tahun 2050.

Perkembangan konsumsi listrik per kapita semua skenario dapat dilihat pada Gambar 4.3

2.Produksi listrik

Untuk memenuhi permintaan listrik yang naik sebesar 9 kali lipat dari tahun 2018, maka produksi listrik pada tahun 2050 akan mencapai 2.562 TWh (BaU), 2.167 TWh (PB) dan 1.838 TWh (RK) dengan asumsi bahwa kerugian dalam transmisi dan distribusi sekitar 10%.

Produksi listrik pembangkit berbahan bakar batubara masih tetap mendominasi pada masa mendatang, namun pangsanya terhadap total produksi listrik semakin menurun dari 57% di tahun 2018 menjadi 41% (BaU), 39% (PB), 32% (RK) pada tahun 2050.

Sebaliknya, pangsa produksi listrik dari pembangkit EBT terhadap produksi listrik akan meningkat dari 12,4% pada tahun 2018 menjadi 27% (BaU), 28% (PB) dan 63% (RK) pada tahun 2050.

Program pengurangan penggunaan BBM pada pembangkit listrik, mempengaruhi produksi listrik dari PLTD yang terus menurun dengan pangsa kurang dari 0,05% pada tahun 2050 untuk ketiga skenario. PLTD diprioritaskan untuk daerah terpencil dan pulau-pulau terluar. Produksi listrik per jenis energi untuk ketiga skenario dapat dilihat pada Gambar 4.4.

Pada tahun 2025, produksi listrik dari pembangkit EBT akan menjadi 154 TWh (BaU), 141 TWh (PB), 294 TWh (RK), terutama berasal dari PLTA, PLTP dan PLT Biomasa.

Pada tahun 2050, produksi listrik terbesar untuk skenario BaU berasal dari PLTS, PLT Biomasa dan PLTA. Hal ini dipengaruhi oleh potensi surya yang merata hampir di setiap wilayah, semakin murahnya harga komponen listrik dari PLTS serta adanya program solar-rooftop pada rumah mewah dan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

Selain itu, penggunaan cangkang sawit, sekam padi, jerami dan wood pellet semakin intensif untuk memasok bahan bakar PLT Biomasa. Sedangkan produksi panas bumi relatif stabil karena telah mencapai potensi maksimal mulai tahun 2025.

Pada tahun 2050, produksi listrik EBT skenario PB terbesar berasal dari PLTS yaitu 421,3 TWh (68%), diikuti PLTA dan PLTP dengan produksi listrik masing-masing sebesar 109,5 TWh (18%), dan 73,6 TWh (12%).

Besarnya produksi listrik dari PLTS disebabkan adanya penggunaan solar-rooftop dengan porsi 25% dari jumlah rumah mewah, dan juga dipengaruhi dari pembangunan industri baterai di beberapa provinsi guna menunjang produksi listrik PLTS.

Untuk menunjang produksi PLTA maupun PLTM/MH digunakan Pump Storage sehingga produksi listrik PLTA meningkat. Sedangkan produksi PLTP sudah mencapai puncaknya pada tahun 2030, dan pada 2050 produksi listrik PLTP akan menjadi 73,6 TWh (12%).

Pada skenario RK, produksi listrik dari PLTS tetap dominan diikuti oleh PLTA dan PLT Biomasa dengan produksi listrik masing-masing sebesar 529 TWh (53%), 166 TWh (17%) dan 157 TWh (16%).

Peningkatan produksi listrik dari PLTA dipengaruhi oleh upaya penurunan emisi sehingga produksi dari pembangkit batubara dan gas turun hampir 50% pada tahun 2050 jika dibandingkan dengan skenario BaU.

Turunnya produksi listrik pembangkit berbasis fosil tersebut mengakibatkan PLTA bersama dengan PLTS diproyeksikan menjadi baseload dengan didukung infrastruktur storage yang memadai.

Proyeksi produksi listrik dari pembangkit EBT untuk ketiga skenario terlihat pada Gambar 4.5.

3. Total Kapasitas Pembangkit

Pemilihan jenis pembangkit listrik untuk memproduksi listrik selama periode proyeksi didasarkan pada prinsip biaya penyediaan listrik terendah (least cost) atau cost effective.

