Skip to main content

Mengukur Kelangkaan  Sumberdaya Alam 

Sumber : Baso, Ari >

Mengukur Kelangkaan Sumberdaya Alam

Para ahli dengan ilmu dan alat yang mereka miliki lebih mampu mengukur kuantitas atau volume suatu sumberdaya alam yang tersedia di  dalam bumi atau di permukaan bumi.

Namum demikian ahli ekonomi  dengan peralatan analisis yang mereka miliki juga harus dapat  mengetahui masih banyak atau tinggal sedikit sumberdaya alam tertentu  itu tersedia di dalam bumi atau di permukaan bumi, walaupun tidak dapat  menentukan volume atau jumlahnya secara pasti dalam ukuran tertentu. 

Seringkali ahli ekonomi hanya menyatakan sumberdaya alam itu langka  atau tidak; dan kelangkaan ini lebih berarti kelangkaan ekonomi dan  bukan kelangkaan fisik.  

Apakah yang dimaksud dengan kata "langka" itu ?

Para ekonom  sudah terbiasa mengartikan kata langka dengan keadaan di mana jumlah  barang yang diminta lebih banyak daripada jumlah barang yang  ditawarkan atau yang tersedia, dan dalam pasar persaingan sempurna  kelangkaan ini akan menyebabkan harga barang yang bersangkutan naik. 

Dalam kaitannya dengan sumberdaya alam, persediaan itu dihadapkan  pada tingkat konsumen sumberdaya alam, per tahun untuk memperkirakan  berapa lama lagi jumlah persediaan tersebut akan dapat dikonsumsi untuk  menopang kehidupan manusia. 

Persediaan sumberdaya alam kita artikan sebagai volume  sumberdaya alam yang sudah diketahui dan dapat diambil dengan  mendatangkan keuntungan pada tingkat biaya produksi dan tingkat harga  tertentu.

misal :
sejak Indonesia baru merdeka sudah diketahui  bahwa Indonesia memiliki pasir besi di pantat selatan Jawa Tengah, namun statistik mengenai pasir besi belum sempurna dan kita tidak  mengetahui berapa persediaan (stock) pasir besi tersebut, baru setelah  tahun 1970-an dengan adanya nilai ekonomi karena Jepang sanggup  membeli pasir besi tersebut. maka pasir besi itu bemilai sebagai  sumberdaya alam dan perlu diperhitungkan persediaannya.

Demikian pula  batu dan pasir sebelum digunakan sebagai bahan bangunan belum  mempunyai nilai dan jumlah yang ada belum diketahui persediaannya. 

Selanjutnya persediaan dapat ditingkatkan baik dengan penemuan  deposit baru ataupun dengan teknologi baru yang dapat mengubah  sumberdaya alam yang tidak ekonomis menjadi sumberdaya alam yang  ekonomis.

Sayangnya memang sulit untuk mengetahui volume fisik.  lokasi. maupun kualitas sumberdaya alam secara tepat, sehingga sulit  pula untuk menentukan derajat kelangkaan sumberdaya alam tersebut. 

Untuk mengetahui langka tidaknya sumberdaya alam di bumi ini,  para ahli ekonomi menggunakan berbagai cara atau alat pengukur dalam bidang ilmunya, yaitu dengan

  • melihat harga barang sumberdaya alam dan nilai sewa ekonomis atau economic rent (Fisher), atau
  • melihat satuan  biaya produksi barang sumberdaya alam itu (Barnett dan Morse), dan dapat pula dengan
  • melihat royalty (economic rent) maupun elastisitas  substitusi. . 

Barnett dan Morse setuju dengan pendapat Malthus dan Ricardo bahwa peningkatan produksi pertanian akan memerlukan  dosis kapital dan tenaga kerja yang lebih banyak, kemudian mereka  menerapkannya pada sumberdaya mineral.

Fisher mengetengahkan  "scarcity rent atau economic rent" yaitu nilai satu satuan sumberdaya alam  yang masih ada di dalam bumi, sebagai alat pengukur kelangkaan yang  lain. Hipotesis yang dikemukakan ialah :

apabila ketiga alat pengukur itu  (harga kornoditi, biaya produksi dan rent) menjadi Iebih tinggi, maka dapat  dikatakan bahwa tersedianya sumberdaya alam sudah menjadi semakin  langka.


