Ekonomi Sumber Daya Alam

3PEK48017 : 3EKO49118 | Pendidikan Ekonomi : Ilmu Ekonomi - FE UNIMED

P01 & 02

P01 & 02

Sumber Daya Alam

Sumber : studiobelajar.com >

Pengertian Sumber Daya Alam

Dalam memenuhi kebutuhannya, makhluk hidup tentunya sangat bergantung pada kekayaan alam di bumi.

Kekayaan alam ada yang berwujud sehingga dapat diolah oleh manusia, namun juga ada yang tidak berwujud sehingga tidak perlu diolah terlebih dahulu. Kekayaan alam ini lah yang disebut dengan sumber daya alam.

Pada hakikatnya, sumber daya alam merupakan semua bahan yang ditemukan makhluk hidup di alam yang dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan hidupnya.


Jenis-jenis Sumber Daya Alam

jenis dan contoh sumber daya alam

Sumber gambar: helpsavenature.com


Berdasarkan Sifat Kelestarian

1. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources)

Ciri-ciri:

 

2. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources)

Ciri-ciri:

 

3. Sumber daya alam yang tak akan habis (continuous atau flow resources)
Ciri-ciri:


Berdasarkan Jenis

  1. Sumber daya alam hayati atau biotik yang berasal dari kehidupan (makhluk hidup, misalnya hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme
  2. Sumber daya alam nonhayati atau abiotik yang berasal dari benda mati (bukan makhluk hidup), misalnya batuan, tanah, angin, air, dan barang tambang

Berdasarkan Penggunaan

  1. Sumber daya alam penghasil bahan baku digunakan untuk menciptakan benda lain dengan nilai guna yang lebih tinggi, misalnya hasil hutan dan lain – lain
  2. Sumber daya alam penghasil energi digunakan energinya untuk memasak, menggerakkan kendaraan, ataupun mesin industri, misalnya bahan bakar minyak, batu bara, gas alam, dan lain-lain

Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Hal yang harus diperhatikan dalam pemanfaatan sumber daya alam, yaitu sebagai berikut.

  1. Adanya faktor keterbatasan akan sumber daya alam
  2. Penyebaran sumber daya alam tidak merata
  3. Sumber daya alam ada yang dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui

Prinsip Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Pemanfaatan sumber daya alam harus selaras, serasi, dan seimbang dengan fungsi lingkungan hidup. Dalam hal ini diperlukan adanya ekoefisiensi (ekonomi efisiensi) dengan memperhatikan hubungan ekologis untuk mengurangi kerugian bagi keberlangsungan pembangunan maupun ekosistem.

Adapun prinsip pemanfaatan sumber daya alam adalah sebagai berikut.

  1. Selektif

Selektif dilakukan dengan membuat perancangan yang matang dalam menggunakan sumber daya alam karena harus sesuai kebutuhan.

  1. Kelestarian

Sumber daya alam memang digunakan dalam jangka waktu yang panjang sehingga perlu terpelihara kelestariannya.

  1. Penghematan

Seperti halnya selektif, dalam menggunakan sumber daya alam membutuhkan perancangan yang matang sehingga tidak terjadinya pemborosan yang akan menganggu kuantitas/kualitas dari sumber daya alam.

  1. Memperbaharui

Adapun kegiatan yang dapat dilakukan untuk memperbaharui sumber daya alam adalah reboisasi, penangkaran hewan/tumbuhan, penanaman ladang secara bergilir, dan pengolahan tanah pertanian yang baik.


Contoh pemanfaatan sumber daya alam

pemanfaatan sumber daya alam

Sumber gambar: medium.com/@aspeninstitute

1. Bahan tambang

2. Bahan penghasil energi

3. Pertambangan Mineral Industri

P01 & 02

Perananan Sumber Daya Alam dalam Pembangunan Ekonomi

Sumber : Baso, Ari >

Konsep Sumber Daya

Sumber daya ekonomi seperti yang dijelaskan oleh Mauzon  (dalam Lating, 1997), pada dasarnya dibagi dalam tiga bagian (yang  sering dikenal sebagai faktor produksi utama) dalam ekonomi.
Ketiga  faktor sumberdaya tersebut sebenarnya bisa diperluas dengan faktor  keempat, yaitu manajemen

  1. Natural Resources atau Non Made Resources Sumber daya ini adalah sumber daya yang tidak bisa diciptakan  oleh manusia. Keberadaan sumber daya ini melalui proses  alamiah, artinya hanya dengan proses alami sumber daya ini dapat dihasilkan. Oleh karena itu sumber daya ini sering disebut  dengan sumber daya alam.

    Contohnya adalah tanah, sumber  daya energi, material, bahan mineral, dan sebagainya.
  2. Human Resources Human resources adalah sumber daya yang berasal dari diri  manusia yang bisa berperan sebagai faktor produksi. Maksudnya  adalah yang melihat manusia tidak hanya sebagai konsumen  akan tetapi juga sebagai produsen
  3. Capital Resources atau Man Made resources Sumber daya ini (capital resources) merupakan sumber daya  yang bisa diciptakan oleh manusia.

    Pengertian modal yang  dimaksud disini adalah investasi yang diperoleh melalui tabungan  individu, masyarakat atau perusahaan yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa.


Sumber Daya Alam sebagai Faktor Produksi

Peningkatan produksi dan konsumsi secara terus menerus akan  memicu pertumbuhan ekonomi dan berjalan dalam jangka waktu yang  panjang.

Untuk meningkatkan total produksi tergantung pada macam  dan jumlah input atau yang sering dikenal dengan faktor produksi  yang digunakan dalam proses produksi.

Hubungan antara produksi  dengan faktor produksi tersebut secara matematis dapat ditulis  sebagai berikut : 

Y = f (L, K, R, T, S) 

Di mana : 

Y = Total Produksi  ; L = Jumlah tenaga Kerja ; K = Kapital ; R = Resources  ; T = Teknologi  ;S = Sosial Budaya 

Masing-masing faktor produksi di atas mempunyai hubungan  dengan total produksi.dengan kata lain apabila faktor produksi  ditambah maka jumlah total produksi juga bertambah.


Sumber Daya Alam dan Pertumbuhan Ekonomi

Ada dua pandangan yang mengemuka tentang pemanfaatan  sumberdaya alam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, yakni: 

pertama yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dengan  sumber daya alam mempunyai hubungan yang negatif atau tidak  searah.
Kedua semakin tinggi pertumbuhan ekonomi suatu negara  akan mendorong diketahuinya atau ditemukannya sumber daya – sumber daya alam baru, sehingga hubungan sumber daya alam  dengan pertumbuhan ekonomi merupakan hubungan searah. 

Dengan tuntutan percepatan pertumbuhan ekonomi dapat dikatakan ada
hubungan yang positif antara jumlah dan kualitas barang sumber daya  (selain sumber daya alam) dengan pertumbuhan ekonomi (Gambar 2.1),

tetapi  sebaliknya ada

hubungan yang negatif antara pertumbuhan ekonomi  dan persediaan sumber daya alam yang ada di dalam bumi (Gambar 2.2).

sedangkan pada gambar 2.3 menjelaskan tentang 
pertumbuhan ekonomi hubungannya dengan pencemaran lingkungan  dimana semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi maka semakin  tinggi pulan tingkat pencemaran lingkungan yang mungkin akan terjadi. 

Sedangkan pada gambar 2.4 menunjukkan hubungan yang kuat (positif  dan negatif) antara kegiatan industrialisasi bagi manusia dan mahluk  hidup lainnya.

image-1613298132314.png

image-1613298158655.png

image-1613298209936.png

P01 & 02

Konservasi & Deplesi

Sumber : Baso, Ari >

Konservasi

suatu tindakan untuk mencegah pengurasan sumberdaya alam dengan cara  pengambilan yang tidak berlebihan sehingga dalam jangka panjang  sumberdaya alam tetap tersedia.

Konservasi dapat juga diartikan  menjaga kelestarian sumberdaya alam demi kelangsungan hidup  manusia. 

Beberapa tindakan konservasi >> :

 Melakukan perencanaan terhadap pengambilan sumberdaya  alam, yaitu pengambilan secara terbatas.

Mengusahakan eksploitasi sumberdaya alam secara efisien.

Mengembangkan sumberdaya alternatif atau mencari  sumberdaya pengganti.

Menggunakan unsur-unsur teknologi yang sesuai dalam  mengeksploitasi sumberdaya alam agar dapat menghemat  penggunaan sumberdaya.

Mengurangi, membatasi, dan mengatasi pencemaran  lingkungan.


Deplesi

Deplesi (berasal dari kata “depletion”) >> sebagai suatu cara pengambilan sumberaya alam secara besar besaran, yanh biasanya demi memenuhi kebutuhan akan bahan  mentah.

Dalam pelaksanaannya cendrung mengarah ke arah  pengurasan isi alam sehingga terasa kurang adanya penghargaan  terhadap sumberdaya yang ada.

Sehingga deplesi dapat diartikan  sebagai perubahan distribusi antar waktu dalam tingkat  penggunaan ke masa sekarang, sedangkan konservasi  menunjukkan perubahan distribusi antar waktu dalam tingkat  penggunaan ke masa yang akan datang.

Adapun persediaan atau cadangan (reserve atau stock)  sumberdaya alam merupakan sumberdaya alam yang sudah diketahui dan terbukti (identified and proven) dan bernilai ekonomis.  

Sumberdaya alam itu baru diketahui persediaannya setelah  menjadi kepentingan manusia.

Cadangan sumberdaya akan  meningkat bila terjadi penemuan baru (discovery), peningkatan  cadangan yang telah terbukti (extension) dan revisi (revison)  cadangan sebagai akibat kebutuhan informasi mengenai kondisi  pasar dan teknologi baru.


Pesimisme dan Optimisme terhadap Sumberdaya Alam 

Pandangan yang mengemuka terhadap sumberdaya alam >>

pesimisme yang mengatakan bahwa sumberdaya alam itu terbatas  adanya, sehingga apabila terus-menerus diambil/diolah maka  persediaan makin lama akan semakin berkurang dan sampai pada  saatnya nanti pasti akan habis.

Pemikiran yang pesimisme ini sudah  diawali oleh tokoh-tokoh ekonomi terkenal seperti Adam Smith dan  David Ricardo.
Para kaum Pesimisme ini mengusulkan beberapa  pemikiran bahwa dengan semakin meningkatnya kemajuan teknologi  akan mendorong pertumbuhan ekonomi semakin pesat lagi,  sehingga dengan adanya peringatan dari kelompok Roma tersebut  manusia harus dapat menentukan batas pertumbuhan ekonomi  sendiri, yang pada gilirannya tentu akan membatasi tingkat  pengambilan sumberdaya alam.


Sementara kelompok optimisme yang berpendapat bahwa sumberdaya alam itu tersedia dan tidak  akan pernah habis, lebih-lebih untuk sumberdaya alam yang dapat  diperbaharui. Lebih lanjut dikatakan bahwa perkembangan teknologi  tidak menguras sumberdaya alam, namun sesungguhnya justru  cenderung mengurangi pengurasan sumberdaya alam.


Konservasi dan Investasi

Konservasi dan deplesi sebagaimana telah kita ketahui menunjukkan perubahan fisik dalam distribusi waktu tingkat  penggunaan sumberdaya alam.

Sedangkan investasi dan disinvestasi  tidak ada kaitannya dengan distribusi waktu tingkat penggunaan  sumberdaya alam.

Investasi dan disinvestasi berkaitan dengan perubahan nilai barang modal seseorang, perusahaan ataupun masyarakat secara keseluruhan sebagai akibat dari perubahan dalam  tingkat pendapatan maupun tingkat konsumsi yang bersangkutan, dan bukan berhubungan dengan perubahan fisik penggunaan sumberdaya  alam milik seseorang.  

Penurunan nilai atau harga suatu barang sumberdaya alam tertentu dapat cendrung menyebabkan terjadinya suatu disinvestasi, dan selanjutnya justru akan terjadi konservasi dalam rencana  pemanfaatan sumberdaya alam. Sebaliknya suatu kenaikan harga barang sumberdaya alam dapat berakibat mendorong investasi dan  selanjutnya mengakibatkan adanya deplesi sumberdaya alam


Penggunaan Lestari sebagai Tujuan Ekonomi 

Penggunaan sumberdaya alam secara maksimum dan lestari  kadang-kadang dianggap sebagai suatu tujuan dalam usaha konservasi sumberdaya alam oleh swasta maupun oleh pemerintah.  

Tetapi konsep penggunaan sumberdaya alam yang lestari dan maksimum itu berlaku, misalnya untuk sumberdaya ikan, hanya  dibawah tiga asumsi sebagai berikut :

  1. Harus ada panen maksimum yang dapat dilaksanakan secara  periodik tanpa mempengaruhi pertumbuhan alami.

  2. Tindakan ekonomis untuk meningkatkan atau menstabilkan  pertumbuhan alamiah beserta pemanenannya dengan cara-cara tertentu, misalnya dengan menggunakan perbaikan lingkungan hidup, pemberian makan, penyebaran serangga (predator) untuk  memakan serangga lain.

  3. Biaya untuk panen dan permintaan terhadap produk tidak ekonomis  sifatnya bila dilaksanakan di bawah jumlah panenan maksimum  menurut kondisi alam.


Standar Minimum yang Aman untuk Konservasi

Standar minimum yang aman untuk konservasi dapat dicapai  dengan menghindari daerah kritis (critical zone), yaitu kondisi fisik yang kerana ulah manusia akan berakibat tidak ekonomis untuk  menghentikan atau membalik tindakan deplesi.

Atau dengan kata lain daerah kritis ini dirumuskan sebagai tingkatan di bawah mana suatu  penurunan dalam aliran tidak dapat lagi dikembalikan secara  ekonomis atas dasar kondisi yang bisa dimengerti sekarang ini.

Suatu  standar mimimun yang aman sesungguhnya merupakan :

suatu peningkatan fleksibiltas dalam melanjutkan pembangunan dalam  masyarakat. Lebih praktis dapat dikatakan bahwa mendifinisikan  standar minimum yang aman sebagai suatu tindakan konservasi yang  dirancang untuk menghindari daerah kritis.

Manfaat dari penentuan standar minimum yang aman itu adalah  adanya tingkat adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lokal serta  adanya kemudahan dalam pemahaman bagi para pemakai  sumberdaya alam; sayangnya tidak begitu mudah menentukan  derajad adanya daerah kritis bagi suatu sumberdaya tertentu.  

Selanjutnya pelaksanaan dari standar minimum yang aman harus  dilaksanakan dengan biaya sosial yang seminimal mungkin.

 

P01 & 02

Hubungan antara Penduduk, Industri dan Sumberdaya Alam

Sumber : Baso, Ari >

Ada dua hal penting yang dapat dikemukakan dalam kaitannya  dengan penggunaan sumberdaya alam yaitu : apakah sumberdaya  alam itu membatsi pertumbuhan ekonomi dan berapakah tingkat  penggunaan sumberdaya alam yang optimal.

Pertanyaan yang pertama hubungannya dengan berapa cepat sumberdaya alam itu  dimanfaatkan/dihabiskan dan bagaimana akibat bila terdapat sektor  industri, pertanian dan jasa. Sesungguhnya tidak mudah untuk  mengatakan apakah pengambilan sumberdaya alam kita selama ini  terlalu cepat atau terlalu lamban.

Sedangkan pertanyaan yang  kedua lebih bersifat teoritis. Ramalan yang mungkin paling pesimis  mengenai masa depan masyarakat industri adalah komitmen yang  berlanjut terhadap pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang  mengakibatkan rusaknya ekologi yang penting bagi adanya  kehidupan manusia.  

Permasalahanya adalah : 
bagi para pecinta lingkungan
(environmentalist) satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia  dari kehancuran adalah hanya dengan menekan laju pertumbuhan ekonomi.

Sedangan bagi mereka yang mendukung pertumbuhan  ekonomi demi peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang (growthist), berpendapat bahwa gerakan menuju  pada perekonomian yang mapan (steady state economy) justru  akan menghambat investasi dalam bidang perkembangan teknologi  yang diperlukan untuk memecahkan masalah lingkungan. 

Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi di negara-negara yang sedang berkembang merupakan akibat dari penerunan tingkat  kematian dan masih tetap tingginya tingkat kelahiran dan ini terjadi  terutama di luar sektor industri.


Pengambilan Sumberdaya Alam dalam Masyarakat Industri

Banyak sumberdaya alam yang diperlukan oleh masyarakat industri  yang sudah hampir habis dalam arti bahwa tingkat penggunaan  sekarang terlalu tinggi dalam kaitannya dengan jumlah persediaan  sumberdaya alam yang diketahui.

Semua pihak menyetujui  pernyataan ini, namun ada perbedaan pendapat mengenai implikasi  kebajikan dan cara penanggulangan masalah yang ditimbulkan.

Bagi mereka yang mendukung pertumbuhan ekonomi masalah  kekeurangan sumberdaya alam hanya sementara sifatnya karena  masalah tersebut dapat diatasi dengan kemajuan teknologi yang  dikaitkan dengan penemuan baru, eksplorasi, pengambilan baru, dan  pengolahan sumberdaya alam.

Maka dari itu kekurangan sumberdaya  alam dalam arti absolut jarang sekali terjadi.  

Apakah masalah pengambilan sumberdaya alam itu bersifat temporer atau permanen, tetapi yang jelas adalah bahwa persoalan  itu ada dan sesungguhnya hanya ada tiga kemungkinan cara  pemecahannya : 

  1. Meningkatkan tersedianya sumberdaya alam pada laju yang paling  tidak sama dengan laju penggunaan sumberdaya alam. 
  2. Meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam yang  sekarang ini sudah kita kuasai dan kita ketahui persediaannya. 
  3. Penekanan permintaan terhadap  sumberdaya alam. 

Masing-masing dari ketiga cara di atas tidak berarti harus saling  meniadakan satu sama lain, melainkan ketiga cara tersebut justru  dapat dipakai secara bersama-sama.

Beberapa tindakan konservasi sumberdaya alam dapat digunakan secara bersama-sama dengan  tindakan untuk menemukan sumberdaya alam baru guna menunjung  pertumbuhan permintaan akan sumberdaya alam.


Sumberdaya Alam dan Pencemaran dalam Masyarakat Industri

Memburuknya lingkungan dan terkurasnya sumberdaya alam sangat dipengaruhi oleh perkembangan sektor industri.

Misalnya  pengurasan sumberdaya energi sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan  ekonomi, kemudian dengan semakin cepatnya pertumbuhan ekonomi  akan mempercepat pengurasan sumberdaya tersebut.

Proses ini akan  menghambat pertumbuhan ekonomi lebih lanjut. Jadi karena sumberdaya alam tersebut dibutuhkan untuk pembangunan, suatu  kekurangan dalam sumberdaya energi akan memperlambat  pertumbuhan ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Apakah pencemaran lingkungan dan pengurasan sumberdaya  alam selalu terjadi dalam masyarakat industri?apabila memang  demikian maka : 

  1. Mungkin tidak ada cara untuk menghindari pencemaran dan  pengurasan sumberdaya alam kalau tingkat perkembangan  ekonomi tertentu harus dicapai. 
  2. Perubahan sosial yang cepat dan struktur masyarakat yang  kompleks akan tidak memungkinkan untuk menemukan dan  melaksanakan pemecahan terhadap masalah tersebut. 

Pertanyaan pertama memang berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh industrialisasi.  Ancaman terhadap ekosistem dunia disebabkan oleh adanya negara  industri, terutama negara industri maju seperti Amerika Serikat.

Akan  tetapi ada juga yang mengatakan bahwa memburuknya lingkungan  bukan merupakan akibat dari industrialisasi melainkan karena  kapitalisme dalam industrialisasi tersebut.

Pemilikan swasta terhadap alat-alat produksi, perekonomian pasar, dan motof mencari laba telah menyebabkan perekonomian menjadi terikat pada tujuan demi untuk  pertumbuhan ekonomi.

Sebagai kesimpulan bahwa ada hubungan  yang jelas antara industrialisasi dan memburuknya kualitas  lingkungan serta berkurangnya sumberdaya alam.


Pembangunan dan Lingkungan Hidup di Indonesia

Pada tahun 1982, undang-undang lingkungan hidup untuk Indonesia dipersiapkan.

Salah satu alasannya adalah untuk mempertahankan keseimbangan antara kelestarian lingkungan  dengan pembangunan yang sering dilakukan.

Maksudnya adalah  pengembangan industri di suatu wilayah perlu memperhatikan  lingkungan.

Sebaliknya adalah manfaat yang berkelanjutan untuk kesejahteraan, sehingga pengelolaan sumberdaya alam dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan tidak hanya mempertimbangkan manfaat kekayaan alam itu dalam sesaat dengan keuntungan yang sebesar-besarnya tetapi yang diperlukan adalah  pengelolaan yang tepat demi kelestarian pembangunan dalam jangka  yang panjang. 

Cara yang sering digunakan dalam pengelolaan lingkungan ini ialah dengan menginternalisasikan eksternalitas negatif yang disebabkan  oleh pembangunan ekonomi.

Suatu contoh untuk keserasian guna  pemeliharaan lingkungan dan pembangunan apabila kita mengadakan  intervensi terhadap alam, misalnya pembuatan waduk, terlebih dahulu  harus kita perhatikan dampak positif dan negatifnya.

Untuk itulah  dikembangkan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).  AMDAL merupakan suatu instrumen yang memungkinkan untuk  melakukan pelestarian lingkungan yang serasi dan seimbang.

 

P01 & 02

Mengukur Kelangkaan  Sumberdaya Alam 

Sumber : Baso, Ari >

Mengukur Kelangkaan Sumberdaya Alam

Para ahli dengan ilmu dan alat yang mereka miliki lebih mampu mengukur kuantitas atau volume suatu sumberdaya alam yang tersedia di  dalam bumi atau di permukaan bumi.

Namum demikian ahli ekonomi  dengan peralatan analisis yang mereka miliki juga harus dapat  mengetahui masih banyak atau tinggal sedikit sumberdaya alam tertentu  itu tersedia di dalam bumi atau di permukaan bumi, walaupun tidak dapat  menentukan volume atau jumlahnya secara pasti dalam ukuran tertentu. 

Seringkali ahli ekonomi hanya menyatakan sumberdaya alam itu langka  atau tidak; dan kelangkaan ini lebih berarti kelangkaan ekonomi dan  bukan kelangkaan fisik.  

Apakah yang dimaksud dengan kata "langka" itu ?

Para ekonom  sudah terbiasa mengartikan kata langka dengan keadaan di mana jumlah  barang yang diminta lebih banyak daripada jumlah barang yang  ditawarkan atau yang tersedia, dan dalam pasar persaingan sempurna  kelangkaan ini akan menyebabkan harga barang yang bersangkutan naik. 

Dalam kaitannya dengan sumberdaya alam, persediaan itu dihadapkan  pada tingkat konsumen sumberdaya alam, per tahun untuk memperkirakan  berapa lama lagi jumlah persediaan tersebut akan dapat dikonsumsi untuk  menopang kehidupan manusia. 

Persediaan sumberdaya alam kita artikan sebagai volume  sumberdaya alam yang sudah diketahui dan dapat diambil dengan  mendatangkan keuntungan pada tingkat biaya produksi dan tingkat harga  tertentu.

misal :
sejak Indonesia baru merdeka sudah diketahui  bahwa Indonesia memiliki pasir besi di pantat selatan Jawa Tengah, namun statistik mengenai pasir besi belum sempurna dan kita tidak  mengetahui berapa persediaan (stock) pasir besi tersebut, baru setelah  tahun 1970-an dengan adanya nilai ekonomi karena Jepang sanggup  membeli pasir besi tersebut. maka pasir besi itu bemilai sebagai  sumberdaya alam dan perlu diperhitungkan persediaannya.

Demikian pula  batu dan pasir sebelum digunakan sebagai bahan bangunan belum  mempunyai nilai dan jumlah yang ada belum diketahui persediaannya. 

Selanjutnya persediaan dapat ditingkatkan baik dengan penemuan  deposit baru ataupun dengan teknologi baru yang dapat mengubah  sumberdaya alam yang tidak ekonomis menjadi sumberdaya alam yang  ekonomis.

Sayangnya memang sulit untuk mengetahui volume fisik.  lokasi. maupun kualitas sumberdaya alam secara tepat, sehingga sulit  pula untuk menentukan derajat kelangkaan sumberdaya alam tersebut. 

Untuk mengetahui langka tidaknya sumberdaya alam di bumi ini,  para ahli ekonomi menggunakan berbagai cara atau alat pengukur dalam bidang ilmunya, yaitu dengan

Barnett dan Morse setuju dengan pendapat Malthus dan Ricardo bahwa peningkatan produksi pertanian akan memerlukan  dosis kapital dan tenaga kerja yang lebih banyak, kemudian mereka  menerapkannya pada sumberdaya mineral.

Fisher mengetengahkan  "scarcity rent atau economic rent" yaitu nilai satu satuan sumberdaya alam  yang masih ada di dalam bumi, sebagai alat pengukur kelangkaan yang  lain. Hipotesis yang dikemukakan ialah :

apabila ketiga alat pengukur itu  (harga kornoditi, biaya produksi dan rent) menjadi Iebih tinggi, maka dapat  dikatakan bahwa tersedianya sumberdaya alam sudah menjadi semakin  langka.


Pengukuran Ekonomi Terhadap Kelangkaan 

Biaya Produksi.

Baik ekonom klasik (Ricardo) maupun Neo  Klasik (Jevons) melihat bahwa peningkatan biaya produksi berhubungan  dengan semakin berkurangnya persediaan sumberdaya alam. Memang  barang sumberdaya alam sudah terus menerus diambil dari bumi ini.  Barnett dan Morse telah meneliti pola perkembangan biaya produksi untuk  komoditi ekstraktif sepanjang sejarah perkembangan industri di Amerika  Serikat. 

Barnett dan Morse memulai studinya dengan melihat doktrin Klasik tentang meningkatnya kelangkaan ekonomis akan sumberdaya  alam. Pada umumnya orang percaya bahwa sumberdaya alam secara ekonomis memang langka, dan dengan berkembangnya waktu  sumberdaya alam itu menjadi semakin langka, dan ini akan mengganggu  kehidupan manusia dan pertumbuhan ekonomi.

Namun dalam studi  Barnett dan Morse itu, dikemukakan bahwa teori Klasik mengenai  meningkatnya kelangkaan sumberdaya alam itu tidak dapat diterima,  kecuali dalam hal yang sangat terbatas atau tertutup. 

Barnett dan Morse membuat hipotesis tentang kelangkaan  sumberdaya alam yaitu bahwa Sumberaaya alam itu semakin langka bila:

a). Biaya riil persatuan output meningkat terus se!ama periode  pengambilan.  

b). Biaya kornoditi yang diambil relatif lebih tinggi daripada biaya produksi   kornoditi lain. 

c). Harga kornoditi yang diambil relatif lebih tinggi daripada harga   komoditi lain.

Ada beberapa alasan mengapa sumberdaya aiam tidak menjadi  semakin langka ialah: 

a). Karena adanya barang substitusi bagi sumberdaya alam yang terus  menerus diambil dan semakin sedikit jumlahnya dengan sumberdaya  alam yang masih berlimpah adanya. Sebagai contoh adalah  alumunium menggantikan copper, biji-bijian menggantikan daging,  plastik menggantikan kulit, dan serat sintetis menggantikan serat  alami. 

b) Karena adanya penernuan baru dengan dipakainya metode ekspiorasi  baru, seperti metode geofisik, geokemis dan satelit. 

c) Karena ada peningkatan dalam impor mineral dan metal dari negara  lain. Dengan adanya perbaikan di bidang transportasi telah  rnemungkinkan daerah-daerah yang jauh dari lokasi sumberdaya aiam  mampu bersaing secara ekonomis. 

d) Karena ada peningkatan pengetahuan teknik yang berguna bagi  ekspiorasi, pengambilan dan pengangkutan sumberdaya aiam,  sehingga produksi dapat bersifat besar-besaran dan biaya produksi  persatuan dapat ditekan. 

e) Adanya kemungkinan pemakaian ulang (recycling). Sebagai misal  konsumsi Amerika Serikat yang berasal dari barang bekas adalah: besi  37%, tembaga 20%, aluminium 10%, nikel 35%. 