Biaya penyediaan terendah dicapai dengan meminimalkan “net present value” yang terdiri dari biaya investasi, biaya bahan bakar, serta biaya operasi dan pemeliharaan.

Pemilihan jenis pembangkit listrik untuk skenario BaU, memberlakukan prinsip “least cost” tetapi juga mengakomodasi rencana penambahan kapasitas sesuai RUPTL 2019-2028 dengan status yang sudah masuk dalam tahap konstruksi dan studi kelayakan.

Total kapasitas pembangkit listrik pada skenario BaU tahun 2050 akan mencapai 552,5 GW dengan porsi terbesar berasal dari pembangkit EBT 258,9 GW, diikuti batubara dan gas masing- masing 152,5 GW dan 141 GW, serta sisanya dari minyak.

Pangsa kapasitas pembangkit listrik batubara akan semakin berkurang, sebaliknya pangsa kapasitas pembangkit EBT akan meningkat seperti terlihat pada Gambar 4.6.

Kapasitas pembangkit listrik pada tahun 2050 naik hampir 10 kali lipat dibanding kapasitas terpasang di tahun 2018. Pada tahun 2025, kapasitas pembangkit EBT terutama berasal dari PLTA (40%) dan PLTP (29%).

Kapasitas pembangkit PLTS akan mengalami pertumbuhan lebih cepat dengan semakin ekonomisnya harga listrik dari PLTS sehingga pada tahun 2050 mencapai 187 GW (72%) dari total kapasitas pembangkit.

Kapasitas pembangkit pada skenario BaU dapat dilihat pada Gambar 4.7

Kapasitas terpasang pembangkit listrik skenario PB pada tahun 2050 mencapai 580 GW, dengan pola komposisi kapasitas per jenis energi hampir sama dengan skenario BaU. Kapasitas pembangkit tersebut terdiri dari kapasitas pembangkit EBTn mencapai 340 GW, kapasitas pembangkit batubara 122 GW, kapasitas pembangkit gas 118 GW dan sisanya adalah kapasitas pembangkit minyak.

Pangsa kapasitas pembangkit listrik per jenis energi skenario PB dapat dilihat pada Gambar 4.8

Pada tahun 2025, kapasitas pembangkit EBT bersumber dari panas bumi dan surya, namun pada tahun 2050 seperti halnya skenario BaU, kapasitas pembangkit akan didominasi oleh PLTS sebesar 296 GW. Kapasitas terpasang pembangkit listrik EBT skenario PB dapat dilihat pada Gambar 4.9

Kapasitas terpasang pembangkit listrik skenario RK berbeda dengan skenario BaU dan PB. Pada tahun 2050, total kapasitas terpasang skenario RK mencapai 584 GW yang terdiri dari kapasitas pembangkit EBT sebesar 466 GW, kapasitas pembangkit batubara 96 GW, gas 23 GW dan sisanya kapasitas pembangkit minyak. Pangsa kapasitas pembangkit listrik skenario RK dapat dilihat pada Gambar 4.10.

Pada tahun 2025, total kapasitas pembangkit listrik terpasang mencapai 119 GW.

Dari total kapasitas tersebut, kapasitas pembangkit listrik EBT mencapai 58 GW yang mayoritas berasal dari biomasa dan panas bumi. Pada tahun 2050, total kapasitas pembangkit listrik EBT terpasang mencapai 578 GW yang terdiri dari PLTS 355 GW (61%), PLTA 42 GW (7%), PLT Biomasa 24 GW (4%) dan sisanya 45 GW bersumber dari pembangkit listrik EBT lainnya.

Untuk mendukung PLTS, diperlukan baterai 112 GW (18%).

Kapasitas terpasang pembangkit listrik EBT skenario RK dapat dilihat pada Gambar 4.11.


Emisi CO2

Peningkatan populasi dan taraf hidup masyarakat diikuti dengan peningkatan kebutuhan energi yang berdampak pada tingginya laju pertumbuhan emisi COapabila tidak diikuti dengan pemilihan jenis bahan bakar yang berkadar karbon rendah serta penggunaan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan.