Pengukuran Ekonomi Terhadap Kelangkaan 

Biaya Produksi.

Baik ekonom klasik (Ricardo) maupun Neo  Klasik (Jevons) melihat bahwa peningkatan biaya produksi berhubungan  dengan semakin berkurangnya persediaan sumberdaya alam. Memang  barang sumberdaya alam sudah terus menerus diambil dari bumi ini.  Barnett dan Morse telah meneliti pola perkembangan biaya produksi untuk  komoditi ekstraktif sepanjang sejarah perkembangan industri di Amerika  Serikat. 

Barnett dan Morse memulai studinya dengan melihat doktrin Klasik tentang meningkatnya kelangkaan ekonomis akan sumberdaya  alam. Pada umumnya orang percaya bahwa sumberdaya alam secara ekonomis memang langka, dan dengan berkembangnya waktu  sumberdaya alam itu menjadi semakin langka, dan ini akan mengganggu  kehidupan manusia dan pertumbuhan ekonomi.

Namun dalam studi  Barnett dan Morse itu, dikemukakan bahwa teori Klasik mengenai  meningkatnya kelangkaan sumberdaya alam itu tidak dapat diterima,  kecuali dalam hal yang sangat terbatas atau tertutup. 

Barnett dan Morse membuat hipotesis tentang kelangkaan  sumberdaya alam yaitu bahwa Sumberaaya alam itu semakin langka bila:

a). Biaya riil persatuan output meningkat terus se!ama periode  pengambilan.  

b). Biaya kornoditi yang diambil relatif lebih tinggi daripada biaya produksi   kornoditi lain. 

c). Harga kornoditi yang diambil relatif lebih tinggi daripada harga   komoditi lain.

Ada beberapa alasan mengapa sumberdaya aiam tidak menjadi  semakin langka ialah: 

a). Karena adanya barang substitusi bagi sumberdaya alam yang terus  menerus diambil dan semakin sedikit jumlahnya dengan sumberdaya  alam yang masih berlimpah adanya. Sebagai contoh adalah  alumunium menggantikan copper, biji-bijian menggantikan daging,  plastik menggantikan kulit, dan serat sintetis menggantikan serat  alami. 

b) Karena adanya penernuan baru dengan dipakainya metode ekspiorasi  baru, seperti metode geofisik, geokemis dan satelit. 

c) Karena ada peningkatan dalam impor mineral dan metal dari negara  lain. Dengan adanya perbaikan di bidang transportasi telah  rnemungkinkan daerah-daerah yang jauh dari lokasi sumberdaya aiam  mampu bersaing secara ekonomis. 

d) Karena ada peningkatan pengetahuan teknik yang berguna bagi  ekspiorasi, pengambilan dan pengangkutan sumberdaya aiam,  sehingga produksi dapat bersifat besar-besaran dan biaya produksi  persatuan dapat ditekan. 

e) Adanya kemungkinan pemakaian ulang (recycling). Sebagai misal  konsumsi Amerika Serikat yang berasal dari barang bekas adalah: besi  37%, tembaga 20%, aluminium 10%, nikel 35%. 

Di samping itu Barnett dan Morse juga menyatakan bahwa dalam sejarah Amerika Serikat, setiap generasi selalu meninggalkan warisan  untuk generasi berikutnya yaitu keadaan tersedianya sumberdaya alam  dengan kemampuan produksi yang semakin baik.

Hal ini memang  dthasiikan oleh adanya akumulasi pengetahuan, kemajuan ilmu  pengetahuan dan teknologi yang semuanya dapat mengimbangi  peningkatan biaya produksi karena semakin berkurangnya sumberdaya  alam. Namun itu semua bukan karena kebetulan, tetapi karena adanya  desakan untuk kemajuan pengetahuan, campur tangan pemerintah, serta perubahan mekanisme yang sifatnya menempel dalam sistim  perekonomian dan masyarakat yang ada. 

Sebenarnya Barnett dan Morse rnengajukan dua macam hipotesis,  yaitu hipotesis kuat dan hipotesis lemah.