Di samping itu Barnett dan Morse juga menyatakan bahwa dalam sejarah Amerika Serikat, setiap generasi selalu meninggalkan warisan  untuk generasi berikutnya yaitu keadaan tersedianya sumberdaya alam  dengan kemampuan produksi yang semakin baik.

Hal ini memang  dthasiikan oleh adanya akumulasi pengetahuan, kemajuan ilmu  pengetahuan dan teknologi yang semuanya dapat mengimbangi  peningkatan biaya produksi karena semakin berkurangnya sumberdaya  alam. Namun itu semua bukan karena kebetulan, tetapi karena adanya  desakan untuk kemajuan pengetahuan, campur tangan pemerintah, serta perubahan mekanisme yang sifatnya menempel dalam sistim  perekonomian dan masyarakat yang ada. 

Sebenarnya Barnett dan Morse rnengajukan dua macam hipotesis,  yaitu hipotesis kuat dan hipotesis lemah.

Hipotesis kuat meyatakan bahwa  biaya riil per satuan barang-barang ekstraktif akan meningkat dengan  berkembangnya waktu karena adanya keterbatasan dalam jumlah  maupun kualitas sumberdaya alam.

hipotesis lemah  menyatakan bahwa meningkatnya kelangkaan sumberdaya alam  cenderung meningkatkan biaya produksi riil, tetapi peningkatan ini lebih  cepat daripada kekuatan yang akan menekan kenaikan biaya karena  adanya perubahan teknik dan kekuatan ekonomi lainnya.

Harga Barang Sumberdaya Alam.

Kelangkaan sumberdaya alam dapat dilihat dari harga barang sumberdaya yang semakin  meningkat maupun dilihat dari "royalty" atau "rent". Rent adalah harga bayangan satu satuan barang sumberdaya dalam persediaan (stock).

Bila  seseorang tertarik pada "kelangkaan" maka "rent" lebih tepat sebagai alat  pengukurnya. Namun bila seseorang berminat untuk mengetahui  banyaknya pengorbanan dalam memperoleh barang sumberdaya alam,  maka harga lebih tepat sebagai indikatornya karena harga sudah  mencakup biaya? produksi dan rent..

Selanjutnya karena rent sulit untuk  diamati maka "harga" lebih banyak dipakai sebagai indikator baik untuk  melihat kelangkaan maupun pengorbanan guna menghasilkan barang  sumberdaya alam.

Hal ini memberikan pengertian kepada kita bahwa keadaan sumberdaya alam menjadi semakin langka. Bagaimana dengan  perkembangan harga minyak antara tahun 1970 dan tahun 1980-an.  Harga minyak yang melonjak tinggi adalah karena kekuatan pasar dan  sisi proa'usen (OPEC).

Namun bila sumberdaya alam non minyak saja  yang diperhatikan masih juga dapat disimpulkan adanya kelangkaan  sumberdaya alam antara tahun 1969 - 1979.

Jadi tampaknya harga-harga barang sumberdaya mineral memiliki  pola perkembangan harga seperti huruf "U”, yaitu mula-mula tinggi  kemudian menurun lalu naik lagi. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya  penemuan baru dan kemajuan teknologi yang berakibat menekan biaya  produksi dan royalty. Setelah itu penemuan baru semakin sulit dan biaya  produksi juga tidak dapat turun terus, sehingga harga-harga akan naik  kembali.

Karena penemuan baru dan perkembangan teknoiogi mempengaruhi tingkat harga, maka kedua hal tersebut juga mempengaruhi royalty secara tidak langsung. Tetapi harga atau rent selalu mengalami  penyimpangan karena harga-harga yang diharapkan di masa datang  sangat mempengaruhi harga saat ini. 

Seperti halnya dengan pakar lain, Brown dan Field juga  mencoba mempeiajari dan membandingkan alat analisis tersebut dan  mencari mana yang terbaik di antara ketiganya untuk mengetahui langka  tidaknya persediaan sumberdaya alam itu, diantaranya :

Biaya rata-rata atau biaya persatuan yang dipakai oleh Barnett dan  Morse daiam mengukur kelangkaan sumberdaya alam merupakan  indikator yang meragukan karena hal-ha! berikut: 

Daiam dunia yang berkembang terus, biaya rata-rata tidak tepat  digunakan untuk mengukur kelangkaan yang semakin meningkat  karena tingkat teknologi berkembang terus. 

Bahwa biaya persatuan tidak memperhitungkan biaya-biaya peng ambilan sumberdaya di masa datang sebagai akibat dari  meningkatnya kelangkaan itu sendiri. 

Biaya persatuan tidak dapat rnenjadi indeks pengukur yang tepat,  karena biaya pengambilan di masa datang tidak dapat diperhitungkan di sini.

Kemajuan teknologi mengalihkan tanda-tanda keiangkaan sumber daya alam yang ditunjukkan oleh harga riil barang sumberdaya.  Sebagai misal pada akhir abad ke XIX kayu menjadi langka, tetapi  kemajuan teknologi telah dapat menjamin kestabilan harga barang. 

Harga riii tidak menunjukkan adanya kecende-rungan semakin  langkanya sumberdaya afam yang memiliki sumberdaya pengganti  (subtitusi). 

Harga riil sumberdaya dapat meningkat ataupun menurun, yang  berarti menunjukkan adanya kelangkaan atau berkurangnya  kelangkaan, tergantung pada harga mana yang dipakai untuk  membuat angka indeks (price deflator). Oleh karena itu harga  barang sumberdaya aiam juga merupakan alat pengukur yang  kurang jelas.

Nilai sewa dari sumberdaya alam (rental rate) atau nilai sumberdaya  alam di tempatnya (in situ resources), merupakan alat pengukur yang  ketiga terhadap kelangkaan sumberdaya alam. Nilai sewa ini lebih  tepat menggambarkan kelangkaan sumberdaya alam daripada dua  cara yang disebut sebelumnya. Nilai sewa (economic rent)  sumberdaya alam pada umumnya meningkat dalam beberapa puluh  tahun yang terakhir, tetapi biaya produksi dan harga barang justru  menurun, khususnya untuk kayu.

Namun demikian ada beberapa keberatan terhadap alat pengukur  ini, di antaranya yaitu: 

a) Sulit untuk mendapatkan data nilai sewa ekonomis dari sumberdaya  alam, karena nilai sewa sumberdaya alam itu tidak praktis dalam  jangka pendek. 

b) Nilai sewa lebih memperkirakan kelangkaan sumberdaya alam yang  semakin meningkat dalam arti ekonomi, tetapi berkurangnya  sumberdaya alam secara fisik belum tentu sejalan dengan kenaikan  nilai sewa sumberdaya alam sebagai cermin dari kelangkaan  ekonomis. 


Selanjutnya rnasih ada kelemahan lain yang dimiiiki oleh harga barang sumberdaya alam dan scarcity rent sebagai berikut:

Sebagian sumberdaya alam diusahakan untuk memenuhi kepentingan  umum, sehingga harga pasar tia'ak mencerminkan penilaian yang  sesungguhnya terhadap sumberdaya alam itu. 

Tidak ada "future market" untuk sumberdaya alam, sehingga tingkat  harga dimasa yang akan datang har.ya ditentukan oleh harapan saja  (expectation). 

Sumberdaya alam mempunyai aspek barang publik, yang peng konsumsiannya tidak harus mengeluarkan orang yang tidak sanggup  membayar (exclusion principle tidak berlaku), dan kalau barang itu  dikon-sumsi tidak mengurangi yang tersedia untuk dikonsumsi orang  lain (rivalry in consumption tidak berlaku), sehingga harga pasar  kurang dapat mewakili. 

Sebagai upaya selanjutnya, Brown dan Field mengajukan sebuah alat  lagi yaitu dengan melihat elastisitas subtitusi antara faktor-faktor produksi  khususnya kapital dan tenaga kerja apabiia terciapat kelangkaan  sumberdaya aiam.

Jadi dengan melihat kemudahan bagi faktor produksi  lain dalam menggantikan sumberdaya alam yang relatif semakin langka.  Semakin berkurangnya sumberdaya alam sebenarnya tidak perlu  ditakutkan asalkan ada kemudahan untuk menggantikan sumberdaya yang semakin langka itu dengan sumberdaya lain yang lebih banyak  jumlahnya.

Jadi dalam hal ini sumberdaya alam itu tidak langka selama mudah dalam mencarikan penggantinya.

Oleh karena itu tampaknya  ukuran kelangkaan itu dapat dilihat dari elastisitas substitusinya yang  mencerminkan tanggapan daiam perubahan penggunaan sumberdaya  alam dan sumberdaya penggantinya terhadap perubahan harga. 

Sebagai kesimpulan mengenai kebenaran dari alat pe-ngukur ini perlu dikaji bagaimana ketelitian dari alat pengukur tersebut. Pendekatan  dengan biaya produksi, maupun scarcity rent harus mengingat kondisi  pasar yang ada; khususnya apakah mekanisme pasar dapat bekerja  secara sempurna, tidak ada eksternalitas (externality), dan tidak ada  campur tangan pemerintah. 

Jadi dapat kita simpulkan bahwa pendekatan secara fisik maupun  secara ekonomis sama-sama memiliki kelemahan.

Pendekatan secara  fisik tidak memiliki kepastian mengenai besarnya persediaan, sedangkan  pendekatan secara ekonomis memiliki kelemahan yaitu bila mekanisme  pasar tidak dapat bekerja secara sempurna. Oleh karena itu masih sulit  unluk memastikan kondisi dari sumberdaya alam itu, apakah masih  melimpah aiau sudah langka adanya.

P01 & 02

Konservasi Sumberdaya Alam

Sumber : Baso, Ari >

Keputusan konservasi merupakan kegiatan mempertimbangkan  penggunaan sumberdaya alam antara penggunaan saat ini dan  penggunaan pada masa yang akan datang.

Konservasi dimaksudkan sebagai penggunaan yang bijaksana  sepanjang waktu. Hal ini berbeda-beda bagi masing-masing tipe  sumberdaya.

Untuk sumberdaya yang tak pulih (exhaustible resources),  konservasi dimaksudkan agar dapat mengembangkan. Penggunaan sumberdaya itu untuk memenuhi kebutuhan dalam angka waktu yang  lebih lama, misalnya untuk mengurangi tingkat konsumsi, atau  menggunakan teknologi baru yang menghemat penggunaan sumberdaya  alam seperti beralihnya penggunaan dari minyak ke energi surya.

Bagi sumberdaya alam yang dapat diper-baharui (renewable resources),  dimaksudkan untuk mengurangi pemborosan baik yang bersifat ekonomi  maupun sosial, dan sekaligus memaksimumkan penggunaan secara  ekonomis.

Untuk sumberdaya biologis, konservasi dimaksudkan sebagai  penggunaan yang meng-hasilkan penerimaan bersih yang maksimum,  dan sekaligus dapat memperbaiki kapasitas produksinya. Apabila kita berusaha menentukan tingkat optimum penggunaan  sumberdaya alam, maka masalah-masalah penting akan timbul untuk  masing-masing jenis sumberdaya itu.

Perencana harus melakukan pilihan antara pengambilan sumberdaya pada waktu sekarang atau sumberdaya disimpan dahulu  untuk penggunaan di masa yang akan datang. .

Setiap pengelola sumberdaya alam yang tak dapat diperbaharui  (exhaustible resources) pasti mengetahui bahwa sumberdaya alam yang  ada di bawah kekuasaannya tidak akan selamanya berada dalam jumlah  yang cukup banyak, sehingga pengambilan sumberdaya alam ini tidak  akan memberikan penawaran yang cukup.

Oleh karena itu harus  dipikirkan agar dengan sumberdaya alam yang terbatas itu dapat  diciptakan kegunaan yarig tinggi. Perencanaan untuk pengambilan yang  lebih awal memang lebih mudah dan biaya peng-ambilannya tidak terlalu  tinggi.

Yang menjadi masalah ialah bagaimana memaksimumkan nilai  sekarang (present value) sesuai dengan skala dan waktu yang optimum. 

Yang diharapkan oleh pengelola dalam menentukan skala waktu yang  optimum ialah bahwa skala pengambilan sumberdaya tersebut akan dapat  mendatangkan keuntungan yang maksimum dan dalam waktu yang  selama mungkin. 

Konservasi dan penggunaan sumberdaya biologis secara bijaksana  ditujukan untuk pelaksanaan pengaturan yang memaksimumkan  penerimaan bersih pengelola, yaitu bahwa dalam waktu yang bersamaan  dapat memelihara dan memperbaiki kapasitas sumberdaya tersebut untuk  masa mendatang.

Masalah ekonomi yang perlu  diperhatikan di sini adalah Waktu yang optimum bagi pelaksanaan  usahanya. Oleh karenanya perlu diperhatikan tingkat diskonto yang akan  dipakai untuk menghitung nilai sekarang dari investasi dalam bidang  sumberdaya alam. Tingkat diskonto yang rendah akan menghasilkan nilai  sekarang yang tinggi. 

Konservasi sumberdaya tanah merupakan suatu sistem peng gunaan dan pengolahan tanah yang udidasarkan atas pembawaan atau  keadaan tanah itu sendiri, yang meliputi penerapan cara-cara atau praktik-praktik terbaik yang diketahui yang ditujukan untuk memperoleh produksi  tertinggi tanpa merusak tanah yang bersang-kutan.

Oleh karena itu  konservasi tanah lebih diartikan sebagai penggunaan tanah yang tepat,  melindungi tanah dari erosi, memperbaiki tanah yang buruk mutunya,  melindungi kelembaban untuk kebutuhan tanaman, kombinasi pertanian  kering dan pengairan sesuai dengan kebutuhan, yang semuanya  dimaksudkan untuk mendapatkan nilai maksimum. Dengan definisi yang  luas ini, maka konservasi tanah hendaknya merupakan suatu alat untuk  penataan penggunaan tanah yang baik. Pengelola selamanya dapat  memilih di antara berbagai alternatif praktik pengaturan. 

Beberapa Masalah Konsevasi

Ada tiga pertanyaan yang perlu dipertimbangkan dalam mengadakan konservasi sumberdaya alam yaitu: 

    1.Apakah konservasi itu akan menguntungkan.

    Pertanyaan ini  penting bagi pengusaha. Sebagai warga negara yang baik ia hams  menyetujui prinsip-prinsip konservasi dan menyokong tujuan konservasi  pada umumnya.

    Sebagai pengusaha ia akan selalu memperhitungkan  untung dan ruginya. la akan bersedia menanam modal hanya bila yakin  bahwa ia akan mendapatkan keuntungan dari hasil investasinya itu. 

    Pengalaman menunjukkan bahwa investasi itu akan benar-benar  menguntungkan bila unsur waktu benar-benar diperhitungkan. Namun  sering terjadi pula konservasi sumberdaya alam tidak menguntungkan si  pengelola, dan bahkan tidak diinginkan oleh masyarakat.

    Menguntungkan  atau tidaknya konservasi sumberdaya alam tergantung pada beberapa  faktor berikut: 

    1. Jangka waktu yang direncanakan seorang pengelola.
    2. Aspek-aspek investasi dari konservasi.
    3. Kemampuan pelaksana dalam memilih altematif cara konservasi.
    4. Adanya dampak konservasi sumberdaya tertentu terhadap konservasi  sumberdaya lain. 

    2. Hasrat masyarakat untuk konservasi

    Terdapat perbedaan  antara hasrat masyarakat dan hasrat perorangan dalam konservasi. Pada  umumnya pengelola pribadi menginginkan derajat preferensi waktu (time  preference rate) yang tinggi dan pendek dalam jangka waktunya.  Sebaliknya, masyarakat menghendaki adanya derajat preferensi waktu  yang panjang jangka waktunya dan tingkat diskonto yang lebih rendah.  Hal ini karena masyarakat atau publik menginginkan kesejahteraan bagi  generasi yang akan datang. 

    3. Penanggulangan hambatan konservasi.

    Dalam pelaksanaan  konservasi sering ditemui hambatan-hambatan yang dapat kita bedakan  menjadi hambatan-hambatan fisik, hambatan-hambatan ekonomi,  hambatan-hambatan kelembagaan dan hambatan-hambatan teknologi. 

    Alokasi Sumberdaya Alam Antar Waktu

    Sesungguhnya konservasi berhubungan dengan alokasi  sumberdaya alam antar waktu. Tidak ada alasan untuk menganggap  bahwa alokasi sumberdaya alam yang efisien antar waktu akan menjamin  adanya keadilan antar generasi dalam hal alokasi sumberdaya alam.

    Ada  beberapa permasalahan dalam hal pengambilan keputusan untuk  mengalokasikan sumberdaya alam antar waktu karena sangat lamanya  periode waktu perencanaan, adanya risiko dan ketidakpastian, serta tidak  dapat dikembalikannya kepada bentuk asal suatu jenis sumberdaya. 

    1. Periode waktu perencanaan yang sangat panjang 
    2. Risiko dan ketidakpastian 
    3. Tidak dapat dikembalikan ke bentuk semula (irreversibility)

    P03

    P03

    Indikator Kelangkaan Sumber Daya Alam

    Sumber : ardra.biz >

    Pengertian Kelangkaan Sumber Daya . 

    Kelangkaan dapat diartikan sebagai
    suatu kondisi ketika kebutuhan manusia sangat tidak terbatas sementara sumber daya untuk memenuhi kebutuhan tersebut sangat terbatas jumlahnya

    Beberapa Sumber daya diantaranya adalah
    sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya modal, dan serta wirausaha (entrepreneur).


    Kelangkaan Sumber Daya Alam

    Kelangkaan sumber daya alam dapat diartikan
    terbatasnya persediaan sumber daya yang terkandung di alam, baik sumber daya biotik (hewan dan tumbuhan) maupun sumber daya abiotik (tanah, udara, barang tambang, air, dan iklim).

    Contoh Sumber Daya Alam adalah
    Barang tambang, batubara, perak, emas, minyak, kayu, rempah, dan sebagainya


    Kelangkaan Sumber Daya Manusia

    Kelangkaan sumber daya manusia adalah sulitnya ditemukan manusia yang berkualitas, baik dari segi pengetahuan maupun keahlian yang mampu menjalankan kegiatan ekonomi.

    Contoh Sumber Daya Manusia
     adalah Manusia yang memiliki keahlian, keterampilan, akhlak baik, kekuatan fisik baik.


    Kelangkaan Sumber Daya Modal

    Sumber daya modal adalah segala sumber daya hasil buatan manusia yang dapat digunakan untuk mempermudah terlaksananya proses produksi. Jadi

    Modal adalah
    segala yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa. Modal dapat meliputi uang, teknologi, peralatan, mesin-mesin, tanah, informasi, dan sebagainya.

    Contoh Sumber Daya Modal adalah geding, mesin, saham, hak cipta, dana uang,

    Kelangkaan sumber daya modal berarti langkanya sumber sumber modal seperti langkanya kemampuan membuat sumber yang dapat digunakan untuk produksi seperti mesin, Gedung tanah dan sebagainya.


    Kelangkaan Sumber Daya Wirausaha

    Sumber daya kewirausahaan (entrepreneurship) adalah factor produksi yang tugas dan fungsinya mengelola dan menggabungkan faktor produksi (alam, tenaga kerja, dan modal) untuk menghasilkan barang dan jasa kebutuhan manusia.

    Kelangkaan sumber daya wirausaha merupakan sedikitnya orang yang berpikir kreatif dan inovatif. Akibatnya sumber daya-sumber daya ekonomi yang ada tidak dapat dikelola secara maksimal karena kurangnya kemampuan menjalankan gagasan kreatif tersebut.

    Contoh Sumber Daya Wirausaha adalah seorang wirausaha yang berhasil adalah Bill Gates penemu DOS (Disc Operating System) dan pendiri Microsoft, perusahaan perangkat lunak komputer yang sangat terkenal. Di Indonesia sendiri banyak ditemukan wirausaha sukses, seperti Bob Sadino (Pengusaha Retail).

    Pada dasarnya sumber daya ekonomi yang terdapat dimuka bumi sangat beragam atau memiliki banyak jenisnya. Namun demikian, Sumber daya ekonomi tersebut bersifat langka atau terbatas. Selain itu tiap daerah mungkin memiliki jenis dan jumlah yang tidak sama.


    Penyebab Terjadinya Kelangkaan Sumber Daya Alam

    Yang menjadi perhatian dalam memenuhi kebutuhan adalah bahwa manusia memiliki kebutuhan yang tidak terbatas, sedangkan barang untuk pemenuhan kebutuhan terbatas. Keadaan ini akan menjadi sebuah keadaan yang dinamakan dengan kelangkaan.

    Dari  kenyataan tersebut, munculah inti persoalan ekonomi, yaitu bagaimana sumber daya yang jumlahnya terbatas tersebut dapat memenihi  kebutuhan manusia yang beraneka ragam.

    Faktor Penyebab Kelangkaan Sumber Daya

    Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan sumber daya menjadi langka atau terbatas. Sebab – sebabnya antara lain adalah:

    Perbedaan Letak Geografis
    Sebenarnya, Sumber daya alam yang ada tidak tersebar secara merata di muka bumi. Ada daerah yang memiliki minyak berlimpah, namun daerah lainnya tidak.

    Ada daerah yang sangat subur, di daerah lainnya begitu gersang.

    Perbedaan kondisi ini dapat menyebabkan kelangkaan sumber daya alam. Sehingga, masyarakat perlu pengorbanan yang lebih besar untuk mendapatkan sumber daya yang tidak terdapat di daerahnya.

    Misalnya, di daerah pegunungan berkapur sumber daya air sulit ditemukan. Pada musim kemarau, penduduknya harus mencari atau membeli air. Hal ini Berbeda dengan masyarakat di dataran rendah yang dengan mudah memperoleh air dari sumur.

    Pertumbuhan Penduduk Terlalu Cepat
    Pertumbuhan penduduk yang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan produksi barang dan jasa akan menyebabkan terjadinya kesenjangan antara kebutuhan dibandingkan persediaan barang dan jasa.

    Gejala ini sudah lama menjadi perhatian seorang ekonom bernama Thomas Robert Malthus. T. R. Malthus mengamati bahwa pertumbuhan manusia jauh lebih cepat jika dibandingkan laju pertumbuhan produksi pertanian.

    Kemampuan Faktor Produksi
    Kemampuan faktor produksi untuk proses pembuatan barang dan jasa memiliki beberapa hambatan dan keterbatasan.

    Misalnya, tenaga kerja memerlukan waktu untuk istirahat, terkadang  sakit, ataupun sesekali harus cuti. Selain itu, kerja mesin produksi memiliki keterbatasan dari desain baik kapasitas maupun daya tahan operasionalnya.

    Kemajuan Teknologi yang Tidak Sama
    Kemajuan dan Perkembangan teknologi di berbagai negara tidak selalu sama.
    Di negara – negara maju, perkembangan teknologi terjadi cukup cepat.
    Sedangkan di negara berkembang, perubahan kebutuhan akan barang dan jasa jauh lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan teknologinya.
    Hal ini diduga akibat adanya kecenderungan masyarakat yang suka menyontek gaya hidup dari negara maju.

    Bencana Alam
    Walaupun  bencana alam merupakan faktor yang berada di luar perkiraan manusia.
    Namun, demikian, bencana alam sering terjadi karena ulah manusia yang kurang memperhatikan keseimbangan alam.Manusia eksploitasi kekayaan alam tanpa mengindahkan masalah kelestariannya.
    Bencana alam cenderung rusak sumber daya yang ada.
    Terjadi  korban jiwa dan rusaknya berbagai sumber daya ekonomi seperti bangunan usaha dan mesin – mesin produksi.
    Untuk membangun atau mengadakan kembali sumber daya yang rusak akibat bencana alam, membutuhkan waktu yang relatif lama dengan modal yang cukup besar.

    Eksplorasi Sumber Daya Alam Berlebihan
    Adanya eksploitasi manusia terhadap sumber daya alam yang meng akibatkan kerusakan.
    Misalnya, penebangan hutan yang tidak disertai dengan upaya-upaya perbaikan atau penanaman kembali


    Indikator-Indikator Kelangkaan Sumber Daya Alam dan Energi.[3]

    Sumber : sucisulastri96 >

    Indikator kelangkaan bisa berwujud fisik misalnya melalui konsep cadangan, maupun indikator ekonomi seperti harga, sewa dan biaya produksi.

    Kelangkaan yang semakin mengancam yang dibuktikan dengan indikator kelangkaa memaksa orang untuk menghindari atau paling tidak memperlambat terjadinya kelangkaan. Berbagai inovasi teknologi dipergunakan untuk maksud tersebut dan terbukti cukup berhasil

    Indikator Fisik Kelangkaan Sumber Daya Alam dan Energi
    Pengetahuan tentang cadangan belum memungkinkan kita mengetahui apakah cadangan tersebut banyak atau sedikit, makin langka atau tidak.
    Untuk itu cadangan lebih sring dibandingkan dengan tingkat penggunaan seperti produksi tahunan atau tingkat konsumsi sehingga bisa dihitung berapa lama cadangan akan mampu memberikan pasokan kebutuhan sumber daya alam dan energi.
    Cadangan bersifat dinamis sebagai jumlah tertentu jumlah sumber daya alam dan energi yang bisa di produksi secara menguntungkan pada harga sekarangdan tingkat teknologi sekarang.

    Indikator Ekonomi Kelangkaan Sumber Daya Alam dan Energi

    indeks yang termasuk ke dalam indikator ekonomi kelangkaan sumber daya alam dan energi, yaitu:

    1. Harga Komoditi Sumber Daya Alam dan Energi

    Isu penting yang menyangkut penggunaan harga sebagai indikator kelangkaan sumber daya alam dan energi antara lain:

    pertama, perubahan yang terukur melalui harga merupakan konsep ekonomi bukan konsep fisik. Kadang-kadang harga tidak mengalami kenaikan dengan langkanya suatu sumber dadya alam dan energi secara fisik, misalnya saja pada kasus sumber daya dan energi milik bersama, adanya substitusi hampir sempurna, dan mungkin juga disebabkan perbaikan teknologi pemetikan hasil. 

    Kedua, menyangkut pada tahap proses pemanfaatan sumber daya alam dan energi diukur kelangkaannya melalui gerakan harga, terutama dalam kaitannya dengan kemungkinan substitusi antar faktor produksi. Misalnya pada tahap penambangan, substitusi modal dan tenaga kerja berakibat lebih banyak bahan tambang bisa diangkat termasukbahan tambang kelas di bawahnya. Sedangakan pada tahap pengolahan, substitusi tersebut terjadipada fase transportasi, peletisasi, pembakaranbahan tambang dan lainnya. Ketiga, berkaitan dengan indeks harga sebagai ukuran kelangkaaan; kadang-kadang perubahan harga tidak mencerminkan kelangkaan disebabkan perubahan tersebut muncul karena adanya peraturan-peraturan baru dari penguasa.

    Dari sudut  empiris beberapa model ekonometri dan trend telah digunakan VK Smith (1976), Barnet (1979) dan lainnya, untuk melihat kelangkaan dari segi harga.

    Dari berbagai pengamatan tersebut Fisher (1981) menyimpulkan bahwa harga sumber daya alam dan energi, paling tidak untuk sumber daya alam dan energi yang habis nampanya mengikuti pola bentuk U. >> Pada mulanya harga turun dengan adnya penemuan-penemuan baru dan penambahan teknologi mampu mengurangi biaya. Namun setelah itu penemuan-penemuan makin jarang dan biaya tidak bisa terus ditekan dan harga mulai naik lagi setelah mencapai titik terendah sebelumnya.

    2. Sewa

    Sewa adalah harga bayangan dari setiap unit sumber daya alam dan energi dalam bentuk stok atau besarnya nilai sekarang stok yang berkurang pada setiap unit pengammbilan sumber daya alam dan energi. Sayang sewa sangat sulit diperoleh. Kalaupun terlebih mencerminkan sewa Ricardian atau sewa berdasar perbedaan kulaitas tanah. Disamping itu, sewa kurang bisa mencerminkan kelangkaan karena tidak adanya “future market” dan sifat milik umum berbagai jenis sumber daya alam dan energi.

