Skip to main content

Indikator Kelangkaan Sumber Daya Alam

Sumber : ardra.biz >

Pengertian Kelangkaan Sumber Daya . 

Kelangkaan dapat diartikan sebagai
suatu kondisi ketika kebutuhan manusia sangat tidak terbatas sementara sumber daya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sangat terbatas jumlahnya

Beberapa Sumber daya diantaranya adalah
sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya modal, dan serta wirausaha (entrepreneur).


Kelangkaan Sumber Daya Alam

Kelangkaan sumber daya alam dapat diartikan
terbatasnya persediaan sumber daya yang terkandung di alam, baik sumber daya biotik (hewan dan tumbuhan) maupun sumber daya abiotik (tanah, udara, barang tambang, air, dan iklim).

Contoh Sumber Daya Alam adalah
Barang tambang, batubara, perak, emas, minyak, kayu, rempah, dan sebagainya


Kelangkaan Sumber Daya Manusia

Kelangkaan sumber daya manusia adalah sulitnya ditemukan manusia yang berkualitas, baik dari segi pengetahuan maupun keahlian yang mampu menjalankan kegiatan ekonomi.

Contoh Sumber Daya Manusia
 adalah Manusia yang memiliki keahlian, keterampilan, akhlak baik, kekuatan fisik baik.


Kelangkaan Sumber Daya Modal

Sumber daya modal adalah segala sumber daya hasil buatan manusia yang dapat digunakan untuk mempermudah terlaksananya proses produksi. Jadi

Modal adalah
segala yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa. Modal dapat meliputi uang, teknologi, peralatan, mesin-mesin, tanah, informasi, dan sebagainya.

Contoh Sumber Daya Modal adalah geding, mesin, saham, hak cipta, dana uang,

Kelangkaan sumber daya modal berarti langkanya sumber sumber modal seperti langkanya kemampuan membuat sumber yang dapat digunakan untuk produksi seperti mesin, Gedung tanah dan sebagainya.


Kelangkaan Sumber Daya Wirausaha

Sumber daya kewirausahaan (entrepreneurship) adalah factor produksi yang tugas dan fungsinya mengelola dan menggabungkan faktor produksi (alam, tenaga kerja, dan modal) untuk menghasilkan barang dan jasa kebutuhan manusia.

Kelangkaan sumber daya wirausaha merupakan sedikitnya orang yang berpikir kreatif dan inovatif. Akibatnya sumber daya-sumber daya ekonomi yang ada tidak dapat dikelola secara maksimal karena kurangnya kemampuan menjalankan gagasan kreatif tersebut.

Contoh Sumber Daya Wirausaha adalah seorang wirausaha yang berhasil adalah Bill Gates penemu DOS (Disc Operating System) dan pendiri Microsoft, perusahaan perangkat lunak komputer yang sangat terkenal. Di Indonesia sendiri banyak ditemukan wirausaha sukses, seperti Bob Sadino (Pengusaha Retail).

Pada dasarnya sumber daya ekonomi yang terdapat dimuka bumi sangat beragam atau memiliki banyak jenisnya. Namun demikian, Sumber daya ekonomi tersebut bersifat langka atau terbatas. Selain itu tiap daerah mungkin memiliki jenis dan jumlah yang tidak sama.


Penyebab Terjadinya Kelangkaan Sumber Daya Alam

Yang menjadi perhatian dalam memenuhi kebutuhan adalah bahwa manusia memiliki kebutuhan yang tidak terbatas, sedangkan barang untuk pemenuhan kebutuhan terbatas. Keadaan ini akan menjadi sebuah keadaan yang dinamakan dengan kelangkaan.

Dari  kenyataan tersebut, munculah inti persoalan ekonomi, yaitu bagaimana sumber daya yang jumlahnya terbatas tersebut dapat memenihi  kebutuhan manusia yang beraneka ragam.

Faktor Penyebab Kelangkaan Sumber Daya

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan sumber daya menjadi langka atau terbatas. Sebab – sebabnya antara lain adalah:

Perbedaan Letak Geografis
Sebenarnya, Sumber daya alam yang ada tidak tersebar secara merata di muka bumi. Ada daerah yang memiliki minyak berlimpah, namun daerah lainnya tidak.