Hipotesis kuat meyatakan bahwa  biaya riil per satuan barang-barang ekstraktif akan meningkat dengan  berkembangnya waktu karena adanya keterbatasan dalam jumlah  maupun kualitas sumberdaya alam.

hipotesis lemah  menyatakan bahwa meningkatnya kelangkaan sumberdaya alam  cenderung meningkatkan biaya produksi riil, tetapi peningkatan ini lebih  cepat daripada kekuatan yang akan menekan kenaikan biaya karena  adanya perubahan teknik dan kekuatan ekonomi lainnya.

Harga Barang Sumberdaya Alam.

Kelangkaan sumberdaya alam dapat dilihat dari harga barang sumberdaya yang semakin  meningkat maupun dilihat dari "royalty" atau "rent". Rent adalah harga bayangan satu satuan barang sumberdaya dalam persediaan (stock).

Bila  seseorang tertarik pada "kelangkaan" maka "rent" lebih tepat sebagai alat  pengukurnya. Namun bila seseorang berminat untuk mengetahui  banyaknya pengorbanan dalam memperoleh barang sumberdaya alam,  maka harga lebih tepat sebagai indikatornya karena harga sudah  mencakup biaya? produksi dan rent..

Selanjutnya karena rent sulit untuk  diamati maka "harga" lebih banyak dipakai sebagai indikator baik untuk  melihat kelangkaan maupun pengorbanan guna menghasilkan barang  sumberdaya alam.

Hal ini memberikan pengertian kepada kita bahwa keadaan sumberdaya alam menjadi semakin langka. Bagaimana dengan  perkembangan harga minyak antara tahun 1970 dan tahun 1980-an.  Harga minyak yang melonjak tinggi adalah karena kekuatan pasar dan  sisi proa'usen (OPEC).

Namun bila sumberdaya alam non minyak saja  yang diperhatikan masih juga dapat disimpulkan adanya kelangkaan  sumberdaya alam antara tahun 1969 - 1979.

Jadi tampaknya harga-harga barang sumberdaya mineral memiliki  pola perkembangan harga seperti huruf "U”, yaitu mula-mula tinggi  kemudian menurun lalu naik lagi. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya  penemuan baru dan kemajuan teknologi yang berakibat menekan biaya  produksi dan royalty. Setelah itu penemuan baru semakin sulit dan biaya  produksi juga tidak dapat turun terus, sehingga harga-harga akan naik  kembali.

Karena penemuan baru dan perkembangan teknoiogi mempengaruhi tingkat harga, maka kedua hal tersebut juga mempengaruhi royalty secara tidak langsung. Tetapi harga atau rent selalu mengalami  penyimpangan karena harga-harga yang diharapkan di masa datang  sangat mempengaruhi harga saat ini. 

Seperti halnya dengan pakar lain, Brown dan Field juga  mencoba mempeiajari dan membandingkan alat analisis tersebut dan  mencari mana yang terbaik di antara ketiganya untuk mengetahui langka  tidaknya persediaan sumberdaya alam itu, diantaranya :

Biaya rata-rata atau biaya persatuan yang dipakai oleh Barnett dan  Morse daiam mengukur kelangkaan sumberdaya alam merupakan  indikator yang meragukan karena hal-ha! berikut: 

Daiam dunia yang berkembang terus, biaya rata-rata tidak tepat  digunakan untuk mengukur kelangkaan yang semakin meningkat  karena tingkat teknologi berkembang terus. 

Bahwa biaya persatuan tidak memperhitungkan biaya-biaya peng ambilan sumberdaya di masa datang sebagai akibat dari  meningkatnya kelangkaan itu sendiri. 

Biaya persatuan tidak dapat rnenjadi indeks pengukur yang tepat,  karena biaya pengambilan di masa datang tidak dapat diperhitungkan di sini.

Kemajuan teknologi mengalihkan tanda-tanda keiangkaan sumber daya alam yang ditunjukkan oleh harga riil barang sumberdaya.  Sebagai misal pada akhir abad ke XIX kayu menjadi langka, tetapi  kemajuan teknologi telah dapat menjamin kestabilan harga barang. 

Harga riii tidak menunjukkan adanya kecende-rungan semakin  langkanya sumberdaya afam yang memiliki sumberdaya pengganti  (subtitusi). 

Harga riil sumberdaya dapat meningkat ataupun menurun, yang  berarti menunjukkan adanya kelangkaan atau berkurangnya  kelangkaan, tergantung pada harga mana yang dipakai untuk  membuat angka indeks (price deflator). Oleh karena itu harga  barang sumberdaya aiam juga merupakan alat pengukur yang  kurang jelas.