    3. Biaya Produksi

    Biaya produksi merupakan salah satu bagian dari keseluruhan biaya dalam pemanfaatan sumber daya alam dan energi. Barnett dan Morse (1963) menggunakan biaya produksi per unit untuk perumusan hipotesis kelangkaan dan

    hipotesis kelangkaan lemah untuk melihat apakah memang telah terjadi kelangkaan sumber daya alam dan energi.

    Hipotesis kelangkaan kuat menyatakan telah terjadi kenaikan biaya per unit ril hasil ekstraktif. Sedangkan hipotesis kelangkaan lemah menyatakan telah terjadi kenaikan biaya per unit hasil ekstraktif dibanding biaya per unit hasil bukan ekstraktif.

    Sektor ekstraktif yang dimaksudkan adlaah penjumlahan sektor-sektor pertanian, kehutanan, mineral dan perikanan. Hasil pengamatan Barnett dan Morse menunjukkan hanya sektor kehutanan yang nyata-nyata menunjukkan kenaikan biaya atau hipotesis kelangkaan kuat dan hipotesis kelangkaan lemah untuk sektor kehutanan tidak ditolak.

     

    P03

    Hubungan antara Penduduk, Industri dan Sumberdaya Alam

    Sumber : Baso, Ari >

    Ada dua hal penting yang dapat dikemukakan dalam kaitannya  dengan penggunaan sumberdaya alam yaitu : apakah sumberdaya  alam itu membatsi pertumbuhan ekonomi dan berapakah tingkat  penggunaan sumberdaya alam yang optimal.

    Pertanyaan yang pertama hubungannya dengan berapa cepat sumberdaya alam itu  dimanfaatkan/dihabiskan dan bagaimana akibat bila terdapat sektor  industri, pertanian dan jasa. Sesungguhnya tidak mudah untuk  mengatakan apakah pengambilan sumberdaya alam kita selama ini  terlalu cepat atau terlalu lamban.

    Sedangkan pertanyaan yang  kedua lebih bersifat teoritis. Ramalan yang mungkin paling pesimis  mengenai masa depan masyarakat industri adalah komitmen yang  berlanjut terhadap pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang  mengakibatkan rusaknya ekologi yang penting bagi adanya  kehidupan manusia.  

    Permasalahanya adalah : 
    bagi para pecinta lingkungan
    (environmentalist) satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia  dari kehancuran adalah hanya dengan menekan laju pertumbuhan ekonomi.

    Sedangan bagi mereka yang mendukung pertumbuhan  ekonomi demi peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang (growthist), berpendapat bahwa gerakan menuju  pada perekonomian yang mapan (steady state economy) justru  akan menghambat investasi dalam bidang perkembangan teknologi  yang diperlukan untuk memecahkan masalah lingkungan. 

    Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi di negara-negara yang sedang berkembang merupakan akibat dari penerunan tingkat  kematian dan masih tetap tingginya tingkat kelahiran dan ini terjadi  terutama di luar sektor industri.


    Pengambilan Sumberdaya Alam dalam Masyarakat Industri

    Banyak sumberdaya alam yang diperlukan oleh masyarakat industri  yang sudah hampir habis dalam arti bahwa tingkat penggunaan  sekarang terlalu tinggi dalam kaitannya dengan jumlah persediaan  sumberdaya alam yang diketahui.

    Semua pihak menyetujui  pernyataan ini, namun ada perbedaan pendapat mengenai implikasi  kebajikan dan cara penanggulangan masalah yang ditimbulkan.

    Bagi mereka yang mendukung pertumbuhan ekonomi masalah  kekeurangan sumberdaya alam hanya sementara sifatnya karena  masalah tersebut dapat diatasi dengan kemajuan teknologi yang  dikaitkan dengan penemuan baru, eksplorasi, pengambilan baru, dan  pengolahan sumberdaya alam.

    Maka dari itu kekurangan sumberdaya  alam dalam arti absolut jarang sekali terjadi.  

    Apakah masalah pengambilan sumberdaya alam itu bersifat temporer atau permanen, tetapi yang jelas adalah bahwa persoalan  itu ada dan sesungguhnya hanya ada tiga kemungkinan cara  pemecahannya : 

    1. Meningkatkan tersedianya sumberdaya alam pada laju yang paling  tidak sama dengan laju penggunaan sumberdaya alam. 
    2. Meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam yang  sekarang ini sudah kita kuasai dan kita ketahui persediaannya. 
    3. Penekanan permintaan terhadap  sumberdaya alam. 

    Masing-masing dari ketiga cara di atas tidak berarti harus saling  meniadakan satu sama lain, melainkan ketiga cara tersebut justru  dapat dipakai secara bersama-sama.

    Beberapa tindakan konservasi sumberdaya alam dapat digunakan secara bersama-sama dengan  tindakan untuk menemukan sumberdaya alam baru guna menunjung  pertumbuhan permintaan akan sumberdaya alam.


    Sumberdaya Alam dan Pencemaran dalam Masyarakat Industri

    Memburuknya lingkungan dan terkurasnya sumberdaya alam sangat dipengaruhi oleh perkembangan sektor industri.

    Misalnya  pengurasan sumberdaya energi sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan  ekonomi, kemudian dengan semakin cepatnya pertumbuhan ekonomi  akan mempercepat pengurasan sumberdaya tersebut.

    Proses ini akan  menghambat pertumbuhan ekonomi lebih lanjut. Jadi karena sumberdaya alam tersebut dibutuhkan untuk pembangunan, suatu  kekurangan dalam sumberdaya energi akan memperlambat  pertumbuhan ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung. 

    Apakah pencemaran lingkungan dan pengurasan sumberdaya  alam selalu terjadi dalam masyarakat industri?apabila memang  demikian maka : 

    1. Mungkin tidak ada cara untuk menghindari pencemaran dan  pengurasan sumberdaya alam kalau tingkat perkembangan  ekonomi tertentu harus dicapai. 
    2. Perubahan sosial yang cepat dan struktur masyarakat yang  kompleks akan tidak memungkinkan untuk menemukan dan  melaksanakan pemecahan terhadap masalah tersebut. 

    Pertanyaan pertama memang berkaitan dengan masalah pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh industrialisasi.  Ancaman terhadap ekosistem dunia disebabkan oleh adanya negara  industri, terutama negara industri maju seperti Amerika Serikat.

    Akan  tetapi ada juga yang mengatakan bahwa memburuknya lingkungan  bukan merupakan akibat dari industrialisasi melainkan karena  kapitalisme dalam industrialisasi tersebut.

    Pemilikan swasta terhadap alat-alat produksi, perekonomian pasar, dan motof mencari laba telah menyebabkan perekonomian menjadi terikat pada tujuan demi untuk  pertumbuhan ekonomi.

    Sebagai kesimpulan bahwa ada hubungan  yang jelas antara industrialisasi dan memburuknya kualitas  lingkungan serta berkurangnya sumberdaya alam.


    Pembangunan dan Lingkungan Hidup di Indonesia

    Pada tahun 1982, undang-undang lingkungan hidup untuk Indonesia dipersiapkan.

    Salah satu alasannya adalah untuk mempertahankan keseimbangan antara kelestarian lingkungan  dengan pembangunan yang sering dilakukan.

    Maksudnya adalah  pengembangan industri di suatu wilayah perlu memperhatikan  lingkungan.

    Sebaliknya adalah manfaat yang berkelanjutan untuk kesejahteraan, sehingga pengelolaan sumberdaya alam dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan tidak hanya mempertimbangkan manfaat kekayaan alam itu dalam sesaat dengan keuntungan yang sebesar-besarnya tetapi yang diperlukan adalah  pengelolaan yang tepat demi kelestarian pembangunan dalam jangka  yang panjang. 

    Cara yang sering digunakan dalam pengelolaan lingkungan ini ialah dengan menginternalisasikan eksternalitas negatif yang disebabkan  oleh pembangunan ekonomi.

    Suatu contoh untuk keserasian guna  pemeliharaan lingkungan dan pembangunan apabila kita mengadakan  intervensi terhadap alam, misalnya pembuatan waduk, terlebih dahulu  harus kita perhatikan dampak positif dan negatifnya.

    Untuk itulah  dikembangkan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).  AMDAL merupakan suatu instrumen yang memungkinkan untuk  melakukan pelestarian lingkungan yang serasi dan seimbang.

     

    P03

    Kebijakan sumber daya alam di Indonesia

    sumber : iclg.com >

    Kebijakan Lingkungan dan Penegakannya

    1.Apa dasar kebijakan lingkungan di yurisdiksi Indonesia dan lembaga / badan mana yang mengatur dan menegakkan hukum lingkungan?

    Perlindungan lingkungan di Indonesia pada prinsipnya diatur oleh UU No. 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup (“UU Lingkungan Hidup”).

    Berdasarkan Undang-Undang Pemerintahan Daerah (Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 yang terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015), yang memberikan otonomi daerah kepada Pemerintah daerah, termasuk perlindungan lingkungan hidup, peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Lingkungan Hidup dirumuskan di tingkat nasional maupun daerah.

    UU Lingkungan terutama dikelola dan ditegakkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (“KLH”), Gubernur, dan Bupati / Walikota sesuai dengan kewenangannya masing-masing.

    Lembaga lain juga telah dibentuk untuk menangani isu-isu khusus terkait dengan perlindungan lingkungan, misalnya, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (“BPLHD”) untuk pengendalian daerah,

    Komisi Penilai AMDAL untuk mengelola penilaian dampak lingkungan ("AMDAL"), Dewan Sumber Daya Air Nasional untuk pengendalian sumber daya air, dan Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan .

    2 Pendekatan apa yang diambil lembaga / badan tersebut untuk penegakan hukum lingkungan?

    KLH, Gubernur, dan Bupati / Walikota sesuai dengan kewenangannya masing-masing - untuk tujuan antara lain melindungi dan mengelola lingkungan, serta mengawasi kepatuhan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas usaha dan / atau kegiatan di wilayahnya terhadap peraturan terkait. di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan dengan izin lingkungan - dapat mengangkat pejabat pengawas lingkungan dari kalangan pegawai negeri pada instansi teknis yang bertanggung jawab di bidang lingkungan.

    Setiap provinsi dan kabupaten / kota memiliki instansi teknis yang membidangi lingkungan hidup di daerahnya masing-masing. Misalnya, Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (“BPLHD”), yang didirikan di tingkat provinsi atau kabupaten / kota, memantau dan mengendalikan kegiatan yang dapat merusak lingkungan, melaksanakan kebijakan lingkungan yang dirumuskan oleh KLH, dan mengeluarkan peringatan kepada pihak-pihak yang melanggar lingkungan. peraturan.

    Komisi Penilai AMDAL menilai dokumen lingkungan dan memberikan masukan dan pertimbangan dasar untuk pengambilan keputusan dan kelayakan lingkungan usaha / kegiatan kepada KLH, Gubernur, atau Bupati / Walikota. Dewan Sumber Daya Air Nasional merumuskan peraturan nasional dan strategi pengelolaan sumber daya air, dan memberikan pertimbangan untuk penentuan wilayah sungai dan cekungan air tanah serta pengendalian dan evaluasinya.

    KLH baru-baru ini membentuk Satuan Keamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan dan Hutan yang melakukan kegiatan untuk mengurangi gangguan, ancaman dan pelanggaran hukum lingkungan dan kehutanan.

    1.3 Sejauh mana otoritas publik diperlukan untuk memberikan informasi terkait lingkungan kepada orang-orang yang berkepentingan (termasuk anggota masyarakat)?

    Berdasarkan UU Lingkungan Hidup, setiap orang berhak mengakses data atau informasi terkait perlindungan dan pengelolaan lingkungan, yang menurut sifat dan tujuannya terbuka untuk umum, seperti dokumen analisis mengenai dampak lingkungan, laporan, dan evaluasi hasil lingkungan. pemantauan, baik untuk kepatuhan atau perubahan kualitas lingkungan dan rencana tata letak.

    UU Lingkungan Hidup mewajibkan KLH, Gubernur atau Bupati / Walikota sesuai dengan kewenangannya masing-masing untuk mempublikasikan setiap permohonan dan keputusan izin lingkungan serta menyelenggarakan partisipasi masyarakat, terutama untuk memberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan dalam audiensi yang merupakan bagian dari keputusan izin lingkungan.

    Berdasarkan Undang-Undang Lingkungan dan Peraturan KLH No. 6 tahun 2011, KLH memiliki sistem informasi publik lingkungan yang terintegrasi dan terkoordinasi untuk mempublikasikan informasi sesuai permintaan dari publik dan mengumumkan, antara lain, situs web resmi KLH dan papan pengumuman. .


    Izin Lingkungan

    1 Kapan izin lingkungan diperlukan, dan apakah izin lingkungan dapat dialihkan dari satu orang ke orang lain?

    Izin lingkungan diperlukan untuk mendapatkan izin usaha untuk setiap usaha dan / atau kegiatan yang membutuhkan AMDAL atau Program Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (“UKL – UPL”).

    Berdasarkan Undang-Undang Lingkungan dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 tahun 2012, kriteria usaha dan / atau kegiatan yang memerlukan AMDAL mencakup kriteria yang: menyebabkan perubahan pada pembentukan lahan dan lanskap; mengeksploitasi sumber daya alam, baik terbarukan maupun tidak terbarukan; berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan / atau kerusakan serta pemborosan dan perusakan sumber daya alam dalam pemanfaatannya; dan menerapkan teknologi yang diperkirakan memiliki potensi signifikan untuk mempengaruhi lingkungan. UKL – UPL antara lain diperlukan untuk usaha dan / atau kegiatan yang tidak memenuhi kriteria persyaratan memiliki AMDAL,

    Berdasarkan Peraturan Pemerintah (“PP”) No. 27 tahun 2012, dalam hal terjadi perubahan kepemilikan usaha, izin lingkungan dapat dialihkan dari pemilik awal kepada penggantinya dengan mengajukan permohonan perubahan lingkungan yang ada. izin kepada KLH, Gubernur atau Bupati / Walikota sesuai dengan kewenangannya.

    2 Hak apa yang ada untuk mengajukan banding terhadap keputusan regulator lingkungan untuk tidak memberikan izin lingkungan atau sehubungan dengan kondisi yang tercantum dalam izin lingkungan?

    Peraturan lingkungan tidak memberikan hak banding atas keputusan tersebut.

    Namun demikian, berdasarkan Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009), keputusan-keputusan pejabat administrasi Negara yang bersifat konkrit, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum, dapat menjadi dasar gugatan di pengadilan administratif.

    Oleh karena itu, keputusan regulator lingkungan yang tidak memberikan izin lingkungan dapat dibawa ke pengadilan administrasi. Peraturan KLH No. 17 tahun 2012 memperbolehkan siapa saja untuk mengajukan gugatan di PTUN atas keputusan izin lingkungan.

    3 Apakah perlu melakukan audit lingkungan atau penilaian dampak lingkungan terutama untuk industri yang berpolusi atau instalasi / proyek lain?

    Bisnis / aktivitas apa pun yang mungkin berdampak signifikan terhadap lingkungan memerlukan AMDAL. Ini termasuk industri Polusi atau instalasi / proyek.

    Kriteria dampak signifikan dan jenis usaha / kegiatan yang membutuhkan AMDAL diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 tahun 2012 (seperti yang dijelaskan pada pertanyaan 2.1. Di atas).

    Audit Lingkungan untuk mengevaluasi kepatuhan terhadap persyaratan dan kebijakan Pemerintah hanya diperlukan untuk bisnis atau kegiatan 'berisiko tinggi' tertentu (misalnya, petrokimia, kilang minyak dan gas, dan pembangkit listrik tenaga nuklir) dan jika terjadi ketidakpatuhan terhadap peraturan .

    4 Kekuatan penegakan hukum apa yang dimiliki oleh regulator lingkungan sehubungan dengan pelanggaran izin?

    Sanksi administratif dapat dikenakan untuk pelanggaran izin lingkungan.

    Ini termasuk peringatan tertulis, tindakan wajib (termasuk penghentian produksi atau semua kegiatan bisnis, pembatalan fasilitas produksi, penutupan saluran pembuangan air limbah atau emisi, pembongkaran, penyitaan barang atau peralatan yang berpotensi menyebabkan pelanggaran, dan tindakan lainnya. ditujukan untuk menghentikan pelanggaran dan memulihkan fungsi lingkungan) dan penangguhan, atau pencabutan, izin lingkungan. Memperbaiki kerusakan yang terjadi pada lingkungan mungkin juga diperlukan.


    Limbah

    1 Bagaimana limbah didefinisikan dan apakah kategori limbah tertentu melibatkan tugas atau kendali tambahan?

    Undang-Undang Lingkungan membagi limbah menjadi:

    (a) residu dari suatu usaha / kegiatan; dan

    (b) Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (“B3”) yaitu sisa suatu usaha / kegiatan yang mengandung zat, energi dan / atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi dan / atau jumlahnya dapat mencemari baik secara langsung maupun tidak langsung. dan / atau merusak lingkungan, kesehatan masyarakat, dan kelangsungan hidup manusia serta bentuk kehidupan lainnya.

    UU Lingkungan Hidup mewajibkan semua penghasil Limbah B3 atau bahan B3 kadaluarsa untuk mengelola Limbah B3 dan memiliki izin dari KLH, Gubernur dan / atau Bupati / Walikota sesuai dengan kewenangannya masing-masing.

    Selanjutnya menurut PP No. 101 Tahun 2014 (“PP 101/2014”), Penghasil Limbah B3 wajib melaksanakan pengelolaan Limbah B3, meliputi pengurangan, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan / atau penimbunan Limbah B3. PP 101/2014 membagi Limbah B3 menjadi dua kategori berdasarkan risikonya:

    (i) Limbah B3 yang bersifat akut dan berdampak langsung terhadap manusia dan lingkungan (“Limbah B3 Kategori 1”); dan

    (ii) Limbah B3 yang memiliki efek tertunda dan berdampak tidak langsung pada manusia dan lingkungan serta toksisitas subkronis atau kronis (“Limbah B3 Kategori 2”). Menurut sumbernya, Limbah B3 terdiri dari: (i) Limbah B3 dari sumber non spesifik; (ii) Limbah B3 dari B3 kadaluarsa, B3 tumpah, atau B3 yang tidak memenuhi spesifikasi produk yang akan dibuang dan bekas kemasan B3; dan (iii) Limbah B3 dari sumber spesifik baik dari sumber umum spesifik maupun sumber khusus khusus.

    2 Sampai sejauh mana produsen limbah diperbolehkan menyimpan dan / atau membuangnya di tempat produksinya?

    Berdasarkan PP 101/2014, produsen Limbah B3 dapat menyimpan hingga 50kg Limbah B3 per hari hingga 90 hari setelah produksi. Jika Limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50kg per hari, produsen dapat menyimpan Limbah B3 selama 180 hari setelah produksi untuk Limbah B3 Kategori 1, dan 365 hari setelah produksi untuk Limbah B3 Kategori 2 dari sumber non spesifik dan sumber umum spesifik.

    Untuk Limbah B3 Kategori 2 dari sumber khusus tertentu, produsen dapat menyimpan Limbah B3 tersebut selama 365 hari setelah produksi. Produsen harus memiliki Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk menyimpan Limbah B3. Lisensi ini berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang.

    3 Apakah produsen limbah tetap memiliki kewajiban sisa sehubungan dengan limbah yang telah mereka pindahkan ke orang lain untuk dibuang / diolah di luar lokasi (misalnya jika penerima pengalihan / pembuang akhir bangkrut / menghilang)?

    Berdasarkan PP 101/2014, pemindahan Limbah B3 ke pihak lain untuk dibuang / diolah di luar lokasi tidak mengurangi tanggung jawab produsen atas pengelolaan Limbah B3 yang dihasilkannya. Oleh karena itu, produsen tetap memiliki kewajiban sisa untuk Limbah B3-nya.

    4 Sejauh mana produsen limbah memiliki kewajiban terkait pengambilan kembali dan pemulihan limbah mereka?

    PP 101/2014 mewajibkan produsen Limbah B3 untuk melaksanakan pengelolaan Limbah B3, meliputi pengurangan, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, penimbunan, dan kepemilikan izin yang diperlukan untuk kegiatan tersebut.

    Kegiatan ini bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi risiko yang mungkin timbul dari Limbah B3 dan juga mengurangi pembuangan Limbah B3, sehingga utamanya digunakan sebagai upaya terakhir.

    Dalam hal penghasil Limbah B3 tidak dapat melakukannya, dapat mengalihkan kegiatan pengumpulan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan Limbah B3 kepada pihak lain yang memiliki izin terkait. Namun demikian, Penghasil Limbah B3 tetap bertanggung jawab atas Limbah B3 yang mereka hasilkan bahkan setelah dipindahkan dan / atau diekspor ke pihak ketiga untuk dibuang atau dikelola.

    Kewajiban

    1 Jenis kewajiban apa yang dapat timbul jika ada pelanggaran hukum dan / atau izin lingkungan, dan pertahanan apa yang biasanya tersedia?

    Undang-undang Lingkungan memiliki ketentuan tanggung jawab yang ketat yang berlaku untuk setiap pihak yang terlibat dalam bisnis dan / atau kegiatan yang menggunakan B3, memproduksi dan / atau mengelola Limbah B3 dan / atau menyebabkan ancaman serius terhadap lingkungan sehingga bertanggung jawab penuh atas segala kerusakan. tanpa penggugat harus membuktikan bahwa pihak tersebut bersalah.

    Terdakwa dapat berargumen bahwa kompensasi yang dapat dimintakan harus dibatasi pada jumlah tertentu sesuai dengan Peraturan KLH No. 7 tahun 2014 tentang Kompensasi untuk Pencemaran dan / atau Kerusakan Lingkungan (“Peraturan KLH 7/2014”) sebagai pedoman untuk menghitung kompensasi dan tindakan perbaikan yang harus diambil.

    2 Dapatkah operator bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan meskipun aktivitas pencemaran beroperasi dalam batas izin?

    UU Lingkungan Hidup menerapkan prinsip tanggung jawab yang ketat, yang berarti bahwa meskipun orang yang dinyatakan bersalah tidak bersalah atau lalai, dia dapat dimintai pertanggungjawaban atas kerusakan lingkungan yang terjadi.

    3 Dapatkah direktur dan pejabat perusahaan menarik tanggung jawab pribadi atas kesalahan lingkungan, dan sejauh mana mereka dapat memperoleh asuransi atau mengandalkan perlindungan ganti rugi lain sehubungan dengan kewajiban tersebut?

    Berdasarkan Undang-Undang Lingkungan Hidup, sanksi pidana dapat dijatuhkan kepada badan usaha dan / atau orang yang memberi perintah atau bertindak sebagai pemimpin dalam tindak pidana yang dilakukan oleh, untuk, atau atas nama badan usaha. Jika kejahatan dilakukan atas perintah direktur atau pejabat perusahaan lainnya, mereka dapat dimintai pertanggungjawaban.

    Peraturan KLH No. 18 tahun 2009 (“Peraturan KLH 18/2009”) mensyaratkan perusahaan yang kegiatan utamanya adalah pengelolaan limbah B3 memiliki perlindungan asuransi lingkungan sekurang-kurangnya Rp5 miliar. Direksi dan pejabat lainnya hanya boleh memiliki asuransi untuk pengelolaan Limbah B3.

    4 Apa implikasi yang berbeda dari perspektif kewajiban lingkungan dari penjualan saham di satu sisi dan pembelian aset di sisi lain?

    Terlepas dari penjualan saham, tanggung jawab lingkungan tetap ada pada perusahaan, kecuali jika dapat dibuktikan bahwa pembeli melakukan intervensi dengan memberikan perintah atau memimpin aktivitas yang mengarah pada tanggung jawab lingkungan untuk, atau atas nama, perusahaan.

    Pembeli aset tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas kerusakan lingkungan apa pun yang disebabkan oleh perusahaan. Tanggung jawab dapat dialihkan kepada pembeli jika diakui dalam perjanjian jual beli.

    5 Sejauh mana pemberi pinjaman dapat bertanggung jawab atas kesalahan lingkungan dan / atau biaya perbaikan?

    Berdasarkan Undang-Undang Lingkungan, tanggung jawab atas pelanggaran lingkungan yang dilakukan oleh badan usaha dipegang oleh badan usaha dan / atau orang yang memberi perintah atau bertindak sebagai pemimpin dari setiap kejahatan yang dilakukan oleh, untuk, atau atas nama badan usaha. .

    Pemberi pinjaman hanya dapat dimintai pertanggungjawaban atas kesalahan lingkungan atau biaya perbaikan sejauh yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman.


    Lahan Terkontaminasi

    1 Apa pendekatan tanggung jawab atas kontaminasi (termasuk kontaminasi historis) tanah atau air tanah?

    Berdasarkan Undang-Undang Lingkungan, pihak yang bersalah mencemari tanah atau air tanah mungkin diminta untuk melakukan tindakan tertentu dan / atau membayar kompensasi.

    Tindakan tersebut dapat mencakup pemulihan pencemaran dan / atau perusakan, tindakan tertentu untuk menjamin bahwa tidak akan terjadi pencemaran atau perusakan yang berulang, dan tindakan tertentu untuk mencegah dampak negatif terhadap lingkungan.

    2 Bagaimana tanggung jawab dialokasikan di mana lebih dari satu orang bertanggung jawab atas kontaminasi?

    Tanggung jawab dialokasikan melalui keputusan pengadilan atau persetujuan yang dicapai melalui kesepakatan di antara para pihak yang berselisih melalui mekanisme penyelesaian sengketa lingkungan.

    3 Jika program remediasi lingkungan "disetujui" dengan regulator lingkungan, dapatkah regulator kembali dan memerlukan pekerjaan tambahan atau dapatkah pihak ketiga menggugat perjanjian tersebut?

    Setelah para pihak menandatangani perjanjian penyelesaian yang diremediasi di luar pengadilan, mereka harus mendaftarkan perjanjian penyelesaian dengan pengadilan negeri untuk mendapatkan akta penyelesaian yang dapat diberlakukan secara hukum. Kemudian, tidak ada pihak, atau pihak ketiga mana pun yang dapat menggugat perjanjian tersebut.

    4 Apakah seseorang memiliki hak tindakan pribadi untuk mencari kontribusi dari pemilik sebelumnya atau penghuni tanah yang terkontaminasi ketika pemilik tersebut menyebabkan, secara keseluruhan atau sebagian, kontaminasi; dan sejauh mana mungkin pencemar untuk mengalihkan risiko tanggung jawab tanah yang terkontaminasi kepada pembeli?

    Siapapun yang menderita kerugian karena kontaminasi oleh pemilik atau penghuni sebelumnya berhak mengambil tindakan untuk mencari ganti rugi. Berdasarkan UU Lingkungan Hidup, pencemar bertanggung jawab untuk mengelola lahan yang tercemar Limbah B3 yang dihasilkannya. Oleh karena itu, kewajiban tidak dapat dialihkan kepada pembeli, kecuali pembeli mengakui risiko Limbah B3 dalam perjanjian jual beli.

    5 Apakah pemerintah memiliki kewenangan untuk mendapatkan dari pencemar, kerusakan moneter untuk kerugian estetika aset publik, misalnya sungai?

    Ya, berdasarkan Peraturan KLH 7/2014, estetika merupakan salah satu faktor yang digunakan untuk menghitung kompensasi yang harus dibayarkan kepada Pemerintah.


    Kekuasaan Regulator

    1 Kewenangan apa yang harus dimiliki oleh pengatur lingkungan untuk menghasilkan dokumen, mengambil sampel, melakukan inspeksi lokasi, mewawancarai karyawan, dll.?

    Pejabat pengawas lingkungan yang ditunjuk oleh KLH, Gubernur, dan Bupati / Walikota memiliki kewenangan dan kewenangan untuk memantau dan memeriksa peralatan serta mengambil sampel dan foto, berdasarkan UU Lingkungan Hidup.