Ada daerah yang sangat subur, di daerah lainnya begitu gersang.

Perbedaan kondisi ini dapat menyebabkan kelangkaan sumber daya alam. Sehingga, masyarakat perlu pengorbanan yang lebih besar untuk mendapatkan sumber daya yang tidak terdapat di daerahnya.

Misalnya, di daerah pegunungan berkapur sumber daya air sulit ditemukan. Pada musim kemarau, penduduknya harus mencari atau membeli air. Hal ini Berbeda dengan masyarakat di dataran rendah yang dengan mudah memperoleh air dari sumur.

Pertumbuhan Penduduk Terlalu Cepat
Pertumbuhan penduduk yang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan produksi barang dan jasa akan menyebabkan terjadinya kesenjangan antara kebutuhan dibandingkan persediaan barang dan jasa.

Gejala ini sudah lama menjadi perhatian seorang ekonom bernama Thomas Robert Malthus. T. R. Malthus mengamati bahwa pertumbuhan manusia jauh lebih cepat jika dibandingkan laju pertumbuhan produksi pertanian.

Kemampuan Faktor Produksi
Kemampuan faktor produksi untuk proses pembuatan barang dan jasa memiliki beberapa hambatan dan keterbatasan.

Misalnya, tenaga kerja memerlukan waktu untuk istirahat, terkadang  sakit, ataupun sesekali harus cuti. Selain itu, kerja mesin produksi memiliki keterbatasan dari desain baik kapasitas maupun daya tahan operasionalnya.

Kemajuan Teknologi yang Tidak Sama
Kemajuan dan Perkembangan teknologi di berbagai negara tidak selalu sama.
Di negara – negara maju, perkembangan teknologi terjadi cukup cepat.
Sedangkan di negara berkembang, perubahan kebutuhan akan barang dan jasa jauh lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan teknologinya.
Hal ini diduga akibat adanya kecenderungan masyarakat yang suka menyontek gaya hidup dari negara maju.

Bencana Alam
Walaupun  bencana alam merupakan faktor yang berada di luar perkiraan manusia.
Namun, demikian, bencana alam sering terjadi karena ulah manusia yang kurang memperhatikan keseimbangan alam.Manusia eksploitasi kekayaan alam tanpa mengindahkan masalah kelestariannya.
Bencana alam cenderung rusak sumber daya yang ada.
Terjadi  korban jiwa dan rusaknya berbagai sumber daya ekonomi seperti bangunan usaha dan mesin – mesin produksi.
Untuk membangun atau mengadakan kembali sumber daya yang rusak akibat bencana alam, membutuhkan waktu yang relatif lama dengan modal yang cukup besar.

Eksplorasi Sumber Daya Alam Berlebihan
Adanya eksploitasi manusia terhadap sumber daya alam yang meng akibatkan kerusakan.
Misalnya, penebangan hutan yang tidak disertai dengan upaya-upaya perbaikan atau penanaman kembali


Indikator-Indikator Kelangkaan Sumber Daya Alam dan Energi.[3]

Sumber : sucisulastri96 >

Indikator kelangkaan bisa berwujud fisik misalnya melalui konsep cadangan, maupun indikator ekonomi seperti harga, sewa dan biaya produksi.

Kelangkaan yang semakin mengancam yang dibuktikan dengan indikator kelangkaa memaksa orang untuk menghindari atau paling tidak memperlambat terjadinya kelangkaan. Berbagai inovasi teknologi dipergunakan untuk maksud tersebut dan terbukti cukup berhasil

Indikator Fisik Kelangkaan Sumber Daya Alam dan Energi
Pengetahuan tentang cadangan belum memungkinkan kita mengetahui apakah cadangan tersebut banyak atau sedikit, makin langka atau tidak.
Untuk itu cadangan lebih sring dibandingkan dengan tingkat penggunaan seperti produksi tahunan atau tingkat konsumsi sehingga bisa dihitung berapa lama cadangan akan mampu memberikan pasokan kebutuhan sumber daya alam dan energi.
Cadangan bersifat dinamis sebagai jumlah tertentu jumlah sumber daya alam dan energi yang bisa di produksi secara menguntungkan pada harga sekarangdan tingkat teknologi sekarang.