Pelepasan emisi COyang dihasilkan dari pembakaran energi di pembangkit listrik, sektor transportasi, industri, komersial, rumah tangga, dan sektor lainnya ke atmosfer dalam jumlah tertentu akan berdampak terhadap pemanasan global. Untuk mengurangi penyebab pemanasan global dapat dilakukan melalui peningkatan efisiensi teknologi energi dan pemanfaatan sumber energi dengan kandungan rendah karbon.

Berdasarkan dokumen NDC yang disampaikan kepada United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), target emisi sektor energi pada tahun 2030 sebesar 1.355 juta ton COuntuk skenario CM1 (tanpa bantuan internasional) dengan target penurunan emisi 29% dari kondisi skenario dasar tahun 2010 sebesar 453,2 juta ton CO2eq. Sedangkan target emisi untuk skenario CM2 (dengan bantuan internasional) sebesar 1.271 juta ton CO2eq dengan target penurunan emisi 41% dari kondisi skenario dasar.

Target penurunan emisi COper sektor dapat dilihat pada Tabel 5.1

Dari hasil perhitungan emisi COberdasarkan metodologi IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), 2006, proyeksi total emisi pada tahun 2030 akan meningkat menjadi 912 juta ton CO2eq (BaU), 813 juta ton CO2eq (PB), 667 juta ton CO2eq (RK).

Dengan demikian, proyeksi emisi COketiga skenario tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan target emisi pada NDC untuk sektor energi.

Perkembangan emisi GRK ketiga skenario dapat dilihat pada Gambar 5.1.

Selain itu, indikator emisi per kapita menunjukkan peningkatan dari 1,7 ton CO2/ kapita pada tahun 2018 menjadi 6,4 ton CO2/kapita (BaU), 5,3 ton CO2/kapita (PB), 3,3 ton CO2/kapita (RK) pada tahun 2050, sejalan dengan meningkatnya emisi dan pertumbuhan penduduk.

Emisi GRK per kapita pada ketiga skenario dapat dilihat pada Gambar 5.2


Definisi

Baseline Data adalah informasi dasar yang dihimpun sebelum suatu program dimulai. Data ini kemudian digunakan sebagai pembanding untuk memperkirakan dampak program.

Biodiesel (B100/Murni) adalah produk Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau Mono Alkyl Ester yang dihasilkan dari bahan baku hayati dan biomassa lainnya yang diproses secara estrefikasi.

Bioetanol (E100/Murni) adalah produk etanol yang dihasilkan dari bahan baku hayati dan biomassa lainnya yang diproses secara bioteknologi.

Blended Finance adalah skema pembiayaan yang bersumber dari dana filantropi yang dihimpun dari masyarakat untuk memobilisasi modal swasta untuk investasi jangka panjang.

BOE (Barrel Oil Equivalentadalah satuan energi dengan nilai kalor disetarakan dengan satu barel minyak. Berdasarkan standar konversi IEA, 1 BOE setara dengan 0,14 TOE (lihat definisi TOE).

BOPD (Barrel Oil per Dayadalah satuan kapasitas kilang minyak, dimana menggambarkan kemampuan produksi kilang dalam 1 hari.

Btu (British Thermal Unitadalah satuan jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur 1 lb (1 pound) air sebesar 1oF (Fahrenheit) pada tekanan 14,7 psi (pound per square inch). (konversi ke MMSFC dan TOE lihat masing-masing definisi).

Cadangan Energi adalah sumber daya energi yang sudah diketahui lokasi, jumlah, dan mutunya.

Cadangan Terbukti adalah minyak, gas dan batubara yang diperkirakan dapat diproduksi dari suatu reservoir yang ukurannya sudah ditentukan dan meyakinkan.

Cadangan Potensial adalah minyak dan gas yang diperkirakan terdapat dalam suatu reservoir.

Elastisitas Energi adalah perbandingan antara laju pertumbuhan kebutuhan energi terhadap laju pertumbuhan ekonomi.

Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja yang dapat berupa panas, cahaya, mekanika, kimia, dan elektromagnetika.

Energi Baru adalah energi yang berasal dari sumber energi baru.

Energi Terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber energi terbarukan.