    Hal ini untuk memastikan kepatuhan semua pihak yang bisnis / kegiatannya dicakup oleh peraturan lingkungan dan manajemen.


    Kewajiban Pelaporan / Pengungkapan

    1 Jika polusi ditemukan di suatu situs, atau ditemukan bermigrasi ke luar situs, haruskah hal itu diungkapkan kepada regulator lingkungan atau pihak ketiga yang berpotensi terkena dampak?

    Berdasarkan UU Lingkungan Hidup, pelaporan adalah hak setiap orang, bukan kewajiban.

    Setiap orang berhak melaporkan dugaan pencemaran dan / atau perusakan lingkungan hidup kepada Menteri, Gubernur, Bupati / Walikota, kepala instansi Pemerintah daerah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup.

    2 Kapan dan dalam keadaan apa seseorang memiliki kewajiban afirmatif untuk menyelidiki tanah untuk kontaminasi?

    Berdasarkan Undang-Undang Lingkungan, penyidik ​​polisi atau pegawai negeri akan menyelidiki dugaan kejahatan lingkungan setelah menerima laporan.

    Mereka kemudian akan memanggil pelapor dan tersangka, diikuti oleh para saksi dan ahli untuk mengumpulkan semua fakta, dan memberikan bukti yang relevan sebelum memutuskan apakah akan menuntut.

    3 Sejauh mana perlu untuk mengungkapkan masalah lingkungan, misalnya oleh penjual kepada calon pembeli dalam konteks transaksi merger dan / atau pengambilalihan?

    Tidak ada persyaratan khusus berdasarkan Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UUPT”) bagi penjual untuk mengungkapkan masalah lingkungan kepada calon pembeli.

    Namun, perusahaan yang melakukan transaksi merger dan / atau pengambilalihan diharuskan untuk mengungkapkan setiap masalah yang mempengaruhi aktivitas mereka selama tahun buku berjalan. Ini mungkin termasuk masalah lingkungan.


    Umum

    1 Apakah mungkin menggunakan ganti rugi lingkungan untuk membatasi eksposur untuk kewajiban terkait lingkungan aktual atau potensial, dan apakah melakukan pembayaran kepada orang lain di bawah ganti rugi sehubungan dengan suatu masalah (misalnya remediasi) membebaskan potensi kewajiban pemberi ganti rugi untuk masalah itu?

    Pada prinsipnya penanggung jawab usaha atau kegiatan yang mengakibatkan pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup wajib membayar ganti rugi dan / atau melakukan tindakan perbaikan, serta dapat dikenakan sanksi pidana.

    Dalam kontrak, penjual dan pembeli mungkin setuju untuk membatasi eksposur mereka terhadap tanggung jawab lingkungan. Namun, sanksi pidana tetap dapat dijatuhkan kepada perusahaan atas kejahatan lingkungan.

    2 Apakah mungkin untuk melindungi kewajiban lingkungan dari neraca, dan dapatkah perusahaan dibubarkan untuk menghindari kewajiban lingkungan?

    Baik melindungi kewajiban lingkungan dari neraca, atau melarikan diri dari kewajiban lingkungan melalui pembubaran perusahaan adalah mungkin. Berdasarkan Undang-Undang Lingkungan, kerugian harus dibayar oleh bisnis untuk setiap kerusakan lingkungan atau polusi yang disebabkan oleh aktivitasnya. Itu juga harus mengambil tindakan perbaikan dan dapat dikenakan sanksi pidana.

    3 Dapatkah seseorang yang memiliki saham di perusahaan dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran hukum lingkungan dan / atau pencemaran yang disebabkan oleh perusahaan, dan dapatkah perusahaan induk dituntut di pengadilan nasionalnya atas pencemaran yang disebabkan oleh anak perusahaan / afiliasi asing?

    Berdasarkan Undang-Undang Lingkungan, untuk kejahatan korporasi (kejahatan yang dilakukan oleh, untuk, atau atas nama badan usaha), sanksi dijatuhkan pada entitas (diwakili oleh manajemen yang diberi kewenangan untuk bertindak atas namanya) dan / atau orang yang memberi perintah untuk melakukan kejahatan atau bertindak sebagai pemimpin dalam tindak pidana.

    Sanksi tambahan dapat diterapkan pada perusahaan, seperti penutupan perusahaan dan / atau aktivitas (seluruhnya atau sebagian) dan pengenaan kewajiban untuk memperbaiki dampak kejahatan atau untuk memperbaiki kerusakan lingkungan.

    Oleh karena itu, pemegang saham tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas pelanggaran Hukum Lingkungan dan begitu pula perusahaan induk.

    4 Apakah ada undang-undang untuk melindungi "whistle-blower" yang melaporkan pelanggaran / masalah lingkungan?

    Tidak ada regulasi khusus mengenai perlindungan whistle-blower dalam pelanggaran / masalah lingkungan. Namun, berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung No. 4 tahun 2011, beberapa perlindungan whistle-blower diberikan untuk kejahatan seperti korupsi, pencucian uang, perdagangan narkoba, terorisme, perdagangan manusia, dan kejahatan terorganisir lainnya.

    5 Apakah tindakan kelompok atau "kelompok" tersedia untuk mengejar klaim lingkungan, dan apakah tersedia hukuman atau kerusakan contoh?

    Ya, menurut Pasal 91 UU Lingkungan Hidup, masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan kelompok atas nama sendiri dan / atau untuk kepentingan masyarakat, atas kerugian yang diderita akibat pencemaran dan / atau kerusakan lingkungan. Prosedur gugatan perwakilan kelompok diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung No. 1 tahun 2002.

    Berdasarkan Undang-Undang Lingkungan Hidup, tersedia hukuman atau ganti rugi dan dapat dikenakan untuk kejahatan lingkungan tertentu.

    6 Apakah individu atau kelompok kepentingan publik mendapat manfaat dari pengecualian apa pun dari kewajiban untuk membayar biaya saat mengejar litigasi lingkungan?

    Berdasarkan UU No. 48 tahun 2009 tentang The Powers of the Judiciary, penggugat dapat meminta pengecualian dari kewajiban untuk membayar biaya pengadilan saat mengejar litigasi. Jika penggugat tidak memiliki sumber daya ekonomi untuk membayar biaya, mereka akan dibayar oleh Negara.


    Perdagangan Emisi dan Perubahan Iklim

    1 Skema perdagangan emisi apa yang beroperasi di yurisdiksi Indonesia dan bagaimana pasar perdagangan emisi berkembang di sana?

    Indonesia menerapkan mekanisme pembangunan bersih (“CDM”), yang menghasilkan kredit emisi melalui proyek-proyek pengurangan emisi gas rumah kaca di berbagai sektor.

    CDM adalah salah satu mekanisme di bawah Protokol Kyoto, yang akan berakhir pada tahun 2020. Peraturan Presiden tentang Rencana Aksi Negara untuk Mengurangi Efek Rumah Kaca dikeluarkan pada tahun 2011 dan menetapkan berbagai kegiatan yang secara langsung atau tidak langsung dapat mengurangi efek rumah kaca di pertanian. , energi dan transportasi, kehutanan dan lahan gambut, kawasan industri, dan pengelolaan limbah, serta cara memantau dan melaporkan emisi gas rumah kaca.

    Dalam rangka mengurangi emisi gas rumah kaca dan mitigasi perubahan iklim, Pemerintah Indonesia juga memiliki program yang disebut Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan Plus (“REDD +”). REDD + mendapatkan momentum besar di Indonesia, terutama setelah Pemerintah menandatangani letter of intent (“LoI”) dengan Norwegia pada 2010.

    Pada 2015, Peraturan Presiden No. 16/2015 dikeluarkan di mana BP REDD + dan Dewan Nasional Perubahan Iklim (“DNPI”) diintegrasikan ke dalam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. KLH kini telah mengeluarkan pedoman untuk mempersiapkan aksi adaptasi perubahan iklim.

    2 Selain skema perdagangan emisi yang disebutkan dalam pertanyaan 9.1 di atas, apakah ada persyaratan lain untuk memantau dan melaporkan emisi gas rumah kaca?

    Berbagai regulasi terkait CDM telah dikeluarkan untuk sektor terkait, seperti energi, pembangkit listrik, dan kehutanan. Misalnya, Peraturan Menteri Kehutanan No. P.14 / Menhut-II / 2004 mengatur tata cara aforestasi dan reforestasi dalam kerangka CDM.

    Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 206 tahun 2005 membentuk Komisi Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih yang peran utamanya adalah menyetujui proyek CDM yang diusulkan jika memenuhi kriteria pembangunan berkelanjutan nasional dan untuk memantau dan mengevaluasi kemajuan setiap proyek.

    3 Apa pendekatan kebijakan keseluruhan untuk regulasi perubahan iklim di yurisdiksi Indonesia?

    Pendekatan kebijakan utama secara keseluruhan adalah untuk mengurangi efek rumah kaca, seperti yang ditunjukkan dalam Rencana Tindakan Negara Bagian untuk Mengurangi Efek Rumah Kaca. Indonesia juga telah meratifikasi United Nations Framework Convention on Climate Change (berdasarkan UU No. 6 tahun 1994) dan Protokol Kyoto (berdasarkan UU No. 17 tahun 2004).

    Sejak meratifikasi kedua konvensi tersebut, berdasarkan UU Lingkungan Hidup, Pemerintah, melalui KLH, memiliki tugas untuk mengidentifikasi emisi gas rumah kaca.

    Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mensyaratkan identifikasi emisi gas rumah kaca untuk merumuskan kebijakan perubahan iklim. KLH juga telah mengeluarkan pedoman untuk mempersiapkan aksi adaptasi perubahan iklim.

    Selanjutnya, KLH juga telah membentuk Satuan Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan yang,


    Asbes

    1 Apa pengalaman litigasi asbes di yurisdiksi Indonesia?

    Karena Indonesia tidak melarang asbes, hingga saat ini tidak ada kasus terkait litigasi asbes.

    2 Apa tugas pemilik / penghuni lokasi terkait dengan asbes di lokasi?

    Berdasarkan Keputusan 1985, manajemen badan usaha (yaitu pemberi kerja) yang menggunakan asbes (atau B3) harus menyediakan alat pelindung (pakaian) kepada pekerjanya. Itu juga harus mengukur partikel debu asbes di udara di lingkungan kerja setiap tiga bulan atau dengan frekuensi tertentu.

    Sistem ventilasi yang tepat harus dipasang di setiap area / ruangan kerja dan harus diperiksa setiap tiga bulan. Hasil inspeksi ini harus disimpan dalam arsip setidaknya selama tiga tahun.

    Limbah asbes harus dibuang dengan menyebarkannya secara merata di tanah dan menutupinya dengan tanah hingga kedalaman minimal 25 cm atau dengan cara lain yang sesuai.


    Kewajiban Asuransi Lingkungan

    1 Jenis asuransi lingkungan apa yang tersedia di pasar, dan seberapa besar peran asuransi risiko lingkungan di yurisdiksi Indonesia?

    Hanya satu jenis asuransi lingkungan untuk menutupi dampak limbah B3 tersedia di Indonesia.

    Hal ini diwajibkan dalam Permenkes 18/2009 yang mewajibkan setiap perusahaan yang kegiatan utamanya mengelola dan / atau mengolah limbah B3 yang bukan berasal dari kegiatannya sendiri memiliki jaminan lingkungan untuk pengelolaan limbah B3-nya.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2014 terdapat 83 perusahaan asuransi kerugian di Indonesia. Namun, hanya sedikit dari mereka yang menyediakan asuransi lingkungan di pasar.

    2 Apa pengalaman klaim asuransi lingkungan di yurisdiksi Indonesia?

    Sayangnya, kami mengetahui tidak ada klaim asuransi lingkungan yang diajukan di Indonesia. Karena UU Lingkungan relatif baru, tidak ada preseden untuk klaim asuransi lingkungan.


    Update

    Pada awal tahun 2017, Pemerintah digugat oleh masyarakat yang dinilai tidak berbuat cukup banyak untuk mengatasi bencana kebakaran hutan di Kalimantan.

    Dalam putusannya atas perkara Nomor 3555 K / PDT / 2018, hakim Pengadilan Negeri menilai bahwa penanggulangan bencana di negara manapun, termasuk Indonesia, adalah tanggung jawab pemerintah, oleh karena itu tindakan hukum Penggugat merupakan cara yang tepat dan tepat untuk buat pemerintah sadar akan masalah tersebut.

    Putusan pengadilan termasuk perintah berikut kepada Pemerintah:

    • Presiden Jokowi harus mengeluarkan peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang penting untuk pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, dengan melibatkan peran serta masyarakat;
    • Presiden harus mengeluarkan Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden sebagai dasar hukum pembentukan tim gabungan untuk menangani masalah lingkungan; dan
    • Gubernur Kalimantan harus membentuk tim khusus penanggulangan dini kebakaran hutan, lahan dan perkebunan di seluruh Provinsi Kalimantan Tengah di setiap wilayah desa yang beranggotakan masyarakat setempat.

    Putusan tersebut dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi pada 22 Maret 2017. Pemerintah kemudian mengajukan banding ke Mahkamah Agung, namun pada Juli 2019, Mahkamah Agung memutuskan untuk memenangkan Penggugat dan membatalkan kasasi Pemerintah.

     

    P04 & 05

    P04 & 05

    Pembangunan Berkelanjutan

    Sumber :  Youmatter 

    Definisi Pembangunan Berkelanjutan

    Pembangunan berkelanjutan merupakan gagasan dimana masyarakat harus hidup dan memenuhi kebutuhannya tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.

    Definisi “resmi” dari pembangunan berkelanjutan dikembangkan untuk pertama kalinya dalam Laporan Brundtland pada tahun 1987.

    Secara spesifik, pembangunan berkelanjutan merupakan cara pengorganisasian masyarakat agar dapat eksis dalam jangka panjang dimana setiap aktifitas harus memperhatikan kebutuhan saat ini dan masa depan, seperti pelestarian lingkungan dan sumber daya alam atau keadilan sosial dan ekonomi.

    Apa saja 100 Perusahaan Dengan Reputasi CSR Terbaik?


    Relevansi Ide Pembangunan Berkelanjutan

    Revolusi industri memiliki keterkaitan gagasan pembangunan berkelanjutan. Sejak paruh kedua abad ke-19, masyarakat Barat mulai menemukan bahwa aktivitas ekonomi dan industri berdampak signifikan terhadap lingkungan dan keseimbangan sosial.

    Beberapa krisis ekologi dan sosial terjadi di dunia dan meningkatkan kesadaran bahwa diperlukan model yang lebih berkelanjutan.

    Beberapa contoh krisis ekonomi dan sosial yang mengguncang dunia pada abad ke-20:

    Dan beberapa contoh krisis ekologi:


    The Tragedy of Commons dan Pembangunan Berkelanjutan [1968]

    Pada tahun 1968, ahli ekologi dan filsuf Garret Hardin menulis esai berjudul Tragedy of the Commons yang menulis jika individu bertindak secara mandiri, rasional, dan fokus pada kepentingan individu, pada akhirnya akan bertentangan dengan kepentingan bersama komunitas yang pada akhirnya akan menghabiskan sumber daya alam planet ini.

    Dengan cara ini, akses bebas manusia yang tidak terbatas dalam mengkonsumsi sumber daya terbatas akan menghabiskan sumber daya yang ada.

    Hardin percaya bahwa karena manusia dapat berkembang biak tanpa batas, sumber daya Bumi pada akhirnya akan dieksploitasi secara berlebihan.

    Di matanya, umat manusia perlu secara radikal mengubah cara menggunakan sumber daya bersama untuk menghindari bencana di masa depan – ini akan menjadi cara untuk tetap berada di jalur pembangunan berkelanjutan.

    Apakah Energi Terbarukan itu?

    Mobil Hidrogen VS Listrik: Apa yang Lebih Berkelanjutan?


    Batas Pertumbuhan Dan Pembangunan Berkelanjutan [1972]

    Beberapa tahun setelah esai Hardin, pada tahun 1972, Meadows et al., (ditugaskan oleh Club of Rome), menjalankan simulasi komputer yang bertujuan untuk memprediksi konsekuensi dari apa yang dapat terjadi di planet dengan sumber daya terbatas.

    Interaksi antara 5 variabel berbeda :
    1. pertumbuhan populasi dunia,
    2. industrialisasi,
    3. pembentukan polusi,
    4. produksi pangan, dan
    5. penipisan sumber daya tak terbarukan
    selanjutnya dianalisis, dengan mempertimbangkan skenario di mana variabel-variabel ini tumbuh secara eksponensial dan kemampuan teknologi untuk meningkatkan sumber daya bersifat linier.

    Skenario akhir memperlihatkan bahwa keruntuhan ekonomi dan sosial akan terjadi pada akhir abad ke-21 jika manusia tidak membatasi pertumbuhan.

    Setelah lebih dari 4 dekade  prediksi ini tampaknya benar dalam hal polusi dan konsekuensinya – mengancam pembangunan berkelanjutan.

    Benarkah Kita Perlu Berhenti Memiliki Bayi Agar Benar-Benar Berkelanjutan?

    Planet VS Ekonomi: Bagaimana Coronavirus Mengurai Sistem yang Tidak Fungsional


    Konferensi PBB Pertama Tentang Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan [1972]

    Ketika pengetahuan dunia tentang politik global berkembang, konferensi bertemakan lingkunanga pertama diselenggarakan.

    Pada tahun 1972, di Stockholm diadakan Konferensi PBB tentang lingkungan – pertemuan para pemimpin besar dunia pertama yang diselenggarakan oleh PBB untuk membahas dampak manusia terhadap lingkungan dan bagaimana hal itu terkait dengan pembangunan ekonomi.

    Salah satu tujuan utama dari pertemuan ini adalah menemukan kesamaan pandangan dan prinsip-prinsip yang sama untuk menginspirasi dan membimbing penduduk dunia untuk melestarikan “lingkungan manusia”.

    Konferensi Dunia Penting Tentang Pembangunan Berkelanjutan


    Indeks Pembangunan Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan [1980]

    Untuk melakukannya,  digunakan variabel seperti kesehatan, pendidikan, aliran keuangan, mobilitas atau keamanan manusia, antara lain.

    Setiap tahun Program Pembangunan PBB memberi peringkat negara-negara berdasarkan laporan HDI yang dirilis bersama dengan laporan tahunan mereka. Ini berfungsi sebagai cara berkala untuk memantau tingkat perkembangan negara.

    Apa Kota Paling Hijau di Dunia?

    Mengapa Kita Membutuhkan Kota yang Tangguh?


    HDI & Jejak Ekologis – Mencapai Pembangunan Berkelanjutan

    Idealnya  :
    umat manusia harus mencapai titik di mana setidaknya nilai  HDI minimum tercapai dan hidup di bawah jejak ekologis maksimum per kapita.

    Hidup di atas HDI minimum akan menjamin terpenuhinya kebutuhan manusia seperti pendidikan atau kesehatan.

    Jejak ekologis (footprint) mewakili batas konsumsi maksimum per orang menurut kapasitas ekologis Bumi.

    Pola Hidup di jejak ekologis tidak akan membahayakan generasi mendatang, karena bumi akan dapat beregenerasi sendiri.

    Jika kita dapat mempertahankan HDI di atas minimum dan di bawah jejak ekologis maksimum per kapita (angka yang menurun seiring dengan peningkatan populasi manusia), kita akan berada di jalur yang tepat untuk masa depan yang berkelanjutan.

    Tetapi kenyataannya adalah bahwa setiap tahun Earth overshoot day – Hari Bumi melampaui batas yang mewakili tanggal ketika manusia berhutang dengan planet ini hal ini tidak dapat dicapai.

    disebabkan Karena permintaan kita akan sumber daya ekologi pada tahun tertentu telah melebihi apa yang dapat diregenerasi oleh planet pada tahun yang sama.

    Kita menjaga defisit ini karena kita menggunakan lebih banyak sumber daya ekologi daripada yang dapat ditangani oleh planet ini. Pada saat yang sama, kita juga tidak merawat limbah kita dengan baik. kita menghadapinya secara linier, berlawanan dengan alam, dimana semuanya mengikuti pendekatan melingkar.

    Kebiasaan konsumsi saat ini merupakan ancaman besar bagi pembangunan berkelanjutan.

    China Telah Melarang Impor Limbah. Kemana Sampah Dunia Pergi Sekarang?

    Sistem Pangan Kita Rusak – Begini Cara Memperbaikinya


    Perubahan Iklim & Pembangunan Berkelanjutan [1988]

    Seiring kesadaran tentang dampak perubahan iklim terhadap planet dan kehidupan manusia tumbuh, Panel Internasional tentang Perubahan Iklim dibentuk oleh Program Pembangunan PBB dan Organisasi Meteorologi Dunia.

    Tujuannya adalah (dan masih) untuk mengembangkan dan berbagi pengetahuan tentang dampak aktivitas manusia terhadap perubahan iklim. Ini juga bertujuan untuk mengeksplorasi penyebab, konsekuensi, dan cara memerangi perubahan iklim.

    CO2 dan metana adalah gas yang ada untuk membantu Bumi menjaga suhu ideal dan menjamin kehidupan seperti yang kita ketahui. Meskipun demikian, produksi gas-gas ini secara berlebihan menyebabkan peningkatan suhu planet.

    Ini terjadi karena bagian dari panas yang disinari Bumi dan yang akan pergi ke luar angkasa tetap terperangkap di atmosfer.

    Baca Juga :
    Sejarah dan dampak perubahan iklim.


    The Triple Bottom Line & Pembangunan Berkelanjutan [1994]

    Triple bottom line merupakan asumsi penting yang menjadi bagian dari pondasi pembangunan berkelanjutan, pertama kali digunakan oleh John Elkington, pendiri perusahaan konsultan keberlanjutan.

    Ungkapan ini berarti bahwa perusahaan harus mempertimbangkan 3 garis dasar yang berbeda dalam bisnis mereka – dan tidak hanya, seperti biasanya pada saat itu (dan masih di banyak perusahaan saat ini), peduli dengan akun untung dan rugi.

    Ini berarti bahwa organisasi juga harus mengukur seberapa bertanggung jawab secara sosial operasi di seluruh rantai nilai mereka.

    Selain itu, Elkington menggabungkan kekhawatiran ketiga: bahwa perusahaan juga perlu mengukur dampak lingkungan mereka terhadap planet ini.

    Pada akhirnya, idenya adalah bisnis perlu memperhatikan dampaknya terhadap manusia dan planet – dan tidak hanya keuangan dan keuntungan.

    100 Perusahaan Teratas Dengan Reputasi CSR Terbaik

    Tips Untuk Pelaporan CSR yang Hebat

    Apa Itu Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR)?


    Penilaian Ekosistem Milenium dan Pembangunan Berkelanjutan [2001]

    The Millennium Ecosystem Assessment merupakan penelitian 4 tahun panjang yang dimulai pada tahun 2001 yang diprakarsai oleh PBB . Lebih dari 1200 peneliti berkumpul untuk menilai konsekuensi dari perubahan ekosistem terhadap kesejahteraan manusia. Menemukan dasar ilmiah untuk tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan konservasi dan pemanfaatan ekosistem secara berkelanjutan adalah tujuan lain.

    Temuan utama dari investigasi tersebut adalah:

    Baca Juga :
    Mengapa Hutan Begitu Penting Dan Apa Yang Dapat Anda Lakukan Untuk Melindunginya?


    Pembangunan Berkelanjutan Saat Ini

    Kerangka kerja pembangunan berkelanjutan saat ini cukup kuat meskipun masih ada jalan besar yang harus ditempuh.

    Laporan IPCC terbaru menunjukkan bahwa perubahan besar perlu terjadi dengan cepat terkait pengurangan emisi CO2 untuk menjaga suhu bumi di bawah 2ºC dan mencegah dampaknya yang merusak.

    Baca juga :
    Pemanasan Global
    Peningkatan konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas lainnya pada amtosfer bumi membuat atmosfer bumi menahan lebih banyak panas dari matahari. Hal ini menyebabkan peningkatan suhu bumi yang mengakibatkan pemanasan global.

    Gas Rumah Kaca
    Gas di atmosfer, seperti karbon dioksida (CO2), memerangkap panas matahari seperti dinding rumah kacaGas ini disebut juga gas-gas rumah kaca atau greenhouse gas (GHG). Beberapa gas rumah kaca lainnya seperti: Metana (CH4), Dinitrogen Oksida (N20), Uap Air (H2O), Ozon (O3), dan Klorofluorokarbon (CFC)

    Jejak Karbon
    Jejak karbon adalah jumlah total gas rumah kaca (termasuk karbon dioksida dan metana) yang dihasilkan oleh tindakan kita

    Ada banyak pelaku yang bekerja sama dengan audiens berbeda di berbagai bidang keberlanjutan. Mereka berbagi tujuan yang sama untuk meningkatkan kesadaran tentang topik keberlanjutan dan untuk menciptakan kondisi agar topik keberlanjutan  tersebut tumbuh dan berkembang.

    Salah satu pemain utamanya adalah  Perserikatan Bangsa-Bangsa , di mana tim yang berbeda secara aktif mengerjakan berbagai kampanye seperti #beatplasticpollution atau #solvedifferent , selain mengatur pertemuan antara para pemimpin dunia.

    Di sisi bisnis, Dewan Bisnis Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan (WBCSD) membantu perusahaan anggotanya untuk mempercepat transisi bisnis mereka untuk menciptakan dunia yang berkelanjutan.

    Ada juga beberapa sertifikasi yang memberi penghargaan (kebanyakan melalui pengakuan stempel) bisnis dengan praktik terbaik untuk planet ini, seperti gerakan B-Corp , Rainforest Alliance , Fairtrade Foundation, atau Conscious Capitalism Movement .

    Pada saat yang sama, entitas/yayasan seperti Elen MacArthur Foundation membuka jalan dalam hal circular economy ekonomi melingkar dan bagaimana masyarakat dan bisnis dapat menyelaraskan metode dalam menggunakan sumber daya alam.

    Menyelaraskan operasi bisnis di seluruh rantai pasokan mereka juga memungkinkan model bisnis yang berkelanjutan – seperti menanam jamur dari sisa kopi .

    P04 & 05

    Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

    Sumber :   United Nations ​ > 


    Sejarah

    Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, telah diadopsi oleh semua Negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2015.

    Hal ini memberikan cetak biru bersama untuk perdamaian dan kemakmuran bagi manusia dan planet ini, sekarang dan di masa depan.

    Intinya adalah 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yang merupakan seruan mendesak untuk bertindak oleh semua negara - maju dan berkembang - dalam kemitraan global.

    SDG dibangun di atas kerja puluhan tahun oleh negara dan PBB, termasuk  Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB

    Saat ini,  Division for Sustainable Development Goals (DSDG)  di United Nations  Department of Economic and Social Affairs (UNDESA)  memberikan dukungan substantif dan peningkatan kapasitas untuk SDG dan masalah tematik terkait termasuk: air ,  energi ,  iklim ,  lautan ,  urbanisasi. ,  transportasi ,  sains dan teknologi ,  Laporan Pembangunan Berkelanjutan Global (GSDR) ,  kemitraan  dan  Negara Berkembang Pulau Kecil.

    DSDG memainkan peran kunci dalam evaluasi implementasi PBB di seluruh sistem Agenda 2030 dan dalam kegiatan advokasi dan penjangkauan yang berkaitan dengan SDGs.

    Untuk mewujudkan Agenda 2030, kepemilikan SDG yang luas harus diterjemahkan ke dalam komitmen yang kuat dari semua pemangku kepentingan untuk mengimplementasikan tujuan global. DSDG bertujuan untuk membantu memfasilitasi keterlibatan ini.


    Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

    1. Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuknya di mana-mana
    2. Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi serta mempromosikan pertanian berkelanjutan
    3. Menjamin hidup sehat dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua usia
    4. Memastikan pendidikan berkualitas yang inklusif dan adil dan mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua
    5. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan
    6. Menjamin ketersediaan dan pengelolaan air dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua
    7. Memastikan akses ke energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern untuk semua
    8. Mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif dan berkelanjutan, lapangan kerja penuh dan produktif, dan pekerjaan yang layak untuk semua
    9. Membangun infrastruktur yang tangguh, mempromosikan industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong inovasi
    10. Mengurangi ketimpangan di dalam dan antar negara
    11. Menjadikan kota dan permukiman inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan
    12. Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan
    13. Mengambil tindakan segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya *
    14. Melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan samudra, laut, dan sumber daya laut untuk pembangunan berkelanjutan
    15. Melindungi, memulihkan, dan mempromosikan penggunaan ekosistem darat secara berkelanjutan, mengelola hutan secara berkelanjutan, memerangi penggurunan, dan menghentikan serta membalikkan degradasi lahan serta menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati

    16. Mempromosikan masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, memberikan akses keadilan bagi semua dan membangun lembaga yang efektif, akuntabel dan inklusif di semua tingkatan

    17. Memperkuat sarana implementasi dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan

     

    P04 & 05

    Ekonomi Lingkungan

    Sumber : Wikipedia


    Definisi

    Ekonomi lingkungan merupkan sub bidang ilmu ekonomi yang peduli dan mempelajari  terkait masalah lingkungan serta menjadi subjek yang dipelajari secara luas setelah masalah lingkungan yang berkembang  di abad kedua puluh satu.

    Ekonomi Lingkungan “… melakukan studi teoritis atau empiris tentang dampak ekonomi dari kebijakan lingkungan nasional atau lokal di seluruh dunia ….

    Masalah khusus termasuk biaya dan manfaat kebijakan lingkungan alternatif untuk menangani polusi udara , kualitas air, zat beracun , limbah padat, dan pemanasan global. 

    Ekonomi lingkungan dibedakan dari

    ekonomi ekologi
    menekankan pada ekonomi sebagai subsistem ekosistem dengan fokus pada pelestarian modal alam . [2]

    ekonomi ekologi dan lingkungan
     
    aliran pemikiran ekonomi yang berbeda , dengan ekonomi ekologi menekankan keberlanjutan yang “kuat” dan menolak proposisi bahwa modal buatan manusia (“fisik”) dapat menggantikan modal alam. [3]


    Kegagalan pasar

    Inti dari ekonomi lingkungan >> konsep kegagalan pasar .

    Kegagalan pasar >> pasar gagal mengalokasikan sumber daya secara efisien.

    Seperti yang dinyatakan oleh Hanley, Shogren, dan White (2007): [4]
    “Kegagalan pasar terjadi ketika pasar tidak mengalokasikan sumber daya yang langka untuk menghasilkan kesejahteraan sosial terbesar.

    Ada jurang pemisah antara apa yang dilakukan seseorang dengan harga pasar dan apa yang masyarakat mungkin ingin dia melakukannya untuk melindungi lingkungan.

    Ganjalan seperti itu menyiratkan pemborosan atau inefisiensi ekonomi; sumber daya dapat dialokasikan kembali untuk membuat setidaknya satu orang menjadi lebih baik tanpa membuat orang lain menjadi lebih buruk. ”

    Bentuk umum dari kegagalan pasar termasuk eksternalitas, non-excludability dan non-rivalry . [5]

    Polusi udara adalah contoh kegagalan pasar, karena pabrik membebankan biaya eksternal yang negatif kepada masyarakat.


    Eksternalitas

    Definisi klasik dipengaruhi oleh Kenneth Arrow dan James Meade diberikan oleh Heller dan Starrett (1976), yang mendefinisikan eksternalitas sebagai “situasi di mana ekonomi swasta kekurangan insentif yang cukup untuk menciptakan pasar potensial di beberapa barang dan tidak adanya pasar ini. mengakibatkan kerugian efisiensi Pareto “. [8]

    Dalam terminologi ekonomi, eksternalitas adalah contoh kegagalan pasar, di mana pasar yang tidak terkekang tidak memberikan hasil yang efisien.

    Eksternalitas secara alami terjadi pada lingkungan, seperti sumber daya alam atau kesehatan masyarakat.(Investopedia)

    Contoh Eksternalitas

    Eksternalitas negatif adalah bisnis yang menyebabkan pencemaran yang mengurangi nilai properti atau kesehatan masyarakat di sekitarnya.

    Eksternalitas positif mencakup tindakan yang mengurangi penularan penyakit atau menghindari penggunaan perawatan rumput yang mengalir ke sungai dan dengan demikian berkontribusi pada pertumbuhan tanaman yang berlebihan di danau.


    Memahami Eksternalitas

    (Investopedia)
    Eksternalitas terjadi dalam suatu perekonomian ketika produksi atau konsumsi barang atau jasa tertentu berdampak pada pihak ketiga yang tidak terkait langsung dengan produksi atau konsumsi barang atau jasa tersebut.

    Hampir semua eksternalitas dianggap sebagai eksternalitas teknis

    Eksternalitas teknis berdampak pada peluang konsumsi dan produksi pihak ketiga yang tidak terkait, tetapi harga konsumsi tidak termasuk eksternalitas. 

    Pengecualian ini menciptakan kesenjangan antara keuntungan atau kerugian individu swasta dan agregat keuntungan atau kerugian masyarakat secara keseluruhan.Tindakan individu atau organisasi sering kali menghasilkan keuntungan pribadi yang positif tetapi mengurangi perekonomian secara keseluruhan. 

    Banyak ekonom menganggap eksternalitas teknis sebagai kekurangan pasar, dan inilah alasan orang menganjurkan intervensi pemerintah untuk mengekang eksternalitas negatif melalui perpajakan dan regulasi.

    Pada masa lalu Eksternalitas menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan bagi mereka yang terkena dampaknya. Jadi, misalnya, pemerintah kota bertanggung jawab untuk membayar dampak pencemaran dari pabrik di daerah tersebut, sementara penduduk bertanggung jawab atas biaya perawatan kesehatan mereka akibat pencemaran tersebut.

    Setelah akhir 1990-an, pemerintah memberlakukan undang-undang yang membebankan biaya eksternalitas pada produsen. Undang-undang ini meningkatkan biaya, yang diteruskan oleh banyak perusahaan kepada konsumen, membuat barang dan jasa mereka lebih mahal.


    Eksternalitas Positif dan Negatif

    Kebanyakan eksternalitas bersifat negatif. (Investopedia)

    Polusi adalah eksternalitas negatif. Korporasi dapat memutuskan untuk memotong biaya dan meningkatkan keuntungan dengan menerapkan operasi baru yang lebih berbahaya bagi lingkungan. Korporasi menyadari biaya dalam bentuk perluasan operasi tetapi juga menghasilkan pengembalian yang lebih tinggi daripada biaya.

    Namun, eksternalitas juga meningkatkan biaya agregat terhadap ekonomi dan masyarakat menjadikannya eksternalitas negatif. Eksternalitas menjadi negatif ketika biaya sosial lebih besar daripada biaya pribadi.

    Beberapa eksternalitas bersifat positif.

    Eksternalitas positif terjadi ketika ada keuntungan positif baik di tingkat privat maupun di tingkat sosial. Penelitian dan pengembangan (R&D) yang dilakukan oleh suatu perusahaan dapat menjadi eksternalitas yang positif. Litbang meningkatkan keuntungan pribadi perusahaan tetapi juga memiliki manfaat tambahan berupa peningkatan tingkat pengetahuan umum dalam masyarakat.

    Demikian pula penekanan pada pendidikan juga merupakan eksternalitas positif. Investasi dalam pendidikan menghasilkan tenaga kerja yang lebih cerdas dan lebih cerdas. Perusahaan mendapat manfaat dari mempekerjakan karyawan yang berpendidikan karena mereka berpengetahuan luas. Ini menguntungkan pemberi kerja karena tenaga kerja yang berpendidikan lebih baik memerlukan lebih sedikit investasi dalam biaya pelatihan dan pengembangan karyawan.


    Mengatasi Eksternalitas

    Ada berbagai solusi untuk mengatasi efek negatif dari eksternalitas yang dapat diterapkan pada sektor publik dan swasta diantaranya .(Investopedia)

    Pajak merupakan salah satu solusi untuk mengatasi eksternalitas. Untuk membantu mengurangi efek negatif dari eksternalitas tertentu seperti polusi, pemerintah dapat mengenakan pajak atas barang yang menyebabkan eksternalitas tersebut. 

    Pajak, yang disebut pajak Pigovian — dinamai menurut ekonom Arthur C. Pigou, kadang disebut pajak Pigouvian — dianggap sama dengan nilai eksternalitas negatif. Pajak ini dimaksudkan untuk mencegah aktivitas yang membebankan biaya bersih kepada pihak ketiga yang tidak terkait. Artinya, pengenaan jenis pajak ini akan mengurangi hasil pasar dari eksternalitas ke jumlah yang dianggap efisien.

    Subsidi juga dapat mengatasi eksternalitas negatif dengan mendorong konsumsi eksternalitas positif. Salah satu contohnya adalah mensubsidi kebun yang menanam pohon buah-buahan untuk memberikan eksternalitas positif bagi peternak lebah.

    Pemerintah juga dapat menerapkan peraturan untuk mengimbangi efek eksternalitas. 
    Regulasi dianggap sebagai solusi paling umum. Masyarakat sering meminta pemerintah untuk mengesahkan dan memberlakukan undang-undang dan peraturan untuk mengekang efek negatif dari eksternalitas. Beberapa contoh termasuk peraturan lingkungan atau peraturan yang berhubungan dengan kesehatan.

    Contohnya :

    Peraturan ditegakkan dengan denda, yang berlaku sebagai bentuk pajak jika polusi naik di atas ambang batas yang ditentukan. Polusi harus dipantau dan hukum ditegakkan, baik di bawah rezim pajak polusi atau rezim regulasi. Perbedaan utama yang menurut ekonom lingkungan ada di antara kedua metode tersebut, bagaimanapun, adalah biaya total regulasi.

    Peraturan “perintah dan kendali” sering kali menerapkan batas emisi yang seragam pada pencemar, meskipun setiap perusahaan memiliki biaya yang berbeda untuk pengurangan emisi, yaitu, beberapa perusahaan, dalam sistem ini, dapat mengurangi polusi dengan murah,sementara yang lain hanya bisa menguranginya dengan biaya tinggi. 

    Oleh karena itu, pengurangan total dalam sistem terdiri dari beberapa upaya yang mahal dan beberapa yang tidak mahal. Akibatnya, peraturan “Komando dan kendali” modern seringkali dirancang sedemikian rupa untuk mengatasi masalah ini dengan memasukkan parameter utilitas. Misalnya, standar emisi CO2 untuk produsen tertentu di industri otomotif terkait dengan jejak kendaraan rata-rata (sistem AS) atau berat kendaraan rata-rata (sistem UE) dari seluruh armada kendaraan mereka. 

    Peraturan ekonomi lingkungan menemukan upaya pengurangan emisi termurah terlebih dahulu, dan kemudian beralih ke metode yang lebih mahal. Misalnya seperti yang dikatakan sebelumnya, perdagangan, dalam sistem kuota, berarti perusahaan hanya mengurangi pencemaran jika melakukannya akan lebih murah daripada membayar orang lain untuk melakukan pengurangan yang sama.Hal ini menyebabkan biaya yang lebih rendah untuk upaya pengurangan total secara keseluruhan.[ butuh rujukan ]

    Dalam teori, jika kuota yang dapat diperdagangkan seperti itu diperbolehkan, maka perusahaan akan mengurangi beban pencemarannya sendiri hanya jika melakukannya akan lebih murah daripada membayar orang lain untuk melakukan pengurangan yang sama, yaitu, hanya jika membeli izin yang dapat diperdagangkan dari perusahaan lain adalah lebih mahal. Dalam praktiknya, pendekatan perizinan yang dapat diperdagangkan telah beberapa berhasil, seperti program perdagangan sulfur dioksida AS atau Skema Perdagangan Emisi UE, dan minat dalam penerapannya menyebar ke masalah lingkungan lainnya.

    Undang-Undang Sungai AS tahun 1880-an adalah contoh awal, memberikan warga di hilir hak untuk mengakhiri pencemaran di hulu sendiri jika pemerintah sendiri tidak bertindak (contoh awal dari demokrasi bioregional ). Banyak pasar untuk “hak polusi” telah diciptakan pada akhir abad kedua puluh — lihat perdagangan emisi .

    Menurut Coase Theorem, pihak-pihak yang terlibat akan saling tawar menawar, yang akan menghasilkan solusi yang efisien.

    Namun, teori ekonomi modern telah menunjukkan bahwa keberadaan informasi asimetris dapat menyebabkan hasil tawar-menawar yang tidak efisien.
    [12]

    Secara khusus, Rob (1989) telah menunjukkan bahwa penyelesaian klaim polusi tidak akan mengarah pada hasil yang optimal secara sosial ketika individu yang akan terkena dampak polusi telah mempelajari informasi pribadi tentang disutilitas mereka sebelum negosiasi berlangsung.
    [13]

    Goldlücke dan Schmitz (2018) telah menunjukkan bahwa inefisiensi juga dapat terjadi jika para pihak mempelajari informasi pribadi mereka hanya setelah negosiasi, asalkan pembayaran transfer yang layak dibatasi.
    [14]


    Teori Coase

    Sumber : Investopedia  > 

    Teorema Coase adalah teori hukum dan ekonomi yang dikembangkan oleh ekonom Ronald Coase mengenai hak milik , yang menyatakan : bahwa di mana terdapat pasar kompetitif yang lengkap tanpa biaya transaksi dan serangkaian input dan output yang efisien, keputusan yang optimal akan dipilih.

    Ini pada dasarnya menegaskan bahwa tawar-menawar antara individu atau kelompok yang terkait dengan hak milik akan mengarah pada hasil yang optimal dan efisien, apa pun hasilnya.


    Poin Penting
    • Teorema Coase berpendapat bahwa dalam kondisi yang tepat, para pihak yang bersengketa hak milik akan dapat menegosiasikan solusi yang optimal secara ekonomi, terlepas dari distribusi awal hak milik.

    • Teorema Coase menawarkan cara terbaik untuk menyelesaikan konflik antara bisnis yang bersaing atau penggunaan ekonomi lain dari sumber daya terbatas.

    • Agar Teorema Coase dapat diterapkan sepenuhnya, kondisi pasar yang efisien, kompetitif, dan yang terpenting nol biaya transaksi, harus terjadi.

    • Dalam dunia nyata, jarang ada kondisi ekonomi yang sempurna, membuat Teorema Coase lebih cocok untuk menjelaskan mengapa inefisiensi muncul sebagai lawan dari cara untuk menyelesaikan perselisihan.


    Memahami Teorema Coase

    Teorema Coase diterapkan ketika ada hak milik yang bertentangan. Teorema Coase menyatakan bahwa dalam kondisi ekonomi yang ideal, di mana terdapat konflik hak milik, pihak-pihak yang terlibat dapat melakukan tawar-menawar atau menegosiasikan persyaratan yang secara akurat akan mencerminkan seluruh biaya dan nilai yang mendasari hak milik yang dipermasalahkan, sehingga menghasilkan hasil yang paling efisien. .

    Agar hal ini terjadi, kondisi yang secara konvensional diasumsikan dalam analisis pasar kompetitif yang efisien harus terkondisikan, terutama tidak adanya biaya transaksi . Informasinya harus bebas, sempurna, dan simetris.

    Salah satu prinsip Teorema Coase adalah bahwa tawar-menawar harus tanpa biaya; jika ada biaya yang terkait dengan tawar-menawar, seperti yang berkaitan dengan pertemuan atau penegakan hukum, itu mempengaruhi hasilnya. Tidak ada pihak yang dapat memiliki kekuatan pasar relatif terhadap yang lain sehingga daya tawar antar pihak dapat cukup setara sehingga tidak mempengaruhi hasil penyelesaian.

    Teorema Coase menunjukkan bahwa dalam kaitannya dengan hak milik, pihak yang terlibat tidak serta merta mempertimbangkan bagaimana hak milik dibagi jika kondisi ini berlaku dan bahwa mereka hanya peduli pada pendapatan dan sewa saat ini dan masa depan tanpa memperhatikan masalah seperti sentimen pribadi, sosial. ekuitas, atau faktor non-ekonomi lainnya.

    Teorema Coase telah secara luas dipandang sebagai argumen yang menentang intervensi legislatif atau peraturan dari konflik atas hak milik dan penyelesaian yang dirundingkan secara pribadi darinya. Ini awalnya dikembangkan oleh Ronald Coase ketika mempertimbangkan regulasi frekuensi radio. Ia mengemukakan bahwa pengaturan frekuensi tidak diperlukan karena stasiun-stasiun memperoleh keuntungan terbesar dengan menyiarkan pada frekuensi tertentu memiliki insentif untuk membayar stasiun lain agar tidak ikut campur.


    Contoh Teorema Coase

    Teorema Coase diterapkan pada situasi di mana kegiatan ekonomi satu pihak membebankan biaya atau kerusakan pada properti pihak lain. Berdasarkan tawar-menawar yang terjadi selama proses tersebut, dana dapat ditawarkan untuk mengkompensasi satu pihak atas aktivitas pihak lain atau untuk membayar pihak yang aktivitasnya menimbulkan kerugian guna menghentikan aktivitas tersebut.

    Misalnya, jika bisnis yang memproduksi mesin di pabrik terkena keluhan kebisingan yang diprakarsai oleh rumah tangga tetangga yang dapat mendengar suara keras mesin yang sedang dibuat,

    Teorema Coase akan mengarah pada dua kemungkinan penyelesaian.

    Menawarkan kompensasi finansial kepada pihak yang terkena dampak .

    Tidak ada kompensasi, jadi hasilnya adalah bisnis yang terus beroperasi tanpa pertukaran uang.

    Jika nilai pasar yang dihasilkan oleh aktivitas yang membuat kebisingan melebihi nilai pasar dari kerusakan yang ditimbulkan kebisingan tersebut kepada tetangga, maka hasil pasar yang efisien dari perselisihan tersebut adalah bahwa bisnis akan terus membuat kebisingan. Bisnis dapat terus menghasilkan kebisingan dan memberi kompensasi kepada tetangga dari pendapatan yang dihasilkan.

    Jika nilai output bisnis untuk membuat mesin lebih kecil dari biaya yang dikenakan pada tetangga karena kebisingan, maka hasil yang efisien adalah bisnis akan berhenti membuat kebisingan dan tetangga akan memberi kompensasi kepada bisnis untuk melakukannya. Di dunia nyata, bagaimanapun, tetangga tidak akan membayar suatu bisnis untuk berhenti membuat kebisingan karena biaya untuk melakukannya lebih tinggi daripada nilai yang mereka berikan pada tidak adanya kebisingan.


    Teorema Coase di Dunia Nyata

    Agar Teorema Coase berlaku, kondisi untuk pasar kompetitif yang efisien di sekitar properti yang disengketakan harus terjadi. Jika tidak, solusi yang efisien tidak mungkin tercapai.

    Denga Asumsi : biaya transaksi nol (tawar-menawar), informasi sempurna, tidak ada perbedaan kekuatan pasar, dan pasar yang efisien untuk semua barang terkait dan faktor produksi, jelas merupakan rintangan yang tinggi untuk dilewati di dunia nyata di mana biaya transaksi ada di mana-mana, informasi tidak pernah sempurna , kekuatan pasar adalah norma, dan sebagian besar pasar untuk barang jadi dan faktor produksi tidak memenuhi persyaratan untuk efisiensi persaingan yang sempurna.

    Karena kondisi yang diperlukan untuk Teorema Coase untuk diterapkan dalam perselisihan dunia nyata atas distribusi hak milik hampir tidak pernah terjadi di luar model ekonomi ideal , beberapa mempertanyakan relevansinya dengan pertanyaan hukum dan ekonomi yang diterapkan.

    Menyadari kesulitan dunia nyata ini dalam menerapkan Teorema Coase, beberapa ekonom memandang teorema tersebut bukan sebagai resep bagaimana perselisihan harus diselesaikan, tetapi sebagai penjelasan mengapa begitu banyak hasil yang tampaknya tidak efisien untuk perselisihan ekonomi dapat ditemukan di dunia nyata .


    Barang umum dan barang publik

    Sumber : cerdasco >

    Barang publik (public goods) adalah barang yang ketika anda gunakan tidak mengurangi ketersediaannya bagi orang lain. Dan, Anda juga tidak dapat mencegah orang lain untuk menggunakan dan mendapatkan manfaat dari mereka. Contoh barang publik termasuk udara bersih, pertahanan nasional, lampu jalan, sistem pengendalian banjir, mercusuar, dan peradilan.

    Pemerintah biasanya menyediakan barang-barang publik. Sektor swasta enggan memasoknya karena tidak menguntungkan. Bisnis sulit untuk mengumpulkan pendapatan dari konsumen. Meskipun demikian, beberapa individu atau organisasi sukarela juga dapat menyediakannya, namun pada skala yang terbatas.


    Karakteristik barang publik

    Pemerintah menyediakan barang publik untuk kesejahteraan atau memberikan manfaat bagi semua warga negara. Mereka tersedia  umum dan tidak diperuntukkan khusus untuk kelompok masyarakat tertentu. Ketika seorang individu menggunakannya, itu tidak menghentikan orang lain untuk mendapatkan manfaat yang sama.

    Dua karakteristik utama barang publik adalah:

    1. Nonrivalitas (nonrivalrous)

      Ketika anda menggunakan barang publik, itu tidak membatasi ketersediaannya untuk orang lain. Meskipun memiliki selera yang berbeda, kita memperoleh manfaat yang sama. Ambil kasus lampu jalan. Anda dan orang lain sama-sama menerima manfaat dari jalan ketika berkendara di jalan raya.

      Itu mungkin sedikit berbeda untuk jalan raya dan jalan tol. Ketika jalan raya telah penuh, itu mengurangi manfaat yang tersedia bagi orang lain. Sementara itu, untuk jalan tol, anda harus membayar untuk dapat menggunakannya. Tapi, ketika anda menggunakan jalan tol, anda tidak dapat mencegah orang lain untuk menggunakannya.


    2. Nonexcludable

      Ketika pemerintah telah menyediakan barang publik, mereka tersedia bagi semua orang. Anda tidak bisa mencegah orang lain dari menggunakan dan mendapat manfaat dari barang tersebut.

      Jadi, barang publik tersedia bagi semua orang, baik pembayar maupun nonpembayar. Itu kemudian memunculkan pengendara bebas (free riders), di mana mereka dapat mengkonsumsi dan memperoleh manfaat tanpa membayarnya. Contohnya adalah jalan raya. Baik pembayar pajak maupun bukan sama-sama mendapatkan manfaat. 

    Contoh barang publik

    Pertahanan dan keamanan nasional. Pemerintah memberikan perlindungan kepada semua warga negara. Jika anda melakukan pelanggaran lalu lintas, anda tidak dapat melarang polisi untuk menghukum anda, meski anda membayar pajak. Begitu juga, mereka yang tidak membayar pajak juga akan mendapat sanksi yang sama ketika melakukan hal yang sama.

    Udara bersih. Udara bersih tersedia di mana-mana. Anda dan tetangga anda sama-sama menikmatinya. Dan, anda tentu saja tidak akan membuat sebuah kotak pemisah antara udara bersih milik anda dan milik tetangga rumah.

    Lampu jalan. Baik pengendara maupun warga sekitar mendapat manfaat dari cahaya lampu jalan. Warga mungkin iuran untuk membeli dan menyediakan lampu tersebut. Begitu juga, pengendara mobil atau sepeda motor yang melewati jalan tersebut dapat menikmatinya tanpa harus membayar iuran.

    Jaringan radio atau televisi. Begitu sinyal radio atau televisi disiarkan, semua orang dapat mengaksesnya. Sulit untuk menghentikan seseorang untuk menerimanya. Selain itu, ketika anda mendengarkan radio atau menonton televisi, itu tidak mencegah orang lain untuk menggunakannya juga juga.

    Perbedaan barang publik, barang klub, barang umum dan barang pribadi

    Ekonom membagi barang menjadi empat kategori berdasarkan variabel rivalrous dan excludability.

      Excludable Nonexcludable
    Rivalrous Barang pribadi (private goods) Barang umum (common goods)
    Nonrivalrous Barang klub (club goods) Barang publik (public goods)
    Barang pribadi

    Barang pribadi (private goods) bersifat excludable dan rivalrous. Mereka mencakup barang yang anda gunakan sehari-hari seperti pakaian dan makanan. Ketika membeli dan menggunakan sebuah pakaian, pakaian anda tidak tersedia lagi bagi orang lain. Itu milik anda dan Anda berhak melarang orang lain untuk menggunakannya.

    Untuk menikmati barang pribadi, kita harus bersaing dan membayarnya. Karena alasan ini, barang pribadi kecil kemungkinannya untuk menghadapi masalah penumpang gratis daripada barang publik.

    Barang umum

    Ketika anda menggunakan barang umum (common goods), itu mengurangi ketersediaan bagi orang lain. Namun, anda tidak dapat mencegah orang lain dari menggunakannya.

    Contoh yang biasanya dikutip adalah kayu, sumber daya mineral dan ikan di perairan internasional. Karena bersifat rivalrous, orang akan bersaing untuk mengambil manfaat dari barang umum. Pada saat yang sama, mereka tidak dapat mencegah orang lain untuk melakukannya. Sebagai hasilnya, itu pada akhirnya mengarah pada perilaku eksploitatif dan memunculkan fenomena tragedi milik bersama (tragedy of the commons).

    Ambil contoh kayu. Ketika anda menebang kayu di hutan, orang lain akan mengikuti anda. Dan, anda tentu saja tidak dapat mencegah mereka. Mengetahui persediaan kayu semakin menyusut, semakin banyak orang menebang kayu. Jika tidak ada aturan (misalnya dari pemerintah), itu menyebabkan sumber daya kayu habis.

    Barang klub

    Barang klub (club goods) adalah jenis barang bersifat nonrivalrous dan excludable. Jika anda gunakan, mereka masih tersedia bagi orang lain. Tapi, untuk memperoleh manfaat, pemasok dapat mengecualikan beberapa orang dari menggunakannya. Pemasok dapat mengenakan harga sehingga barang hanya tersedia bagi orang yang bersedia membayar.

    Contoh barang klub adalah TV kabel, bioskop dan taman pribadi. Anda dan teman-teman anda dapat sama-sama menikmatinya tanpa mengurangi manfaat satu sama lain. Tentu saja, anda dan teman anda harus membayar. 

    Barang publik semu

    Barang publik semu (quasi public goods) adalah campuran antara barang publik dan barang pribadi. Contohnya adalah jalan raya, jalan tol dan terowongan.

    Barang publik semu memiliki dua karakteristik berikut:

    Ambil contoh jalan raya. Kebanyakan orang memperoleh manfaat jalan raya dan mereka tidak dapat mencegah orang lain dari memperoleh manfaat yang sama. Tapi, manfaat semakin berkurang ketika lebih banyak orang menggunakan karena akan meningkatkan kemacetan. Selain itu, untuk mendapatkan manfaat, anda juga harus memiliki kendaraan dan surat izin mengemudi atau membayar ongkos kendaraan umum.

    Contoh lain barang umum adalah taman umum. Ketika anda bermain bersama keluarga di taman umum, anda tidak dapat mencegah keluarga lain untuk bermain di lokasi yang sama. Anda dan mereka sama-sama mendapat manfaat yang sama.

    Namun, di titik tertentu, manfaat semakin berkurang ketika semakin banyak orang menggunakannya. Jika taman telah penuh, itu tentu mengurangi ruang yang tersedia untuk orang lain.


    Barang publik dan kegagalan pasar

    Barang publik adalah contoh kegagalan pasar selain monopoli, eksternalitas, dan asimetri informasi.

    Sektor swasta tidak bersedia menyediakan barang publik murni karena tidak menguntungkan. Ketika bisnis memasok, beberapa orang dapat menggunakannya tanpa harus membayar dan mereka tidak dapat mencegahnya. Masalah free riders akhirnya menyebabkan kurangnya penyediaan barang.