Nilai sewa dari sumberdaya alam (rental rate) atau nilai sumberdaya  alam di tempatnya (in situ resources), merupakan alat pengukur yang  ketiga terhadap kelangkaan sumberdaya alam. Nilai sewa ini lebih  tepat menggambarkan kelangkaan sumberdaya alam daripada dua  cara yang disebut sebelumnya. Nilai sewa (economic rent)  sumberdaya alam pada umumnya meningkat dalam beberapa puluh  tahun yang terakhir, tetapi biaya produksi dan harga barang justru  menurun, khususnya untuk kayu.

Namun demikian ada beberapa keberatan terhadap alat pengukur  ini, di antaranya yaitu: 

a) Sulit untuk mendapatkan data nilai sewa ekonomis dari sumberdaya  alam, karena nilai sewa sumberdaya alam itu tidak praktis dalam  jangka pendek. 

b) Nilai sewa lebih memperkirakan kelangkaan sumberdaya alam yang  semakin meningkat dalam arti ekonomi, tetapi berkurangnya  sumberdaya alam secara fisik belum tentu sejalan dengan kenaikan  nilai sewa sumberdaya alam sebagai cermin dari kelangkaan  ekonomis. 


Selanjutnya rnasih ada kelemahan lain yang dimiiiki oleh harga barang sumberdaya alam dan scarcity rent sebagai berikut:

Sebagian sumberdaya alam diusahakan untuk memenuhi kepentingan  umum, sehingga harga pasar tia'ak mencerminkan penilaian yang  sesungguhnya terhadap sumberdaya alam itu. 

Tidak ada "future market" untuk sumberdaya alam, sehingga tingkat  harga dimasa yang akan datang har.ya ditentukan oleh harapan saja  (expectation). 

Sumberdaya alam mempunyai aspek barang publik, yang peng konsumsiannya tidak harus mengeluarkan orang yang tidak sanggup  membayar (exclusion principle tidak berlaku), dan kalau barang itu  dikon-sumsi tidak mengurangi yang tersedia untuk dikonsumsi orang  lain (rivalry in consumption tidak berlaku), sehingga harga pasar  kurang dapat mewakili. 

Sebagai upaya selanjutnya, Brown dan Field mengajukan sebuah alat  lagi yaitu dengan melihat elastisitas subtitusi antara faktor-faktor produksi  khususnya kapital dan tenaga kerja apabiia terciapat kelangkaan  sumberdaya aiam.

Jadi dengan melihat kemudahan bagi faktor produksi  lain dalam menggantikan sumberdaya alam yang relatif semakin langka.  Semakin berkurangnya sumberdaya alam sebenarnya tidak perlu  ditakutkan asalkan ada kemudahan untuk menggantikan sumberdaya yang semakin langka itu dengan sumberdaya lain yang lebih banyak  jumlahnya.

Jadi dalam hal ini sumberdaya alam itu tidak langka selama mudah dalam mencarikan penggantinya.

Oleh karena itu tampaknya  ukuran kelangkaan itu dapat dilihat dari elastisitas substitusinya yang  mencerminkan tanggapan daiam perubahan penggunaan sumberdaya  alam dan sumberdaya penggantinya terhadap perubahan harga. 

Sebagai kesimpulan mengenai kebenaran dari alat pe-ngukur ini perlu dikaji bagaimana ketelitian dari alat pengukur tersebut. Pendekatan  dengan biaya produksi, maupun scarcity rent harus mengingat kondisi  pasar yang ada; khususnya apakah mekanisme pasar dapat bekerja  secara sempurna, tidak ada eksternalitas (externality), dan tidak ada  campur tangan pemerintah. 

Jadi dapat kita simpulkan bahwa pendekatan secara fisik maupun  secara ekonomis sama-sama memiliki kelemahan.

Pendekatan secara  fisik tidak memiliki kepastian mengenai besarnya persediaan, sedangkan  pendekatan secara ekonomis memiliki kelemahan yaitu bila mekanisme  pasar tidak dapat bekerja secara sempurna. Oleh karena itu masih sulit  unluk memastikan kondisi dari sumberdaya alam itu, apakah masih  melimpah aiau sudah langka adanya.