Energi Final adalah energi yang langsung dapat dikonsumsi oleh pengguna akhir.

Energi Primer adalah energi yang diberikan oleh alam dan belum mengalami proses pengolahan lebih lanjut.

Gas adalah golongan energi yang meliputi gas, produk hasil kilang gas (LPG, LNG) serta gas unconventional (CBM)

Gas Bumi (Natural Gas) adalah semua jenis hidrokarbon berupa gas yang dihasilkan dari sumur; mencakup gas tambang basah, gas kering, gas pipa selubung, gas residu setelah ekstraksi hidrokarbon cair dan gas basah, dan gas non hidrokarbon yang tercampur di dalamnya secara alamiah.

Intensitas Energi adalah jumlah total konsumsi energi per unit produk domestik bruto.

Minyak adalah golongan energi yang meliputi minyak bumi, kondensat, natural gas liquid (NGL), dan energi turunan dari minyak bumi (refinery gas, ethane, aviation gasoline, motor gasoline, jet fuels, kerosene, minyak diesel, minyak bakar, naphta, pelumas dan produk kilang lainnya).

Minyak Bumi adalah campuran berbagai hidrokarbon yang terdapat dalam fase cair dalam reservoir di bawah permukaan tanah dan yang tetap cair pada tekanan atmosfer setelah melalui fasilitas pemisah di atas permukaan.

MMSFC adalah sejumlah gas yang diperlukan untuk mengisi ruangan 1 (satu) juta kaki kubik, dengan tekanan sebesar 14,73 psi pada temperatur 60° F (Fahrenheit) dalam kondisi kering.

1 MMSCF setara dengan 1.000 Mmbtu.

Rasio Elektrifikasi adalah perbandingan jumlah rumah tangga berlistrik dengan jumlah rumah tangga total.

RON (Research Octane Numberadalah angka yang ditentukan dengan mesin penguji CFR F1 pada kecepatan 600 putaran per menit; pedoman mutu anti ketuk bensin pada kondisi kecepatan rendah atau beban ringan.

Skenario Business as Usual (BaU), adalah skenario yang menggunakan asumsi dasar pertumbuhan PDB realistik yang digunakan rata-rata 5,6% per tahun.

Skenario ini juga mengacu pada target – target yang terdapat dalam KEN dan RUEN, RIPIN 2015-2035 dan Renstra masing-masing Kementerian yang disesuaikan dengan realisasi saat ini.

Skenario Pembanguan Berkelanjutan (PB), adalah skenario yang mengunakan asumsi RUEN dengan asumsi pertumbuhan ekonomi dan populasi yang sama dengan skenario BaU.

Selain itu, juga mempertimbangkan target pemanfaatan biodiesel dan bioetanol sesuai Permen ESDM No. 12 Tahun 2015, yaitu masing- masing sebesar 30% dan 20% pada tahun 2025. Untuk tahun 2050, target pemanfaatan biodiesel dan bioetanol masing-masing diasumsikan mencapai 30% dan 50%. Penggunaan kendaraan listrik dan kompor listrik induksi diasumsikan lebih besar dibandingkan skenario BaU. Pertumbuhan jaringan gas rumah tangga diasumsikan 1 Juta Sambungan Rumah Tangga (SR)/tahun yang dimulai pada tahun 2020.

Skenario Rendah Karbon (RK), adalah skenario yang menggunakan asumsi penurunan emisi gas rumah kaca lebih besar dari yang ditargetkan pemerintah.

Skenario ini memberikan gambaran kontribusi Indonesia yang lebih besar dalam mendukung upaya global (sesuai persetujuan Paris) untuk mencegah kenaikan suhu bumi diatas 2 derajat celsius.

Pada skenario RK, target penggunaan biodiesel dan bioetanol tahun 2025 masih sama dengan skenario BaU dan skenario PB.

Untuk target penggunaan biodiesel meningkat menjadi 100% (B100) pada tahun 2050 dan bioetanol menjadi 85% (B85). Demikian juga pertumbuhan jaringan gas rumah tangga yang dioptimalkan lebih dari 1 juta SR mulai tahun 2020, penggunaan kendaraan listrik juga diasumsikan meningkat lebih tinggi dibanding skenario BaU dan skenario PB serta peningkatan penggunaan kompor listrik induksi.