Indikator Ekonomi Kelangkaan Sumber Daya Alam dan Energi

indeks yang termasuk ke dalam indikator ekonomi kelangkaan sumber daya alam dan energi, yaitu:

1. Harga Komoditi Sumber Daya Alam dan Energi

Isu penting yang menyangkut penggunaan harga sebagai indikator kelangkaan sumber daya alam dan energi antara lain:

pertama, perubahan yang terukur melalui harga merupakan konsep ekonomi bukan konsep fisik. Kadang-kadang harga tidak mengalami kenaikan dengan langkanya suatu sumber dadya alam dan energi secara fisik, misalnya saja pada kasus sumber daya dan energi milik bersama, adanya substitusi hampir sempurna, dan mungkin juga disebabkan perbaikan teknologi pemetikan hasil. 

Kedua, menyangkut pada tahap proses pemanfaatan sumber daya alam dan energi diukur kelangkaannya melalui gerakan harga, terutama dalam kaitannya dengan kemungkinan substitusi antar faktor produksi. Misalnya pada tahap penambangan, substitusi modal dan tenaga kerja berakibat lebih banyak bahan tambang bisa diangkat termasukbahan tambang kelas di bawahnya. Sedangakan pada tahap pengolahan, substitusi tersebut terjadipada fase transportasi, peletisasi, pembakaranbahan tambang dan lainnya. Ketiga, berkaitan dengan indeks harga sebagai ukuran kelangkaaan; kadang-kadang perubahan harga tidak mencerminkan kelangkaan disebabkan perubahan tersebut muncul karena adanya peraturan-peraturan baru dari penguasa.

Dari sudut  empiris beberapa model ekonometri dan trend telah digunakan VK Smith (1976), Barnet (1979) dan lainnya, untuk melihat kelangkaan dari segi harga.

Dari berbagai pengamatan tersebut Fisher (1981) menyimpulkan bahwa harga sumber daya alam dan energi, paling tidak untuk sumber daya alam dan energi yang habis nampanya mengikuti pola bentuk U. >> Pada mulanya harga turun dengan adnya penemuan-penemuan baru dan penambahan teknologi mampu mengurangi biaya. Namun setelah itu penemuan-penemuan makin jarang dan biaya tidak bisa terus ditekan dan harga mulai naik lagi setelah mencapai titik terendah sebelumnya.

2. Sewa

Sewa adalah harga bayangan dari setiap unit sumber daya alam dan energi dalam bentuk stok atau besarnya nilai sekarang stok yang berkurang pada setiap unit pengammbilan sumber daya alam dan energi. Sayang sewa sangat sulit diperoleh. Kalaupun terlebih mencerminkan sewa Ricardian atau sewa berdasar perbedaan kulaitas tanah. Disamping itu, sewa kurang bisa mencerminkan kelangkaan karena tidak adanya “future market” dan sifat milik umum berbagai jenis sumber daya alam dan energi.

3. Biaya Produksi

Biaya produksi merupakan salah satu bagian dari keseluruhan biaya dalam pemanfaatan sumber daya alam dan energi. Barnett dan Morse (1963) menggunakan biaya produksi per unit untuk perumusan hipotesis kelangkaan dan

hipotesis kelangkaan lemah untuk melihat apakah memang telah terjadi kelangkaan sumber daya alam dan energi.

Hipotesis kelangkaan kuat menyatakan telah terjadi kenaikan biaya per unit ril hasil ekstraktif. Sedangkan hipotesis kelangkaan lemah menyatakan telah terjadi kenaikan biaya per unit hasil ekstraktif dibanding biaya per unit hasil bukan ekstraktif.

Sektor ekstraktif yang dimaksudkan adlaah penjumlahan sektor-sektor pertanian, kehutanan, mineral dan perikanan. Hasil pengamatan Barnett dan Morse menunjukkan hanya sektor kehutanan yang nyata-nyata menunjukkan kenaikan biaya atau hipotesis kelangkaan kuat dan hipotesis kelangkaan lemah untuk sektor kehutanan tidak ditolak.