    Sebagai hasilnya, biaya untuk menyediakan barang lebih besar daripada keuntungan. Sektor swasta tidak memiliki insentif untuk memasok barang semacam itu. Akibatnya, pasar akan gagal menyediakan cukup barang atau jasa yang dibutuhkan.

    Karena sektor swasta tidak mau menyediakan barang, maka pemerintah harus turun tangan. Meski secara bisnis tidak menguntungkan, barang publik menciptakan manfaat sosial yang lebih besar.


    Penilaian Ekonomi Lingkungan/Environmental Economics Assesment

    Menilai nilai ekonomi lingkungan adalah topik utama di lapangan. Penggunaan dan penggunaan tidak langsung adalah manfaat nyata yang diperoleh dari sumber daya alam atau jasa ekosistem (lihat bagian alam dari ekonomi ekologi).

    Nilai non-penggunaan termasuk nilai keberadaan, opsi, dan warisan. Misalnya, beberapa orang mungkin menghargai keberadaan beragam spesies, terlepas dari dampak hilangnya suatu spesies pada jasa ekosistem. Keberadaan spesies ini mungkin memiliki nilai opsi, karena mungkin ada kemungkinan menggunakannya untuk beberapa tujuan manusia.

    Misalnya, tanaman tertentu mungkin diteliti untuk obat. Individu mungkin menghargai kemampuan meninggalkan lingkungan yang murni untuk anak-anak mereka.

    Nilai penggunaan dan penggunaan tidak langsung sering kali dapat disimpulkan dari perilaku yang diungkapkan, seperti biaya melakukan perjalanan rekreasi atau menggunakan metode hedonis di mana nilai diperkirakan berdasarkan harga yang diamati.

    Nilai non-guna biasanya diperkirakan menggunakan metode preferensi yang dinyatakan seperti penilaian kontingen atau pemodelan pilihan .

    Penilaian kontingen biasanya mengambil bentuk survei di mana orang-orang ditanya berapa banyak mereka akan membayar untuk diamati dan diciptakan kembali di lingkungan ( kesediaan untuk membayar ) atau kesediaan mereka untuk menerima (WTA) kompensasi untuk kerusakan barang lingkungan.

    Penetapan harga hedonis meneliti pengaruh lingkungan terhadap keputusan ekonomi melalui harga rumah, biaya perjalanan, dan pembayaran untuk mengunjungi taman. [10]


    Hubungan dengan bidang lain

    Ekonomi lingkungan terkait dengan ekonomi ekologi tetapi ada perbedaan.

    Sebagian besar ekonom lingkungan telah dilatih sebagai ekonom. Mereka menerapkan alat-alat ekonomi untuk mengatasi masalah lingkungan, banyak di antaranya terkait dengan apa yang disebut kegagalan pasar — ​​keadaan di mana ” tangan tak terlihat ” dari ilmu ekonomi tidak dapat diandalkan. 

    Sebagian besar ekonom ekologi telah dilatih sebagai ahli ekologi, tetapi telah memperluas cakupan pekerjaan mereka untuk mempertimbangkan dampak manusia dan aktivitas ekonomi mereka pada sistem dan layanan ekologi, dan sebaliknya. Bidang ini mengambil premis bahwa ekonomi adalah subbidang ekologi yang ketat . Ekonomi ekologis kadang-kadang digambarkan sebagai mengambil pendekatan yang lebih pluralistik terhadap lingkungan masalah dan berfokus lebih eksplisit pada keberlanjutan lingkungan jangka panjang dan masalah skala.

    Ekonomi lingkungan dipandang lebih pragmatis dalam sistem harga ;

    Ekonomi ekologi lebih idealis dalam upayanya untuk tidak menggunakan uang sebagai penentu utama keputusan.

    Kedua kelompok spesialis ini terkadang memiliki pandangan yang saling bertentangan yang dapat dilacak ke dasar filosofis yang berbeda.

    Konteks lain di mana eksternalitas berlaku adalah ketika globalisasi mengizinkan satu pemain di pasar yang tidak peduli dengan keanekaragaman hayati untuk menurunkan harga orang lain yang – menciptakan perlombaan ke bawah dalam peraturan dan konservasi.

    Hal ini, pada gilirannya, dapat menyebabkan hilangnya modal alam dengan akibat erosi, masalah kemurnian air, penyakit, penggurunan, dan hasil lain yang tidak efisien secara ekonomi.

    Perhatian ini terkait dengan subbidang pembangunan berkelanjutan dan hubungan politiknya, gerakan anti globalisasi .

     

    Ekonomi lingkungan pernah berbeda dari ekonomi sumber daya . Ekonomi sumber daya alam sebagai subbidang dimulai ketika perhatian utama para peneliti adalah eksploitasi komersial yang optimal dari stok sumber daya alam.

    Tetapi para pengelola sumber daya dan pembuat kebijakan akhirnya mulai memperhatikan pentingnya sumber daya alam secara lebih luas (misalnya, nilai-nilai ikan dan pohon di luar eksploitasi komersial mereka).

    Sekarang sulit untuk membedakan ekonomi “lingkungan” dan “sumber daya alam” sebagai bidang yang terpisah karena keduanya dikaitkan dengan keberlanjutan . Banyak ekonom hijau yang lebih radikal memisahkan diri untuk bekerja pada ekonomi politik alternatif .

    Ekonomi lingkungan merupakan pengaruh besar pada teori kapitalisme alam dan keuangan lingkungan , yang dapat dikatakan sebagai dua cabang cabang ekonomi lingkungan yang berkaitan dengan konservasi sumber daya dalam produksi, dan nilai keanekaragaman hayati bagi manusia.

    Teori kapitalisme alam (Hawken, Lovins, Lovins) melangkah lebih jauh dari ekonomi lingkungan tradisional dengan membayangkan dunia di mana jasa alam dianggap setara dengan modal fisik .

    Ekonom Hijau yang lebih radikal menolak ekonomi neoklasik yang mendukung ekonomi politik baru di luar kapitalisme atau komunisme yang memberikan penekanan lebih besar pada interaksi ekonomi manusia dan lingkungan alam, mengakui bahwa “ekonomi adalah tiga perlima ekologi” – Mike Nickerson . Kelompok politik ini adalah pendukung transisi ke energi terbarukan.

    Pendekatan yang lebih radikal ini akan menyiratkan perubahan pada suplai uang dan kemungkinan juga demokrasi bioregional sehingga “batas lingkungan” politik, ekonomi, dan ekologi semuanya selaras, dan tidak tunduk pada arbitrase yang biasanya mungkin dilakukan di bawah kapitalisme .

    Sub-bidang ekonomi lingkungan yang muncul mempelajari persimpangannya dengan ekonomi pembangunan . Dijuluki “enviro economics” oleh Michael Greenstone dan B. Kelsey Jack dalam makalah mereka “Envirodevonomics: A Research Agenda for a Young Field,” sub-bidang ini terutama tertarik untuk mempelajari “mengapa kualitas lingkungan [sangat buruk] di negara berkembang.” [15]

    Strategi untuk lebih memahami korelasi antara PDB suatu negara dan kualitas lingkungannya melibatkan analisis berapa banyak konsep sentral ekonomi lingkungan, termasuk kegagalan pasar, eksternalitas, dan kesediaan untuk membayar, mungkin dipersulit oleh masalah tertentu yang dihadapi negara-negara berkembang, seperti seperti masalah politik, kurangnya infrastruktur, atau alat pembiayaan yang tidak memadai, di antara banyak lainnya. [16]

    Dalam bidang hukum dan ekonomi , hukum lingkungan dipelajari dari perspektif ekonomi. Analisis ekonomi instrumen studi hukum lingkungan seperti zonasi, pengambilalihan, perizinan, kewajiban pihak ketiga, peraturan keselamatan, asuransi wajib, dan sanksi pidana. Sebuah buku oleh Michael Faure (2003) mensurvei literatur ini. [17]


    Badan profesional

    Organisasi akademis dan profesional utama untuk disiplin Ekonomi Lingkungan adalah Asosiasi Ekonom Lingkungan dan Sumber Daya (AERE) dan Asosiasi Eropa untuk Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan (EAERE) . Organisasi akademis dan profesional utama untuk disiplin Ekonomi Ekologi adalah International Society for Ecological Economics (ISEE). Organisasi utama untuk Ekonomi Hijau adalah Institut Ekonomi Hijau

     

     

    P04 & 05

    Lingkungan : Standard, Kualitas dan Kebijakan

    Standar Lingkungan

    Sumber : Wikipedia

    Standar lingkungan >> peraturan administratif atau peraturan hukum perdata [1] yang diterapkan untuk perawatan dan pemeliharaan lingkungan. Standar lingkungan ditetapkan oleh pemerintah dan dapat mencakup larangan kegiatan tertentu, mengamanatkan frekuensi dan metode pemantauan, dan meminta izin untuk penggunaan tanah atau air. [2] Standar berbeda tergantung pada jenis kegiatan lingkungan. [1]

    Standar lingkungan >> menghasilkan hukum yang dapat diukur dan ditegakkan yang mempromosikan perlindungan lingkungan. Dasar standar ditentukan oleh pendapat ilmiah dari berbagai disiplin ilmu, pandangan masyarakat umum, dan konteks sosial. Akibatnya, proses penentuan dan penerapan standar menjadi rumit dan biasanya diatur dalam konteks hukum, administratif, atau pribadi. [1]

    Lingkungan manusia berbeda dengan lingkungan alam . Konsep lingkungan manusia memandang bahwa manusia saling terkait secara permanen dengan lingkungannya, yang tidak hanya sekedar unsur alam (udara, air, dan tanah), tetapi juga budaya, komunikasi, kerjasama, dan kelembagaan. Standar lingkungan harus melestarikan alam dan lingkungan, melindungi dari kerusakan, dan memperbaiki kerusakan masa lalu yang disebabkan oleh aktivitas manusia. [1]


    Pengembangan standar lingkungan

    Secara historis, perkembangan standar lingkungan >> dipengaruhi oleh dua ideologi yang saling bersaing: >>  ekosentrisme dan antroposentrisme . Ekosentrisme >> membingkai lingkungan sebagai memiliki nilai intrinsik yang terpisah dari kegunaan manusia, >> antroposentrisme >>  membingkai lingkungan >> hanya bernilai jika membantu umat manusia bertahan hidup >> Hal ini menimbulkan masalah dalam menetapkan standar.

    Dalam beberapa dekade terakhir, kepekaan masyarakat terhadap topik lingkungan telah meningkat. Pada gilirannya, permintaan untuk melindungi lingkungan meningkat. Gerakan menuju lingkungan hidup ini kemungkinan besar disebabkan oleh peningkatan pemahaman tentang kedokteran dan sains, serta kemajuan dalam pengukuran faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Pengukuran yang ditingkatkan ini memungkinkan para ilmuwan untuk lebih memahami dampak kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh manusia terhadap kesehatan manusia dan keanekaragaman hayati yang membentuk lingkungan alam. Perkembangan ilmu pengetahuan ini telah menjadi dasar untuk penetapan standar lingkungan.

    Standar lingkungan sering kali menentukan keadaan yang diinginkan (misalnya pH danau harus antara 6,5 ​​dan 7,5) atau membatasi perubahan (misalnya, tidak lebih dari 50% hutan alam yang dapat rusak). Metode statistik digunakan untuk menentukan negara bagian tertentu dan membatasi standar lingkungan yang dapat diberlakukan.

    Jika menyangkut masalah lingkungan, ketidakpastian harus selalu dipertimbangkan. Langkah pertama untuk mengembangkan standar adalah evaluasi risiko spesifik. Nilai yang diharapkan dari terjadinya risiko harus dihitung. Kemudian, kemungkinan kerusakan harus diklasifikasikan. Ada tiga jenis kerusakan yang berbeda - perubahan akibat kerusakan lingkungan fisiokimia, kerusakan ekologis pada tumbuhan dan hewan, dan kerusakan kesehatan manusia.

    Untuk menetapkan risiko yang dapat diterima, mengingat manfaat kolektif yang diharapkan, biaya yang ditimbulkan risiko dan biaya penghindaran risiko harus seimbang secara sosial. Perbandingan ini sulit diungkapkan dalam satuan moneter. Selain itu, risiko memiliki banyak dimensi, yang harus dicapai dengan korelasi pada akhir proses penyeimbangan.

    Pada proses penyeimbangan, langkah-langkah berikut harus dipertimbangkan:

    1. Untuk menetapkan tujuan yang melayani baik perlindungan kehidupan, kesehatan dan lingkungan, dan memungkinkan alokasi sumber daya sosial yang rasional.
    2. Mempelajari hasil yang mungkin dari penerapan tujuan ini.
    3. Mempertimbangkan biaya atau kerusakan sosial, termasuk biaya peluang dan manfaat yang akan muncul ketika salah satu opsi yang tersedia tidak dikejar lebih lanjut.

    Dalam proses penyeimbangan, keadilan dalam pendistribusian risiko dan ketahanan dalam menjaga produktivitas lingkungan juga harus diperhatikan. Selain standar, aturan implementasi, yang menunjukkan dalam situasi apa standar akan dianggap dilanggar, biasanya merupakan bagian dari regulasi. Hukuman dan prosedur lain untuk menangani daerah yang tidak sesuai dengan standar dapat menjadi bagian dari undang-undang. [3] [4] [5]


    Lembaga pemerintah yang menetapkan standar lingkungan

    Standar lingkungan ditetapkan oleh banyak lembaga berbeda, dan sebagian besar standar terus didasarkan pada prinsip komitmen diri sukarela.

    Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

    The PBB , dengan 193 negara anggota, adalah organisasi antar pemerintah terbesar. Kebijakan lingkungan PBB berdampak besar pada penetapan standar lingkungan internasional. Pada KTT Bumi tahun 1992, yang diadakan di Rio, negara-negara anggota mengakui dampak negatif mereka terhadap lingkungan untuk pertama kalinya. Selama ini dan Deklarasi Milenium berikutnya , tujuan pembangunan pertama untuk masalah lingkungan ditetapkan.

    Sejak saat itu, risiko bencana alam yang disebabkan oleh cuaca ekstrem telah diperburuk oleh penggunaan sumber daya alam yang berlebihan dan pemanasan global . Pada Perjanjian Paris tahun 2015, PBB menetapkan 17 Tujuan untuk pembangunan berkelanjutan. Selain memerangi kemiskinan global, fokus utama dari tujuan tersebut adalah pelestarian planet kita. Sasaran ini menjadi dasar bagi lingkungan hidup global . Area lingkungan air , energi, lautan, ekosistem , produksi berkelanjutan , perilaku konsumen, dan perlindungan iklimtercakup oleh gol. Tujuan tersebut berisi penjelasan tentang media mana yang diperlukan untuk mencapainya.

    Apakah negara-negara anggota memenuhi tujuan yang telah ditetapkan masih dipertanyakan. Beberapa anggota menganggap inspeksi atau kontrol lain dari pihak luar sebagai intervensi ke dalam urusan batin mereka. Oleh karena itu, pelaksanaan dan tindak lanjutnya hanya dikendalikan oleh Voluntary National Review . Pengendalian utama dilakukan dengan nilai statistik yang disebut indikator . Indikator-indikator ini menyampaikan informasi jika tujuan tercapai. [6] [7] [8] [9] [10]

    Uni Eropa

    (Lihat juga: Kebijakan lingkungan Uni Eropa )

    Dalam Perjanjian tentang Fungsi Uni Eropa, Serikat mengintegrasikan komitmen diri terhadap lingkungan. Dalam Judul XX, Pasal 191.1, ditetapkan: “Kebijakan serikat pekerja tentang lingkungan harus berkontribusi pada pencapaian tujuan berikut: - melestarikan, melindungi dan meningkatkan kualitas lingkungan, - melindungi kesehatan manusia, - pemanfaatan secara bijaksana dan rasional dari sumber daya alam, - mempromosikan langkah-langkah di tingkat internasional untuk menangani lingkungan regional atau dunia; masalah, dan khususnya memerangi perubahan iklim. " Semua tindakan lingkungan didasarkan pada artikel ini dan mengarah pada seperangkat hukum lingkungan. Peraturan lingkungan Eropa meliputi udara, bioteknologi, kimia, perubahan iklim, ekonomi lingkungan, kesehatan, industri dan teknologi, penggunaan lahan, alam dan keanekaragaman hayati, kebisingan, perlindungan lapisan ozon, tanah, pembangunan berkelanjutan, limbah, dan air.

    The European Environment Agency (EEA) berkonsultasi dengan negara-negara anggota tentang isu-isu lingkungan, termasuk standar. [3] [11] [12] [13]

    Standar lingkungan yang ditetapkan oleh undang-undang Eropa mencakup konsentrasi parametrik polutan yang tepat dan juga mencakup konsentrasi lingkungan target yang akan dicapai pada tanggal tertentu. [1]

    Amerika Serikat

    Di Amerika Serikat , pengembangan standar didesentralisasi. Standar ini dikembangkan oleh lebih dari seratus institusi berbeda, banyak di antaranya adalah swasta. Metode penanganan standar lingkungan adalah sistem jamak yang sebagian terfragmentasi, yang sebagian besar dipengaruhi oleh pasar. Di bawah Pemerintahan Trump , standar Iklim semakin menjadi tempat konflik dalam politik pemanasan global . [14]

    Standar kualitas udara ambien

    Standar Kualitas Ambient Udara Nasional (NAAQS) ditetapkan oleh Environmental Protection Agency (EPA) untuk mengatur polutan di udara. Penegakan standar ini dirancang untuk mencegah penurunan kualitas udara lebih lanjut.

    Negara dapat menetapkan standar ambien mereka sendiri, selama lebih rendah dari standar nasional. [15] NAAQS mengatur enam kriteria polutan udara: sulfur dioksida (SO 2 ), materi partikulat (PM 10 ), karbon monoksida (CO), ozon (O 3 ), nitrogen dioksida (NO 2 ), dan timbal (Pb ). [16] Untuk memastikan bahwa standar ambien terpenuhi, EPA menggunakan sistem Metode Referensi Federal (FRM) dan Metode Setara Federal (FEM) untuk mengukur jumlah polutan di udara dan memeriksa apakah mereka berada dalam batas legal. [17]

    Standar emisi udara

    Standar emisi adalah peraturan nasional yang dikelola oleh EPA yang mengatur jumlah dan konsentrasi bahan pencemar yang dapat dilepaskan ke atmosfer untuk menjaga kualitas udara, kesehatan manusia, dan mengatur pelepasan gas rumah kaca seperti karbondioksida (CO 2 ), oksida nitrogen dan oksida belerang . [18]

    Standar ditetapkan dalam dua tahap agar tetap up-to-date, dengan proyeksi akhir yang bertujuan untuk secara kolektif menghemat biaya bahan bakar sebesar $ 1,7 triliun dan mengurangi jumlah emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 6 miliar metrik ton. [19] Mirip dengan standar ambien, negara bagian juga dapat memperketat peraturan. Misalnya, California menetapkan standar emisi mereka sendiri melalui California Air Resources Board (CARB), dan standar ini telah diadopsi oleh beberapa negara bagian lain. [20] Standar emisi juga mengatur jumlah polutan yang dilepaskan oleh industri berat dan untuk listrik.

    Standar teknologi yang ditetapkan oleh EPA tidak serta merta memaksakan penggunaan teknologi tertentu, tetapi menetapkan tingkat kinerja minimum untuk industri yang berbeda. [21] EPA sering mendorong peningkatan teknologi dengan menetapkan standar yang tidak dapat dicapai dengan teknologi saat ini. Standar ini selalu ditetapkan berdasarkan kinerja terbaik industri untuk mendorong peningkatan keseluruhan industri secara keseluruhan. [21]


    Organisasi non-pemerintah terkait standar lingkungan

    Organisasi Standardisasi Internasional

    The International Organization of Standardization (IOS) mengembangkan sejumlah besar standar sukarela. Dengan 163 negara anggota, ini memiliki jangkauan yang komprehensif. Standar yang ditetapkan oleh IOS sering kali dikirim ke standar nasional oleh negara yang berbeda. Sekitar 363.000 perusahaan dan organisasi di seluruh dunia memiliki sertifikat ISO 14001 , standar pengelolaan lingkungan yang dibuat untuk meningkatkan kinerja lingkungan dari suatu organisasi dan aspek hukum serta mencapai tujuan lingkungan. Sebagian besar standar manajemen lingkungan nasional dan internasional mencakup seri ISO 14000. [3] [22] [23] Mengingat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, ISO telah mengidentifikasi beberapa kelompok standar yang membantu memenuhi SDG 13 yang difokuskan pada Aksi Iklim untuk pemanasan global . [24]

    Greenpeace

    Greenpeace adalah organisasi non-pemerintah populer yang menangani keanekaragaman hayati dan lingkungan. Aktivitas mereka memiliki dampak global yang besar pada masalah lingkungan. Greenpeace mendorong perhatian publik dan memaksa pemerintah atau perusahaan untuk beradaptasi dan menetapkan standar lingkungan melalui kegiatan yang mencatat masalah lingkungan khusus. Fokus utama mereka adalah pada hutan, laut, perubahan iklim, dan bahan kimia beracun. Misalnya, organisasi menetapkan standar tentang bahan kimia beracun bersama dengan sektor tekstil, menciptakan konsep tahun 2020, yang berencana untuk melarang semua bahan kimia beracun dari produksi tekstil pada tahun 2020. [25] [26]

    Dana Margasatwa Dunia

    The World Wildlife Fund (WWF) berfokus pada bagaimana untuk menghasilkan hasil yang maksimal di bidang pertanian sambil melestarikan keanekaragaman hayati. Mereka mencoba mendidik, melindungi, dan mencapai perubahan kebijakan dan insentif untuk mencapai tujuan tersebut. [27] [ klarifikasi diperlukan ]


    Standar Lingkungan dalam Perekonomian

    Standar lingkungan dalam perekonomian ditetapkan melalui motivasi eksternal diantaranya

    Perusahaan harus memenuhi hukum lingkungan di negara tempat mereka beroperasi.

    Standar lingkungan didasarkan pada komitmen diri sukarela yang berarti perusahaan menerapkan standar untuk bisnisnya.

    Standar ini harus melebihi tingkat persyaratan peraturan pemerintah. Jika perusahaan menetapkan standar yang lebih jauh, mereka mencoba memenuhi keinginan pemangku kepentingan .

    Pada proses penetapan standar lingkungan, tiga pemangku kepentingan yang berbeda memiliki pengaruh utama.
    Stakeholder dan pemerintah , adalah determinan terkuat, diikuti oleh pengaruh konsumen.

    Saat ini, semakin banyak orang yang mempertimbangkan faktor lingkungan dalam keputusan pembeliannya. Pemangku kepentingan ketiga yang memaksa perusahaan untuk menetapkan standar lingkungan adalah pelaku industri . Jika perusahaan merupakan bagian dari jaringan industri, maka mereka dipaksa untuk memenuhi kode etik jaringan tersebut. Kode etik ini sering kali dibuat untuk meningkatkan reputasi kolektif suatu industri. Kekuatan pendorong lain dari pelaku industri dapat berupa reaksi terhadap tindakan pesaing.

    Standar lingkungan yang ditetapkan oleh perusahaan sendiri dapat dibagi menjadi dua dimensi: kebijakan lingkungan operasional dan pesan yang dikirim dalam periklanan dan komunikasi publik.


    Kebijakan lingkungan operasional

    Ini bisa berupa manajemen lingkungan, audit , kontrol, atau teknologi. Dalam dimensi ini, regulasi cenderung terkait erat dengan area fungsi lain, misalnya lean production . Lebih lanjut, dapat dipahami bahwa perusahaan multinasional cenderung untuk menetapkan peraturan pemerintah lingkungan yang diselaraskan lintas negara dan oleh karena itu mencapai tingkat kinerja standar lingkungan yang lebih tinggi.

    Sering dikatakan bahwa perusahaan berfokus pada dimensi kedua: pesan yang dikirim dalam periklanan dan komunikasi publik. Untuk memenuhi persyaratan pemangku kepentingan, perusahaan difokuskan pada kesan publik terhadap standar komitmen diri lingkungan mereka. Seringkali implementasi nyata tidak memainkan peran penting.

    Banyak perusahaan menyelesaikan tanggung jawab atas penerapan departemen anggaran rendah. Para pekerja, yang bertanggung jawab atas standar kehilangan waktu dan sumber daya keuangan untuk menjamin implementasi yang nyata. Selanjutnya, dalam implementasi, konflik tujuan muncul. Perhatian terbesar perusahaan adalah bahwa perlindungan lingkungan lebih luas dibandingkan dengan efek menguntungkan yang diperoleh. Namun, ada banyak penghitungan biaya-manfaat-positif untuk standar lingkungan yang ditetapkan oleh perusahaan itu sendiri. Teramati bahwa perusahaan seringkali menetapkan standar lingkungan setelah krisis publik. Terkadang standar lingkungan telah ditetapkan oleh perusahaan untuk menghindari krisis publik. Mengenai apakah standar komitmen mandiri lingkungan efektif, masih kontroversial. [28] [29] [30][31]


    Lihat juga


    Standard Lingkungan di Indonesia

    Sumber : IEC

    Ketika perusahaan beroperasi, maka proses bisnis yang dilakukan oleh perusahaan tersebut berpotensi untuk menimbulkan dampak terhadap lingkungan, baik dampak positif maupun dampak negatif.

    Pada prinsipnya dampak yang timbul dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu dampak bio-kimia-fisik dan dampak sosial.

    Contoh dari dampak bio-fisik-kimia misalnya pencemaran air, pencemaran udara, kerusakan keanekaragaman hayati, atau pengurangan cadangan air tanah.

    Semua jenis dampak >> akan memberikan resiko yang mempengaruhi bisnis yang dijalankan oleh perusahaan. Misalnya pencemaran air yang ditimbulkan oleh aktivitas perusahaan, akan memberikan resiko pertanggungjawaban dalam bentuk tuntutan pidana dan tuntutan perdata, apakah tuntutan tersebut dari pemerintah, masyarakat, atau lembaga swadaya masyarakat (LSM).

    Ketika perusahaan berupaya untuk menerapkan ISO 14001 - 2015, maka perusahaan tersebut telah memiliki komitmen untuk memperbaiki secara menerus kinerja lingkungannya. Namun, satu hal perlu dingat bahwa ISO 14001 merupakan standar yang memadukan dan menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan lingkungan hidup. Sehingga, upaya perbaikan kinerja yang dilakukan oleh perusahaan akan disesuaikan dengan sumberdaya perusahaan, apakah itu sumberdaya manusia, teknis, atau finansial.

    Adakalanya, perbaikan kinerja lingkungan tidak dapat dicapai dalam waktu singkat karena keterbatasan finansial. Misalnya, sebuah perusahaan yang proses bisnisnya menimbulkan limbah cair yang mencemari lingkungan berupaya untuk menerapkan ISO 14001 di perusahaannya. Setelah kajian dilakukan, ternyata keterbatasan finansial membuat perusahaan tersebut sukar untuk mengelola limbahnya sehingga mencapai baku mutu limbah cair yang disyaratkan oleh pemerintah.

    Berdasarkan analisis finansial, ternyata perusahaan tersebut baru akan mampu membangun sistem pengolahan limbah yang memadai kira-kira beberapa tahun ke depan. Sehingga sebelum masa tersebut terlampaui, perusahaan tidak akan pernah memenuhi baku mutu lingkungan.

    Namun, bila perusahaan tersebut mengembangkan sistem manajemen lingkungan yang memenuhi persyaratan ISO, maka perusahaan tersbut bisa saja memperoleh sertifikat ISO 14001. Perusahaan lain, yang kinerja lingkungannya telah memenuhi baku mutu namun EMS-nya tidak memenuhi persyaratan tidak akan memperoleh sertifikat ISO 14001.

    Uraian di atas menunjukkan bahwa pada prinsipnya, penerapan ISO 14001 tidak berarti tercapainya kinerja lingkungan dalam waktu dekat. Sertifikat EMS dapat saja diberikan kepada perusahaan yang masih mengotori lingkungan.

    Namun, dalam EMS terdapat persyaratan bahwa perusahaan memiliki komitmen untuk melakukan perbaikan secara menerus (continual improvement). Dengan perbaikan secara menerus inilah kinerja lingkungan akan sedikit demi sedikit diperbaiki.