TOE (Tonne Oil Equivalentadalah satuan energi dengan nilai kalor disetarakan dengan satu ton minyak. Berdasarkan standar konversi IEA, 1 TOE setara dengan 11,63 MWh tenaga listrik, 1,43 ton batubara, 39,68 MBtu gas atau 10.000 Mcal.

Transformasi adalah proses perubahan energi dari satu bentuk energi primer ke bentuk energi final. Proses transformasi dapat terjadi melalui proses kilang, pembangkit tenaga listrik, gasifikasi dan liquifaksi.


Daftar Singkatan

  • BaU  :  Business  as Usual
  • BBG  : Bahan Bakar Gas
  • BBM : Bahan Bakar Minyak
  • BBN  : Bahan Bakar Nabati
  • BOE  :  Barrel  Oil  Equivalent
  • BOPD  : Barrel Oil per Day
  • bph  : Barrel per hari
  • BPS  : Badan Pusat Statistik
  • CBM  : Coal Bed Methane
  • CO2  : Carbon Dioxide
  • COD  : Commercial of date
  • DEN  : Dewan Energi Nasional
  • DME  : Dimethyl Ether
  • EBT  : Energi Baru Terbarukan
  • ESDM  : Energi dan Sumber Daya Mineral
  • FSRU  : Floating Storage Regasification Unit
  • GDP  : Gross Domestic Product
  • GRK  : Gas Rumah Kaca
  • GW  : Giga Watt
  • GWh  : Giga Watt hour
  • HEESI  : Handbook of Economy and Energy Statistic Indonesia
  • IEA  :  International   Energy  Agency
  • IMF  :  International  Monetary Fund
  • IO  : Ijin Operasi
  • IPCC  : Intergovernmental Panel on Climate Change
  • IPP  : Independent Power Producer
  • KEN  : Kebijakan Energi Nasional
  • kWh  : Kilo Watt hour
  • LEAP  : Long-range Energy Alternatives Planning
  • LNG  : Liquified Natural Gas
  • LPG  : Liquified Petroleum Gas
  • LRT  : Light Rail Transit
  • Migas  : Minyak dan Gas
  • MMBTU  : Million Metric British Thermal Unit
  • MMSCF  : Million Standard Cubic Feet
  • MRT  : Mass Rapid Transit
  • MW  : Mega Watt
  • NDC  : National Determined Contributions
  • OEI  : Outlook Energi Indonesia
  • PB  : Pembangunan Berkelanjutan
  • PDB  : Produk Domestik Bruto
  • Permen  : Peraturan Menteri
  • Perpres  : Peraturan Presiden
  • PLN  : Perusahaan Listrik Negara
  • PLTA  : Pembangkit Listrik Tenaga Air
  • PLTB  : Pembangkit Listrik Tenaga Bayu
  • PLTBm  : Pembangkit Listrik Tenaga Biomasa
  • PLTD  : Pembangkit Listrik Tenaga Disel
  • PLTM  : Pembangkit Listrik Tenaga Mini hidro
  • PLTMH  : Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro
  • PLTS  : Pembangkit Listrik Tenaga Surya
  • PLTSa  : Pembangkit Listrik Tenaga Sampah
  • PLTP  : Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi
  • PLTU  : Pembangkit Listrik Tenaga Uap
  • PMK  : Peraturan Menteri Keuangan
  • PP  : Peraturan Pemerintah
  • PPU  : Private Power Utility
  • PV  : Photovoltaic
  • RDMP  : Refinery Development Master Plan
  • RENSTRA  : Rencana Strategis
  • RIKEN  : Rencana Induk Konservasi Energi Nasional
  • RIPIN  : Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional
  • RK  : Rendah Karbon
  • RPJMN  : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
  • RUEN  : Rencana Umum Energi Nasional
  • RUPTL  : Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik
  • TOE  : Tonnes of Oil Equivalent
  • TWh  : Tera Watt hour
  • TSCF  : Trillion Standard Cubic Feet
  • UNFCCC  : United Nations Framework Convention on Climate Change