    Dengan kata lain ISO 14001 bersifat conformance (kesesuaian), bukan performance (kinerja)

    ISO 14001 merupakan standar lingkungan yang bersifat sukarela (voluntary). Standar ini dapat dipergunakan oleh oleh organisasi/perusahaan yang ingin:

    Beberapa manfaat penerapan ISO adalah:

    Selain manfaat di atas, perusahaan yang berupaya untuk menerapkan ISO 14001 juga perlu mempersiapkan biaya-biaya yang akan timbul, diantaranya:

    Standar internasional untuk sistem manajemen lingkungan telah diterbitkan pada bulan September 1996, yaitu ISO 14001 dan ISO 14004.

    Standar ini telah diadopsi oleh pemerintah RI ke dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) menjadi SNI-19-14001-1997 dan SNI-19-14001-1997.

    ISO 14001 adalah Sistem manajemen lingkungan yang berisi tentang spesifikasi persyaratan dan panduan untuk penggunaannya. Sedangkan ISO 14004 adalah Sistem manajemen lingklungan yang berisi Panduan-panduan umum mengenai prinsip, sistem dan teknik-teknik pendukung.

    Elemen ISO 14001

    ISO 14001 dikembangkan dari konsep Total Quality Management (TQM) yang berprinsip pada aktivitas PDCA (Plan – Do – Check – Action), sehingga elemen-elemen utama EMS akan mengikuti prinsip PDCA ini, yang dikembangkan menjadi enam prinsip dasar EMS, yaitu:

    1. Kebijakan Lingkungan

    Kebijakan lingkungan harus terdokumentasi dan dikomunikasikan kepada seluruh karyawan dan tersedia bagi masyarakat, dan mencakup komitmen terhadap perbaikan berkelanjutan, pencegahan pencemaran, dan patuh pada peraturan serta menjadi kerangka kerja bagi penetapan tujuan dan sasaran.

    2. Perencanaan

    Mencakup indentifkasi aspek lingkungan dari kegiatan organisasi, identifikasi dan akses terhadap persyaratan peraturan, adanya tujuan dan sasaran yang terdokumentasi dan konsisten dengan kebijakan, dan adanya program untuk mencapai tujuan dan sasaran yang direncanakan (termasuk siapa yang bertanggung jawab dan kerangka waktu)

    3. Implementasi dan Operasi

    Mencakup definisi, dokumentasi, dan komunikasi peran dan tanggung jawab, pelatihan yang memadai, terjaminnya komunikasi internal dan eksternal, dokumentasi tertulis sistem manajemen lingkungan dan prosedur pengendalian dokumen yang baik, prosedur pengendalian operasi yang terdokumentasi, dan prosedur tindakan darurat yang terdokumentasi.

    4. Pemeriksaan dan Tindakan Perbaikan

    Mencakup prosedur yang secara teratur memantau dan mengukur karakteristik kunci dari kegiatan dan operasi, prosedur untuk menangani situasi ketidaksesuaian, prosedur pemeliharaan catatan spesifik dan prosedur audit kenerja sistem manajemen lingkungan

    5. Tinjauan Ulang Manajemen

    Mengkaji secara periodik sistem manajemen lingkungan keseluruhan untuk memastikan kesesuaian, kecukupan, efektifitas sistem manajemen lingkungan terhadap perubahan yang terjadi.

    Pada prinsipnya, keenam prinsip ISO 14001 – Environmental Management System diatas dapat dibagi menjadi 17 elemen, yaitu:


    Kualitas Lingkungan

    sekumpulan sifat dan karakteristik lingkungan >> baik yang digeneralisasikan maupun yang bersifat lokal karena bersinggungan dengan manusia dan organisme lain >> ukuran kondisi lingkungan relatif terhadap persyaratan satu atau lebih spesies, setiap kebutuhan atau tujuan manusia. [1]

    Kualitas lingkungan mencakup

    lingkungan alam serta lingkungan binaan , seperti udara , kemurnian air atau polusi , kebisingan dan potensi efek yang mungkin ditimbulkan oleh karakteristik tersebut terhadap kesehatan fisik dan mental. [2]


    Ikhtisar dan Dampak

    Sumber : HealthyPeople​ > 

    Lingkungan secara langsung mempengaruhi status kesehatan dan memainkan peran utama dalam kualitas hidup, tahun hidup sehat, dan kesenjangan kesehatan.

    Kualitas udara yang buruk terkait dengan kematian dini, kanker, dan kerusakan jangka panjang pada sistem pernapasan dan kardiovaskular. Asap rokok yang mengandung bahan kimia beracun dan penyebab kanker berkontribusi terhadap penyakit jantung dan kanker paru-paru pada orang dewasa yang tidak merokok.

    Secara global, hampir 25% dari semua kematian dan total beban penyakit dapat dikaitkan dengan faktor lingkungan. 

    Kualitas lingkungan yang buruk berdampak paling besar pada orang-orang yang status kesehatannya terancam. Pada tahun 2016, 1 dari 12 anak dan 1 dari 12 orang dewasa di Amerika Serikat menderita asma, yang disebabkan, dipicu, dan diperburuk oleh faktor lingkungan seperti polusi udara dan perokok pasif. Namun:

    Udara, tanah, dan air yang aman sangat penting untuk lingkungan komunitas yang sehat.

    Lingkungan yang bebas dari bahaya, seperti asap rokok, karbon monoksida, alergen, timbal, dan bahan kimia beracun, membantu mencegah penyakit dan masalah kesehatan lainnya. Menerapkan dan menegakkan standar dan peraturan lingkungan, memantau tingkat polusi dan paparan manusia, membangun lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat, dan mempertimbangkan risiko polusi dalam pengambilan keputusan dapat meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup semua orang Amerika.


    Indikator Kesehatan Utama Kualitas Lingkungan

    Indeks Kualitas Udara> 100 (EH-1)

    Anak-anak yang terpapar asap rokok orang lain (TU-11.1)


    Dampak Kesehatan dari Kualitas Lingkungan

    Lingkungan hidup, termasuk perumahan dan pengaturan kelembagaan, dapat mendukung kesehatan sepanjang rentang kehidupan, dari bayi hingga usia tua.

    Bayi dan Anak-anak
    Dewasa
    Orang tua

    Penentu Kualitas Lingkungan

    Banyak lingkungan tempat orang tinggal, bekerja, dan bermain membuat mereka terpapar polusi dan bahaya. Untungnya, rumah, komunitas, tempat kerja, dan sekolah dapat dirancang untuk mempromosikan pilihan yang sehat dan meningkatkan keselamatan.

    Desain komunitas yang sehat dapat meningkatkan kesehatan dan keselamatan masyarakat dengan:

    Kemampuan hidup di daerah dengan kualitas lingkungan yang tinggi dikaitkan dengan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pendapatan, ras dan suku, serta letak geografis. Banyak bahaya yang berhubungan dengan kesehatan (seperti jamur, alergen, kualitas udara dalam ruangan yang buruk, kekurangan struktur, dan timbal) ditemukan secara tidak proporsional di perumahan berpenghasilan rendah.

    Mengatasi faktor penentu ini adalah kunci dalam mengurangi kesenjangan kesehatan dan meningkatkan kesehatan semua orang Amerika. Diperlukan upaya untuk mengatasi hambatan peningkatan kualitas lingkungan.


    Kebijakan Lingkungan 

    Sumber 1 : Britannica​ >


    Definisi
    Kebijakan Lingkungan >> tindakan apa pun yang dilakukan oleh pemerintah atau perusahaan atau organisasi publik atau swasta lainnya >> efek aktivitas manusia pada lingkungan, terutama tindakan yang dirancang untuk mencegah atau mengurangi efek berbahaya dari aktivitas manusia pada ekosistem

    Kebijakan lingkungan diperlukan karena nilai lingkungan biasanya tidak dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan organisasi.

    Ada dua alasan utama kelalaian itu.

    Pertama | dampak lingkungan >> eksternalitas ekonomi >> Para pencemar biasanya tidak menanggung konsekuensi tindakan mereka; efek negatif paling sering terjadi di tempat lain atau di masa mendatang.

    Kedua | sumber daya alam >> selalu dihargai rendah karena seringkali dianggap memiliki ketersediaan yang tidak terbatas.


    Sejarah Pembuatan Kebijakan Lingkungan

    Kebijakan publik yang ditujukan untuk perlindungan lingkungan sudah ada sejak zaman kuno.

    Saluran pembuangan paling awal dibangun di Mohenjo-daro ( peradaban Indus, atau Harappa ) dan di Roma ( peradaban Romawi kuno ), yang masing-masing berasal dari 4.500 tahun dan 2.700 tahun yang lalu.

    Peradaban lain menerapkan hukum lingkungan. Kota-negara bagian Yunani kuno menciptakan undang-undang yang mengatur penebangan hutan sekitar 2.300 tahun yang lalu.

    Kota Paris mengembangkan sistem saluran pembuangan skala besar pertama di Eropa selama abad ke-17. Ketika efek industrialisasi dan urbanisasi meningkat selama akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dan mengancam kesehatan manusia.

    Pemerintah mengembangkan aturan dan regulasi tambahan untuk kebersihan perkotaan, pembuangan limbah, sanitasi, dan perumahan, serta undang-undang pertama yang ditujukan untuk melindungi pemandangan alam dan satwa liar (seperti pembuatan Taman Nasional Yellowstone sebagai yang pertama di dunia taman nasional pada tahun 1872).

    Perorangan yang kaya dan yayasan swasta, seperti Sierra Club (didirikan 1892) dan National Audubon Society (didirikan 1905), juga berkontribusi pada upaya pelestarian sumber daya alam dan satwa liar.

    Orang menjadi sadar akan efek berbahaya dari emisi dan penggunaan bahan kimia dalam industri dan pestisida di pertanian selama tahun 1950-an dan 60-an.

    Kesadaran publik yang lebih besar tentang masalah lingkungan dan sistem regulasi disebabkan karena

    Munculnya Penyakit Minamata pada tahun 1956 di Jepang, yang diakibatkan oleh pelepasan merkuri dari perusahaan kimia terdekat, dan publikasi Silent Spring (1962) oleh ahli biologi Amerika Rachel Carson , yang menyoroti bahaya pencemaran

    Dalam peraturan tersebut, pemerintah melarang penggunaan bahan berbahaya atau tingkat emisi maksimum yang ditentukan dari bahan tertentu untuk memastikan kualitas lingkungan minimum. Sistem pengaturan seperti Air ​Bersih dan Udara Bersih di Amerika Serikat, berhasil secara efektif menangani sumber polusi, seperti pabrik dan utilitas industri, di mana hubungan sebab-akibat antara para aktor yang menyebabkan lingkungan efek  negatif dapat ditetapkan dengan jelas.

    Namun demikian, beberapa masalah lingkungan tetap ada, seringkali karena banyak sumber nonpoint (tersebar), seperti gas buang dari mobil pribadi dan pestisida serta limpasan pupuk dari pertanian kecil, yang berkontribusi pada polusi ​udara dan air .

    Secara individual, sumber-sumber kecil tersebut mungkin tidak berbahaya, tetapi akumulasi pencemarannya dapat melebihi norma minimum regulasi untuk kualitas lingkungan. Selain itu, meningkatnya kompleksitas rantai sebab dan akibat telah berkontribusi pada masalah yang terus-menerus. Pada 1980-an efek hujan asam menunjukkan bahwa penyebab pencemaran lingkungan dapat dipisahkan secara geografis dari pengaruhnya.

    Semua jenis masalah polusi menggarisbawahi pesan bahwa sumber daya alam bumi sedang menipis dan terdegradasi.

    Pada akhir 1980-an, Pembangunan berkelanjutan – (yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi sambil menjaga kualitas lingkungan untuk generasi mendatang – menjadi konsep terdepan dalam pembuatan kebijakan lingkungan. Dengan alam dan sumber daya alam dianggap sebagai penggerak ekonomi, pembuatan kebijakan lingkungan tidak lagi menjadi domain eksklusif. pemerintah.

    Sebaliknya, industri swasta dan organisasi non pemerintah mengambil tanggung jawab yang lebih besar terhadap lingkungan. Juga, konsep tersebut menekankan bahwa individu dan komunitas mereka memainkan peran kunci dalam implementasi kebijakan yang efektif.


    Konsep Panduan

    Selama bertahun-tahun, berbagai prinsip telah dikembangkan untuk membantu pembuat kebijakan. Contoh dari prinsip panduan tersebut, beberapa di antaranya telah memperoleh dasar hukum di beberapa negara, adalah “prinsip pencemar membayar ”, yang membuat pencemar bertanggung jawab atas biaya kerusakan lingkungan, dan prinsip kehati-hatian, yang menyatakan bahwa suatu kegiatan tidak diperbolehkan jika ada kemungkinan konsekuensi tidak dapat diubah.

    Prinsip panduan langsung seperti itu tidak bekerja di semua situasi. Misalnya, beberapa tantangan lingkungan, seperti pemanasan global , menjelaskan kebutuhan untuk memandang Bumi sebagai ekosistem yang terdiri dari berbagai subsistem, yang, jika terganggu, dapat menyebabkan perubahan cepat yang berada di luar kendali manusia.

    Membuat para pembuat polusi membayar atau penerapan prinsip kehati-hatian secara tiba-tiba oleh semua negara tidak akan serta merta mengurangi kerusakan yang sudah ditimbulkan kepada biosfer , meskipun itu akan mengurangi kerusakan di masa depan.

    Sejak awal 1970-an, kebijakan lingkungan telah bergeser dari solusi ujung pipa ke pencegahan dan pengendalian. Solusi semacam itu mengandalkan mitigasi efek negatif. Selain itu, jika efek negatif tidak dapat dihindari, hal itu dapat dikompensasikan dengan berinvestasi di alam di tempat lain selain di tempat kerusakan itu terjadi.

    Solusi ketiga, yang mengembangkan kebijakan yang berfokus pada adaptasi lingkungan hidup terhadap perubahan, juga dimungkinkan. Lebih khusus lagi, tindakan yang memperkuat ekosistem ketahanan ekologi (yaitu, kemampuan ekosistem untuk mempertahankan pola normal siklus hara dan produksi biomassa ), dikombinasikan dengan tindakan yang menekankan pada pencegahan dan mitigasi, telah digunakan. Salah satu contohnya ada di Curitiba , Brazil, kota di mana beberapa distrik mengalami banjir setiap tahun.

    Penduduk di distrik rawan banjir dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi dan lebih kering, dan bekas tempat tinggal mereka diubah menjadi taman yang bisa banjir tanpa mengganggu kehidupan kota.


    Instrumen Kebijakan Lingkungan

    Berbagai instrumen telah dikembangkan untuk mempengaruhi perilaku para aktor yang berkontribusi pada masalah lingkungan. Secara tradisional, teori kebijakan publik berfokus pada regulasi, insentif keuangan, dan informasi sebagai alat pemerintah. Namun, instrumen kebijakan baru seperti persyaratan kinerja dan izin yang dapat diperdagangkan telah digunakan.

    Peraturan

    Peraturan digunakan untuk memberlakukan persyaratan minimum untuk kualitas lingkungan. Intervensi tersebut bertujuan untuk mendorong atau mencegah kegiatan tertentu dan efeknya, yang melibatkan emisi tertentu, masukan tertentu ke lingkungan (seperti zat berbahaya tertentu), konsentrasi bahan kimia di sekitarnya, risiko dan kerusakan, dan paparan. 

    Seringkali, izin harus diperoleh untuk kegiatan tersebut, dan izin harus diperbarui secara berkala. Dalam banyak kasus, pemerintah daerah dan daerah merupakan otoritas penerbit dan pengendali. Namun, aktivitas yang lebih terspesialisasi atau berpotensi berbahaya, seperti pabrik industri yang mengolah bahan kimia berbahaya atau pembangkit listrik tenaga nuklir dengan menggunakan batang bahan bakar radioaktif, lebih mungkin dikendalikan oleh otoritas federal atau nasional.

    Regulasi adalah cara yang efektif untuk mengatur dan mengontrol perilaku. Peraturan lingkungan yang terperinci telah menghasilkan peningkatan yang cukup besar dalam kualitas udara, air, dan tanah sejak awal tahun 1970-an. Kekuatan regulasi adalah bahwa secara umum mengikat — mencakup semua aktor yang ingin melakukan aktivitas yang dijelaskan dalam regulasi — dan memperlakukan mereka dalam kerangka yang sama. Regulasinya juga kaku: sulit diubah.

    Hal ini bisa dianggap sebagai kekuatan, karena kekakuan memastikan regulasi tidak akan berubah terlalu mendadak. Namun, kekakuan juga dapat dianggap sebagai kelemahan, karena memperlambat inovasi, karena para pelaku berusaha untuk tetap berada di dalam hukum daripada menciptakan teknologi baru,seperti pembersih emisi yang lebih efisien di cerobong asap yang akan menghilangkan lebih banyak polusi daripada yang diamanatkan peraturan. 

    Ketika peraturan menuntut standar yang sulit atau tidak mungkin dipenuhi — karena kurangnya pengetahuan, keterampilan, atau keuangan dari pihak aktor atau salah urus oleh pembuat kebijakan — peraturan tidak akan efektif.

    Salah satu perbaikan umum dalam regulasi lingkungan yang dibuat sejak tahun 1970-an adalah pengembangan persyaratan kinerja, yang memungkinkan para pelaku untuk menentukan tindakan mereka sendiri untuk memenuhi standar. Misalnya, mereka tidak diharuskan membeli peralatan tertentu untuk memenuhi standar emisi. Mereka dapat melakukannya dengan cara lain, seperti mengembangkan teknologi atau proses yang mengurangi emisi. Keuntungan dari persyaratan kinerja adalah bahwa para pelaku yang diatur oleh peraturan tersebut didorong untuk berinovasi agar dapat memenuhi persyaratan tersebut. Terlepas dari keunggulan itu, persyaratan kinerja tidak dapat menahan aktor yang kurang insentif untuk mencapai lebih dari persyaratan minimum.

    Insentif keuangan

    Pemerintah dapat memutuskan untuk merangsang perubahan perilaku >> memberikan insentif keuangan yang positif atau negatif — misalnya, melalui subsidi , potongan pajak, atau denda dan pungutan. Insentif tersebut dapat memainkan peran penting dalam mendorong inovasi dan dalam difusi dan adopsi inovasi. Misalnya, di Jerman, luasnya subsidi sistem energi matahari untuk pemilik rumah pribadi meningkatkan penggunaan panel fotovoltaik (PV) skala besar. Insentif atau disinsentif finansial juga dapat merangsang pelaku profesional untuk berubah. Kelemahan potensial dari insentif finansial adalah mereka mendistorsi pasar.

    Jika tidak digunakan dalam jangka waktu terbatas, >> dapat membuat penerima bergantung pada subsidi. Kekurangan terakhir adalah subsidi merupakan instrumen yang mahal, terutama jika subsidi bersifat terbuka.

    Pelaporan lingkungan dan ekolabel

    Ada beberapa instrumen yang bertujuan untuk menginformasikan pengambil keputusan tentang dampak lingkungan dari tindakan mereka. Keputusan biasanya didasarkan pada analisis biaya-manfaat di mana biaya dan manfaat lingkungan tidak menjadi bagiannya. 

    Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah instrumen yang membantu pengambil keputusan publik untuk memutuskan inisiatif dengan dampak lingkungan tertentu, seperti pembangunan jalan dan pabrik industri.

    AMDAL, yang telah menjadi persyaratan hukum di banyak negara, mensyaratkan bahwa dampak lingkungan dari suatu proyek, seperti pembangunan bendungan atau pusat perbelanjaan, dipelajari dan bahwa para pelaku diberi tahu tentang bagaimana mengurangi kerusakan lingkungan dan kompensasi apa mereka dapat menerima karena melakukannya. AMDAL memungkinkan pembuat keputusan untuk memasukkan informasi lingkungan dalam analisis biaya-manfaat.

    Meskipun semua AMDAL tidak dapat menghentikan inisiatif, mereka dapat mengurangi dampak negatif lingkungan.

    Sistem manajemen lingkungan adalah pendekatan komprehensif yang membantu organisasi mengurangi penggunaan sumber daya alam sekaligus mengurangi biaya dan — bila disertifikasi — berkontribusi pada citra positif. Standar yang paling umum dikenal untuk sistem semacam itu adalah standar ISO 14000, yang pertama kali dikeluarkan oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) pada tahun 1996. Standar tersebut membantu organisasi mengontrol dampak lingkungannya, merumuskan dan memantau tujuan lingkungan, dan menunjukkan bahwa mereka telah tercapai.

    Ekolabel dan sertifikat yang diterapkan pada produk dan layanan tertentu menginformasikan konsumen tentang kinerja lingkungan mereka. Terkadang pemerintah mewajibkan label dan sertifikat seperti itu, seperti tanda “Ekolabel UE” di Eropa, yang menyatakan bahwa suatu produk telah memenuhi persyaratan minimum untuk keselamatan konsumen, kesehatan, dan keramahan lingkungan.

    Untuk mendorong organisasi mengembangkan produk dan layanan yang bekerja melebihi persyaratan minimum tersebut, terdapat label yang secara khusus menyatakan keramahan lingkungan dari produk atau layanan tersebut. Misalnya, peringkat Bintang Energi di Amerika Serikat menunjukkan tingkat kinerja energi peralatan rumah tangga. Ekolabel sering diterapkan dalam industri makanan (seperti untuk organik bersertifikat atau perdagangan adilproduk bersertifikat) dan untuk kinerja energi di gedung ( standar LEED ). 

    Asumsi yang mendasari ekolabel adalah bahwa konsumen yang mendapat informasi yang membeli produk yang bertanggung jawab terhadap lingkungan akan mendorong industri untuk berinovasi dan menghasilkan produk yang lebih bersih.

    Perjanjian kebijakan global

    Sejak awal tahun 1970-an, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyediakan forum utama untuk negosiasi dan kesepakatan internasional tentang kebijakan dan tujuan lingkungan.

    Konferensi Stockholm tahun 1972 adalah konferensi internasional pertama tentang masalah lingkungan dan diikuti oleh konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED) di Rio de Janeiro pada tahun 1992 dan di Johannesburg pada tahun 2002. PBB juga menyelenggarakan konferensi khusus tentang perubahan iklim, seperti tahun 1996 di Kyoto dan 2009 di Kopenhagen.

    Konferensi dan KTT tersebut menanggapi karakter global dari beberapa masalah lingkungan yang paling menantang, yang akan membutuhkan kerja sama internasional untuk menyelesaikannya. Konferensi tersebut efektif dalam menetapkan agenda internasional untuk pembuatan kebijakan lingkungan regional dan nasional yang menghasilkan perjanjian dan protokol, juga dikenal sebagai “hukum keras,” dan dalam resolusi, pernyataan, dan deklarasi yang tidak mengikat, atau “hukum lunak”.

    Bahwa perjanjian konferensi Rio tahun 1992 adalah soft law, maka Kyoto Protocol adalah hukum yang keras, dengan target pengurangan emisi  greenhouse gas untuk wilayah dan negara.

    Implementasi bersama – mekanisme pertama, memungkinkan negara-negara untuk berinvestasi dalam menurunkan emisi di negara lain yang telah meratifikasi Protokol Kyoto dan, dengan demikian, memiliki target pengurangan yang harus dipenuhi.

    Untuk negara industri maju yang telah berinvestasi dalam pengurangan emisi di ekonominya sendiri, lebih murah berinvestasi dalam pengurangan emisi di negara lain dengan perekonomian dalam transisi, di mana investasi yang sama akan mengarah pada pengurangan yang lebih besar.

    Dengan kata lain, negara investor dapat memperoleh kredit karena membantu negara dengan transisi ekonomi untuk menurunkan emisinya.

    Pembangunan bersih – mekanisme kedua, memungkinkan negara-negara industri yang telah meratifikasi protokol untuk memenuhi target mereka di negara mana pun yang paling murah untuk berinvestasi — yaitu, di negara berkembang — bahkan jika negara tersebut tidak meratifikasi protokol tersebut.

    Mekanisme tersebut tidak perlu dipersoalkan, karena melibatkan pertanyaan tentang intervensi dalam perekonomian negara berkembang, yang mungkin berdampak pada perkembangan ekonomi negara-negara tersebut.

    Untuk mencegah negara-negara industri agar tidak mengurangi emisinya sendiri, mekanisme tersebut hanya dapat digunakan sebagai pelengkap pengurangan dalam negeri, tetapi tidak ada definisi tindakan tambahan yang diberikan, yang menyebabkan beberapa negara mencapai 50 persen dari target pengurangan mereka melalui mekanisme tersebut.

    Mekanisme ketiga, perdagangan emisi karbon (yang juga dikenal sebagai “cap and trade”), adalah instrumen berbasis pasar dan dapat diterapkan dalam bentuk pasar sukarela atau dalam kerangka wajib.

    Kebanyakan skema perdagangan didasarkan pada model cap-and-trade. Otoritas pusat membatasi emisi karbon keseluruhan yang diizinkan di suatu negara atau wilayah. Dalam batasan tersebut, hak emisi dialokasikan kepada para pencemar, dan emisi yang dihasilkan di luar hak tersebut akan dikenai sanksi.

    Idenya adalah bahwa pembuat polusi memilih antara berinvestasi dalam pengurangan emisi atau izin emisi. Dengan menurunkan batas seiring waktu, pengurangan emisi total dapat dicapai. Perdagangan izin akan memastikan bahwa pengurangan emisi dicapai dengan biaya terendah.

    image-1606039325782.png

    Bagaimana perdagangan emisi bekerja. Dengan asumsi dua pabrik penghasil emisi, A dan B. Setiap pabrik mengeluarkan 100 ton polutan (dengan total emisi 200 ton), serta regulasi diasumsikan bahwa total emisi dari kedua pabrik ini dipotong setengah  – sehingga total pengurangan emisi yang harus dilakukan kedua pabrik hanya 100 ton..

    Dalam sistem Command and Control (Gbr. Kiri), setiap pabrik mungkin diharuskan mengurangi 50 ton (agar total regulasi 100 ton tercapai). Biaya yang dibutuhkan Pabrik A untuk mengurangi emisi hanya $ 100 per ton, dengan total pengeluaran $ 5.000.  Biaya yang dibutuhkan Pabrik B adalah $ 200 per ton, dengan total $ 10.000. Oleh karena itu, biaya untuk kedua pabrik untuk mencapai pengurangan 100 ton secara keseluruhan adalah $ 15.000.

    Dalam sistem Cap and Trade (Gbr Kanan) , Pabrik A,  dengan biaya pengurangan emisi lebih murah mampu mengurangi emisi sebanyak 75 ton. Pabrik B, dengan biaya pengurangan emisi yang lebih mahal hanya mampu mengurangi emisi sebanyak 25 ton sehingga tentunya akan terasa lebih murah untuk untuk membeli kelebihan pengurangan emisi Pabrik A (25 ton) tentunya sesuai dengan biaya pengurangan Pabrik A ($100 per ton) dengan sistem ini regulasi pengurangan 100 ton tetap akan tercapai tetapi dengan total biaya yang lebih rendah ($ 12.500) daripada di bawah sistem Command and Control

    Instrumen izin yang dapat diperdagangkan telah diterapkan untuk emisi lainnya. Skema perdagangan emisi pertama dimulai pada tahun 1974, ketika Amerika Serikat bereksperimen emissions trading sebagai bagian dari Clean Air Act.

     

    Kebijakan Lingkungan 
    Sumber 2 : Wikipedia

    Kebijakan lingkungan >> komitmen suatu organisasi atau pemerintah terhadap peraturan perundang-undangan, dan mekanisme kebijakan lainnya yang menyangkut masalah lingkungan .

    Isu-isu ini umumnya termasuk udara dan pencemaran air , pengelolaan limbah , pengelolaan ekosistem , pemeliharaan keanekaragaman hayati , pengelolaan sumber daya alam , satwa liar dan spesies yang terancam punah . [1] 

    Contoh >> implementasi kebijakan berorientasi eko-energi di tingkat global untuk mengatasi masalah pemanasan global dan perubahan iklim dapat diatasi. [2]Kebijakan mengenai energi atau regulasi bahan beracun termasuk pestisida dan berbagai jenis limbah industri merupakan bagian dari topik kebijakan lingkungan. 

    Kebijakan ini dapat dengan sengaja diambil untuk mempengaruhi aktivitas manusia dan dengan demikian mencegah efek yang tidak diinginkan pada lingkungan biofisik dan sumber daya alam, serta untuk memastikan bahwa perubahan lingkungan tidak menimbulkan efek yang tidak dapat diterima pada manusia. [3]

    Definisi Kebijakan Lingkungan
    Kebijakan lingkungan >>  lingkungan dan kebijakan . Lingkungan mengacu pada ekosistem fisik, tetapi juga dapat mempertimbangkan dimensi sosial (kualitas hidup, kesehatan) dan dimensi ekonomi (pengelolaan sumber daya, keanekaragaman hayati). [4] 

    Kebijakan dapat didefinisikan sebagai "rangkaian tindakan atau prinsip yang diadopsi atau diusulkan oleh pemerintah, pihak, bisnis atau individu". [5] Dengan demikian, kebijakan lingkungan cenderung menitikberatkan pada masalah-masalah yang timbul dari dampak manusia terhadap lingkungan, yang penting bagi masyarakat manusia dengan memiliki dampak (negatif) pada nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan seperti itu sering disebut sebagai kesehatan yang baik atau lingkungan 'bersih dan hijau'. Dalam praktiknya, analis kebijakan menyediakan berbagai jenis informasi untuk proses pengambilan keputusan publik. [6]

    Isu-isu lingkungan >> ditangani >> kebijakan lingkungan termasuk (namun tidak terbatas pada) udara dan pencemaran air , pengelolaan limbah , ekosistem manajemen, keanekaragaman hayati perlindungan, perlindungan sumber daya alam , satwa liar dan spesies yang terancam punah , dan pengelolaan sumber daya alam untuk generasi mendatang . Baru-baru ini, kebijakan lingkungan juga memperhatikan komunikasi masalah lingkungan. [7] 

    Berbeda dengan kebijakan lingkungan,
    kebijakan ekologi >> membahas isu-isu yang berfokus pada pencapaian manfaat (baik moneter maupun non moneter) dari dunia ekologi non manusia. Secara luas termasuk dalam kebijakan ekologi >> pengelolaan sumber daya alam (perikanan, kehutanan, margasatwa, wilayah jelajah, keanekaragaman hayati, dan spesies berisiko). Bidang kebijakan khusus ini memiliki ciri khasnya sendiri. [8]


    Alasan

    Alasan keterlibatan pemerintah >> lingkungan sering dikaitkan dengan kegagalan pasar dalam bentuk kekuatan di luar kendali seseorang, termasuk masalah free rider dan tragedi milik bersama . Contoh eksternalitas adalah ketika pabrik menghasilkan polusi limbah yang dapat dibuang ke sungai, yang pada akhirnya mencemari air. 

    Biaya tindakan semacam itu dibayar oleh masyarakat pada umumnya ketika mereka harus membersihkan air sebelum meminumnya dan di luar biaya pencemar. Masalah free rider - penumpang gratis terjadi ketika biaya marjinal pribadi untuk mengambil tindakan melindungi lingkungan lebih besar >>  manfaat marjinal pribadi, tetapi biaya marjinal sosial lebih kecil daripada manfaat marjinal sosial.

    Tragedy of the commons adalah kondisi dimana tidak ada orang yang memiliki sepenuhnya (public goods), setiap individu memiliki insentif untuk memanfaatkan sumber daya bersama sebanyak mungkin. Tanpa keterlibatan pemerintah, public goods digunakan secara berlebihan. Contoh tragedi milik bersama adalah penangkapan ikan berlebihan dan penggembalaan berlebihan . [9]


    Instrumen dan masalah 

    Instrumen kebijakan lingkungan >> alat yang digunakan oleh pemerintah dan organisasi lain untuk mengimplementasikan kebijakan lingkungan.

    Pemerintah, >> , dapat menggunakan berbagai jenis instrumen. >> , insentif ekonomi dan instrumen berbasis pasar seperti pajak dan pembebasan pajak, izin yang dapat diperdagangkan, dan biaya bisa sangat efektif untuk mendorong kepatuhan terhadap kebijakan lingkungan. [10] Asumsinya adalah bahwa perusahaan dan organisasi lain yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan yang efisien dan transparan tentang data dan pelaporan lingkungan mereka mungkin mendapat manfaat dari peningkatan kinerja bisnis dan organisasi. [11]

    Perjanjian bilateral antara pemerintah dan perusahaan swasta dan komitmen yang dibuat oleh perusahaan yang tidak bergantung pada persyaratan pemerintah adalah contoh tindakan lingkungan sukarela. Instrumen lainnya adalah implementasi program pembelian publik yang lebih hijau. [12]

    Beberapa instrumen terkadang digabungkan dalam bauran kebijakan untuk mengatasi masalah lingkungan tertentu. Karena masalah lingkungan memiliki banyak aspek, beberapa instrumen kebijakan mungkin diperlukan untuk menangani masing-masing aspek secara memadai. Selain itu, kombinasi kebijakan yang berbeda dapat memberikan fleksibilitas yang lebih besar kepada perusahaan dalam kepatuhan kebijakan dan mengurangi ketidakpastian mengenai biaya kepatuhan tersebut.

    Idealnya, kebijakan pemerintah harus dirumuskan dengan hati-hati sehingga tindakan individu tidak saling melemahkan, atau menciptakan kerangka kerja yang kaku dan hemat biaya. Kebijakan yang tumpang tindih mengakibatkan biaya administrasi yang tidak perlu, sehingga meningkatkan biaya pelaksanaan. [13] Untuk membantu pemerintah mewujudkan tujuan kebijakan mereka, Direktorat Lingkungan OECD , misalnya, mengumpulkan data tentang efisiensi dan konsekuensi dari kebijakan lingkungan yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat. [14] Situs web, www.economicinstruments.com, [1] [15] menyediakan basis data yang merinci pengalaman negara dengan kebijakan lingkungan mereka.  Komisi Ekonomi PBB untuk Eropa , melaluiTinjauan Kinerja Lingkungan UNECE , mengevaluasi kemajuan yang dibuat oleh negara-negara anggotanya dalam meningkatkan kebijakan lingkungan mereka.

    Ketergantungan saat ini pada kerangka kerja berbasis pasar memiliki pendukung dan pencela. Di antara para pengkritik misalnya, beberapa pemerhati lingkungan berpendapat bahwa diperlukan pendekatan yang lebih radikal dan menyeluruh daripada serangkaian inisiatif khusus, untuk menangani perubahan iklim . 
    Misalnya, langkah-langkah efisiensi energi sebenarnya dapat meningkatkan konsumsi energi jika tidak ada batasan penggunaan bahan bakar fosil, karena orang mungkin mengendarai mobil yang lebih hemat bahan bakar. Untuk mengatasi hasil ini, Aubrey Meyer menyerukan 'pasar berbasis kerangka kerja' untuk kontraksi dan konvergensi . The Cap and Share dan Sky Kepercayaan proposal berdasarkan pada ide.

    Analisis dampak lingkungan (AMDAL) dilakukan >> membandingkan dampak berbagai alternatif kebijakan. Selain itu, meskipun sering diasumsikan bahwa pembuat kebijakan membuat keputusan rasional berdasarkan manfaat proyek, Eccleston dan March berpendapat bahwa meskipun pembuat kebijakan biasanya memiliki akses ke informasi lingkungan yang cukup akurat, faktor politik dan ekonomi penting dan sering mengarah pada keputusan kebijakan yang memberi peringkat prioritas lingkungan dari kepentingan sekunder.

    Teori pengambilan keputusan meragukan premis ini. Keputusan irasional diambil berdasarkan bias yang tidak disadari, asumsi yang tidak logis, dan keinginan untuk menghindari ambiguitas dan ketidakpastian. [16]

    Eccleston mengidentifikasi dan menjelaskan empat dari masalah kebijakan lingkungan paling kritis yang dihadapi umat manusia: kelangkaan air , kelangkaan pangan , perubahan iklim , dan paradoks populasi . [17] [18] [19]


    Penelitian dan inovasi

    Sinergis dengan kebijakan lingkungan adalah kebijakan penelitian dan inovasi lingkungan . Contohnya >> penelitian lingkungan Eropa dan kebijakan inovasi , >> bertujuan untuk mendefinisikan dan melaksanakan agenda transformatif untuk menghijaukan ekonomi dan masyarakat secara keseluruhan untuk mencapai pembangunan yang benar-benar berkelanjutan.

    Eropa secara khusus aktif di bidang ini, melalui serangkaian strategi, tindakan, dan program untuk mempromosikan penelitian dan inovasi yang lebih banyak dan lebih baik untuk membangun masyarakat yang hemat sumber daya, tahan iklim, dan ekonomi yang berkembang selaras dengan lingkungan alaminya. Penelitian dan inovasi di Eropa secara finansial didukung oleh program Horizon 2020 , yang juga terbuka untuk partisipasi di seluruh dunia. [20]

    Riset UNFCCC menunjukkan bahwa proyek dan kebijakan terkait iklim yang melibatkan perempuan lebih efektif. Kebijakan, proyek dan investasi tanpa partisipasi yang berarti dari perempuan kurang efektif dan seringkali meningkatkan ketidaksetaraan gender yang ada. 

    Solusi iklim yang ditemukan oleh perempuan yang melintasi batas politik atau etnis sangat penting di wilayah di mana seluruh ekosistem terancam, misalnya negara pulau kecil, Arktik dan Amazon dan di wilayah di mana mata pencaharian masyarakat bergantung pada sumber daya alam misalnya penangkapan ikan, pertanian dan kehutanan. [21] [22] [23]


    Sejarah

    Meskipun Clean Air Act 1956 >> menanggapi London 's Big Smog 1952 merupakan langkah bersejarah ke depan, dan >> 1955 Pengendalian Polusi Udara Act -Clean Air Act >> undang-undang - pertama federal AS  >> polusi udara , tahun 1960 menandai awal dari kebijakan lingkungan yang modern pembuatan.

    Pendiri Hari Bumi >> Gaylord Nelson, >> seorang Senator AS dari Wisconsin, >> menyaksikan kerusakan akibat tumpahan minyak besar-besaran tahun 1969 di Santa Barbara, California, >> terkenal karena pekerjaan lingkungannya. 

    Administrator Ruckelshaus dikukuhkan oleh Senat >> tanggal 2 Desember 1970, yang merupakan tanggal tradisional yang digunakan sebagai tanggal lahir >>  Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA).

    Lima bulan sebelumnya, pada Juli 1970, Presiden Nixon telah menandatangani Rencana Reorganisasi No. 3 yang menyerukan pembentukan EPA. Pada saat itu, Kebijakan Lingkungan adalah masalah bipartisan dan upaya Amerika Serikat membantu mendorong negara-negara di seluruh dunia untuk membuat kebijakan lingkungan. [24]S

    Selama periode ini, undang-undang disahkan untuk mengatur polutan yang masuk ke udara, tabel air, dan pembuangan limbah padat. Presiden Nixon menandatangani Clean Air Act pada tahun 1970 yang menetapkan AS sebagai salah satu pemimpin dunia dalam pelestarian lingkungan. Menteri lingkungan pertama dunia adalah Politisi Inggris Peter Walker dari Partai Konservatif pada tahun 1970. "Benzinbleigesetz" dari Jerman mengurangi Tetraethyllead sejak 1972.

    Di Uni Eropa, Program Tindakan Lingkungan pertama >> diadopsi oleh perwakilan pemerintah nasional >> bulan Juli 1973 >> pertemuan pertama Dewan Menteri Lingkungan. [25] Sejak itu, jaringan perundang-undangan yang semakin padat >> dikembangkan, >> sekarang meluas ke semua bidang perlindungan lingkungan termasuk pengendalian polusi udara, perlindungan air dan kebijakan limbah, tetapi juga konservasi alam dan pengendalian bahan kimia, bioteknologi dan risiko industri lainnya. >>  Kebijakan lingkungan Uni Eropa dengan demikian telah menjadi bidang inti politik Eropa. >> Umweltbundesamt Jerman didirikan di Berlin 1974.

    Perusahaa  >> lebih sadar akan risiko lingkungan dan persyaratan kinerja . >> dengan standar ISO 14001, >> mengembangkan kebijakan lingkungan yang sesuai untuk perusahaan mereka. [26] >> menguraikan kinerja lingkungan perusahaan serta tujuan lingkungannya. 


    Integrasi kebijakan lingkungan

    Konsep integrasi kebijakan lingkungan (EPI) >> pada proses mengintegrasikan tujuan lingkungan ke dalam bidang kebijakan non-lingkungan, seperti energi, pertanian dan transportasi, daripada membiarkannya dikejar hanya melalui praktik kebijakan lingkungan murni. Hal ini seringkali sangat menantang karena kebutuhan untuk menyelaraskan tujuan global dan aturan internasional dengan kebutuhan dan hukum domestik. [27] EPI secara luas diakui sebagai salah satu elemen kunci pembangunan berkelanjutan. Baru-baru ini, gagasan 'integrasi kebijakan iklim', juga dilambangkan sebagai 'pengarusutamaan', telah diterapkan untuk menunjukkan integrasi pertimbangan iklim (baik mitigasi dan adaptasi) ke dalam aktivitas normal pemerintah (seringkali berfokus pada ekonomi).[28]


    Studi kebijakan lingkungan

    Mengingat meningkatnya kebutuhan akan praktisi lingkungan yang terlatih, sekolah pascasarjana di seluruh dunia menawarkan gelar profesional khusus dalam studi kebijakan lingkungan. Meskipun tidak ada standar kurikulum , siswa biasanya mengambil kelas di analisis kebijakan , ilmu lingkungan , hukum lingkungan dan politik , ekologi , energi , dan pengelolaan sumber daya alam . Lulusan dari program ini dipekerjakan oleh pemerintah , organisasi internasional , sektor swasta , think tankorganisasi advokasi, universitas , dan sebagainya.

    Institusi akademis menggunakan berbagai sebutan untuk mengacu pada derajat kebijakan lingkungan mereka. Gelar biasanya termasuk dalam salah satu dari empat kategori besar: master seni , master sains , master administrasi publik , dan PhD . Terkadang, nama yang lebih spesifik digunakan untuk mencerminkan fokus program akademik.

    Institusi terkenal termasuk Balsillie School of International Affairs , SIPA at Columbia , Sciences Po Paris , Graduate Institute Geneva , University of Oxford , University of Warwick , dan University of British Columbia , antara lain.

     

    P04 & 05

    Implikasi Ekonomi akibat Penerapan Kebijakan Lingkungan

    Sumber : Economics

    Pertumbuhan ekonomi berarti peningkatan output riil (PDB riil). Oleh karena itu, dengan peningkatan output dan konsumsi kita cenderung melihat biaya dibebankan pada lingkungan. Dampak lingkungan dari pertumbuhan ekonomi termasuk peningkatan konsumsi sumber daya tak terbarukan, tingkat polusi yang lebih tinggi, pemanasan global dan potensi hilangnya habitat lingkungan.

    Namun, tidak semua bentuk pertumbuhan ekonomi menyebabkan kerusakan lingkungan. Dengan meningkatnya pendapatan riil, individu memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mengabdikan sumber daya untuk melindungi lingkungan dan mengurangi efek berbahaya dari polusi. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang disebabkan oleh peningkatan teknologi dapat menghasilkan keluaran yang lebih tinggi dengan polusi yang lebih sedikit.


    Pertukaran klasik antara pertumbuhan ekonomi dan sumber daya lingkungan

    ppf-lingkungan-konsumsi

    Kurva Production Possibility Frontie (PPF) ini menunjukkan trade-off antara sumber daya tak terbarukan dan konsumsi.

    Kurva diatas menjelaskan bahwa laju pertumbuhan ekonomi global dalam satu abad terakhir telah menyebabkan penurunan ketersediaan sumber daya alam seperti hutan (ditebang untuk pertanian / permintaan kayu)


    Biaya eksternal pertumbuhan ekonomi

    dunia-emisi-CO2-per-kapita


    Kurva berbentuk U untuk pertumbuhan ekonomi dan lingkungan

    kuznets-environment

    Salah satu teori pertumbuhan ekonomi dan lingkungan adalah bahwa sampai titik tertentu pertumbuhan ekonomi memperburuk lingkungan, tetapi setelah itu peralihan ke ekonomi pasca-industri - mengarah ke lingkungan yang lebih baik.

    perubahan-CO2-emisi

    Misalnya - sejak 1980, Inggris dan AS telah mengurangi emisi CO2. Pertumbuhan emisi global berasal dari negara berkembang.

    Contoh lain - Pada hari-hari awal pertumbuhan, ekonomi cenderung membakar batu bara / kayu - yang menyebabkan polusi yang jelas. Tapi, dengan pendapatan yang lebih tinggi, ekonomi dapat mempromosikan teknologi yang lebih bersih yang membatasi polusi udara ini. Namun, dalam makalah " Pertumbuhan ekonomi dan daya dukung " oleh Kenneth Arrow et al. mereka berhati-hati tentang bentuk u yang sederhana ini. Seperti yang penulis nyatakan:

    “Jika biaya lingkungan dari kegiatan ekonomi ditanggung oleh orang miskin, oleh generasi masa depan, atau oleh negara lain, insentif untuk memperbaiki masalah cenderung lemah”

    1. Mungkin benar ada kurva Kuznets untuk beberapa jenis polutan yang terlihat, tetapi ini kurang berlaku untuk polutan yang lebih menyebar dan kurang terlihat. (seperti CO2)
    2. Bentuk U mungkin benar untuk polutan, tapi bukan stok sumber daya alam; pertumbuhan ekonomi tidak membalikkan tren konsumsi dan mengurangi kuantitas sumber daya tak terbarukan.
    3. Mengurangi polusi di satu negara dapat menyebabkan pengalihan polusi ke negara lain, misalnya kita mengimpor batu bara dari negara berkembang, secara efektif mengekspor sampah kita untuk didaur ulang dan dibuang ke tempat lain.
    4. Kebijakan lingkungan cenderung menangani masalah yang mendesak tetapi mengabaikan masalah antargenerasi di masa depan.

     


    Model lain dari hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan lingkungan

    ekonomi-pertumbuhan-lingkungan-model4
    Sumber: “ Pertumbuhan Ekonomi dan Lingkungan “. (Maret 2010) Tim Everett, Mallika Ishwaran, Gian Paolo Ansaloni dan Alex Rubin

    Teori Batas

    Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi akan merusak lingkungan, dan kerusakan itu sendiri akan mulai bertindak sebagai penghambat pertumbuhan dan akan memaksa perekonomian untuk menghadapi kerusakan ekonomi. Dengan kata lain, lingkungan akan memaksa kita untuk menjaganya. Misalnya, jika sumber daya alam kita habis, harganya akan naik dan ini akan mendorong untuk mencari alternatif.

    Toksik baru

    Ini lebih pesimis yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi mengarah pada kisaran output dan masalah beracun yang terus meningkat, beberapa masalah mungkin dapat diselesaikan, tetapi mereka sebanding dengan masalah yang lebih baru dan lebih mendesak yang sulit jika tidak mungkin untuk dibatalkan.

    Model ini tidak yakin bahwa pasar bebas akan menyelesaikan masalah karena tidak ada kepemilikan atas kualitas udara dan banyak efek yang menumpuk pada generasi mendatang; efek masa depan ini tidak dapat ditangani dengan mekanisme harga saat ini.

    Balapan ke bawah - Race to bottom

    Hal ini menunjukkan bahwa pada tahap awal pertumbuhan ekonomi, hanya ada sedikit perhatian tentang lingkungan dan seringkali negara merusak standar lingkungan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif - insentif untuk tumpangan gratis upaya orang lain. Namun, karena lingkungan semakin memburuk, hal itu dengan enggan memaksa perekonomian untuk mengurangi dampak terburuk dari kerusakan lingkungan. Ini akan memperlambat degradasi lingkungan tetapi tidak membalikkan tren masa lalu.


    Pertumbuhan ekonomi tanpa kerusakan lingkungan

    ketahanan lingkungan

    Beberapa ahli ekologi berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi selalu mengarah pada kerusakan lingkungan. Namun, ada ahli ekonomi yang berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi dapat konsisten dengan lingkungan yang stabil bahkan perbaikan dalam dampak lingkungan. Ini akan melibatkan

    gpi

    Sumber: Ida Kubiszewski et al, “Melampaui PDB: Mengukur dan Mencapai Kemajuan Asli Global,” Ecological Economics, 93, (2013).

    Terkait

    Ketahanan lingkungan

     

    P04 & 05

    Sadar Lingkungan

    Sumber : Conserve Energy Future >>

    Menjadi  ramah lingkungan >> memiliki gaya hidup yang lebih baik bagi lingkungan.

    mengambil langkah kecil >> menjaga / menjadikan planet ini tempat yang lebih baik bagi komunitas dan generasi >> yang akan datang.

    Cara yang baik >> menghemat air, mengurangi mengemudi dan lebih banyak berjalan kaki, mengonsumsi lebih sedikit energi, membeli produk daur ulang, makan sayuran lokal, bergabung dengan kelompok lingkungan untuk memerangi  polusi udara , mengurangi limbah, menanam lebih banyak pohon, dan banyak lagi.

    Menurut Wikipedia ,

    “Proses ramah lingkungan adalah keberlanjutan dan istilah pemasaran yang mengacu pada barang dan jasa, undang-undang, pedoman dan kebijakan yang mengklaim pengurangan, minimal, atau tidak membahayakan ekosistem atau lingkungan. "


    Mengapa Penting Menjadi Ramah Lingkungan?


    Tiga Kategori Ramah Lingkungan yang Khas

    1. Bisnis Ramah Lingkungan

    >>bisnis yang ramah lingkungan  lebih rumit dari sekedar menandatangani perjanjian >> Segala sesuatu mulai dari cara produk ditampilkan dan diiklankan, bagaimana limbah didaur ulang, apakah perubahan dapat dilakukan pada operasi dasar bisnis atau tidak, semuanya akan bekerja untuk menjadikannya lebih  bertanggung jawab terhadap lingkungan .

    >> Penekanan besar pada bisnis non-produksi dapat ditempatkan pada manajemen persediaan.

    >> .Bagaimana sebuah bisnis bekerja untuk mendukung komunitasnya dalam upaya pelestarian lingkungan juga merupakan tugas penting lainnya dari bisnis ramah lingkungan.

    2. Komunitas Ramah Lingkungan

    komunitas yang ramah lingkungan>> ebih dari sekedar program daur ulang

    Komunitas yang berkomitmen untuk konservasi dan pelestarian sumber daya bekerja untuk mendorong pilihan seperti taman bermain komunitas,  transportasi umum ,  konstruksi ramah lingkungan , dan juga untuk mengubah cara penggunaan bahan bakar fosil dan sumber daya lainnya untuk mendukung layanan masyarakat.

    3. Orang Yang Ramah Lingkungan

    Orang yang ramah lingkungan adalah orang yang menjalani kehidupan dengan kesadaran bagaimana sumber daya alam digunakan untuk menciptakan dan menunjang kehidupan yang dijalaninya.>>>mendaur ulang, menghemat air dan bahan bakar, dan membuat pilihan lain yang tidak hanya mengurangi dampaknya terhadap lingkungan tetapi juga mendukung industri yang berupaya menjadi lebih  bertanggung jawab terhadap lingkungan .


    Ragam Cara Mudah Menjadi Lebih Ramah Lingkungan

    Berikut adalah Ragam cara >> menjadi lebih ramah lingkungan.

    1. Menjadi Lebih Sadar akan Sumber Daya

    Mulailah dengan hidup dengan kesadaran yang lebih besar akan sumber daya yang >> gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Perhatikan bagaimana >> memilih untuk memanaskan, bepergian, menggunakan air, dan menggunakan produk yang dibuat oleh praktik manufaktur.

    Kesadaran inilah yang akan memungkinkan >> untuk memulai kemudian membuat  pilihan yang ramah lingkungan .

    2. Praktek Konservasi 

    Dengan kesadaran baru >> tentang bagaimana sumber daya alam digunakan dalam hidup >> , mulailah mempraktikkan konservasi. Ini bisa sesederhana mematikan lampu saat >> meninggalkan ruangan dan serumit membuat pilihan berbeda saat membangun rumah. Pelajari lebih lanjut di sini tentang  15 teknik membangun rumah hijau .

    3. Tanam Pohon 

    Pohon dibutuhkan bagi >> untuk bertahan hidup. Mereka memberi oksigen, buah-buahan, membersihkan udara, memberi  perlindungan bagi satwa liar , mencegah erosi tanah. Pem >> ngan yang teduh di se >>r rumah dapat membantu >> mengurangi konsumsi energi dan menjaga rumah tetap sejuk bahkan selama musim panas. 

    Tanam pohon kecil >> dan jangan menebang pohon kecuali jika diperlukan; bekerja dengan kelompok lingkungan lokal   untuk menanam lebih banyak pohon dan mendidik orang lain tentang aspek positifnya.

    4. Menghemat Air

    Air perlu dihemat karena banyak energi yang dibutuhkan untuk memompa air dari sungai atau danau ke rumah >> . Menghemat air mengurangi jumlah energi yang dibutuhkan untuk menyaringnya. 

    Beberapa  cara untuk menghemat air  adalah - mandi sebentar, memperbaiki pipa yang bocor, menutup keran yang mengalir saat >> menyikat gigi, mendaur ulang air di rumah >> , menggunakan peralatan hemat air, mengumpulkan air hujan dalam tong hujan untuk menyirami halaman rumput >> .

    5. Coba Energi Terbarukan, Go Rooftop Solar

    Rooftop Solar Photovoltaic (PV) mempercepat akses listrik yang terjangkau dan bersih. Modul atap menyebar ke seluruh dunia karena harganya yang terjangkau. Solar PV telah mendapatkan keuntungan dari siklus baik penurunan biaya yang murah, dan >> dapat dengan mudah memasangnya agar ramah lingkungan.

    6. Beralih ke Lampu LED

    Hitung bohlam yang >> miliki di rumah. Ubah menjadi bohlam LED yang tahan lebih lama dari bohlam konvensional dan jauh lebih efisien. Tidak hanya itu! Mereka tersedia dalam berbagai kecerahan dan desain yang dapat >> sesuaikan pencahayaannya dengan ruangan >> . Dengan cara ini, >> akan menggunakan lebih sedikit daya.

    7. Kurangi Daging di Piring >>

    Jika >> ingin ramah lingkungan, cukup kurangi jumlah daging yang >> konsumsi, dan itu akan berdampak besar pada lingkungan. Jika >> bisa menghindarinya hanya selama 2-3 hari seminggu, itu bahkan akan berdampak cukup signifikan pada pengurangan jejak karbon >> . 

    Saat milyaran orang makan beberapa kali sehari, jika mereka menerapkan ini, bayangkan berapa banyak peluang yang ada untuk membalikkan keadaan. Tentu saja, dimungkinkan untuk makan dengan baik dengan sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan, baik dari segi nutrisi maupun kesenangan dan dengan demikian membantu menurunkan emisi.

    8. Hentikan Pemborosan Makanan

    >> terkadang menyia-nyiakan makanan dengan sengaja dan terkadang tidak sengaja. Terlepas dari alasannya, memproduksi makanan yang tidak dimakan adalah pemborosan banyak sumber daya seperti benih, air, energi, tanah, pupuk, jam kerja, dan modal yang diinvestasikan.

    Ini juga menghasilkan gas rumah kaca di setiap tahap, termasuk metana, saat >> membuangnya dan bahan organik mendarat di tempat sampah global.

    >> dapat membuat perbedaan besar dengan memasak, menyajikan, atau memesan jumlah yang benar-benar dapat dikonsumsi dan memastikan tidak ada limbah.

    9. Ubah Kebiasaan Perjalanan

    Mengemudi dan terbang adalah dua area di mana >> dapat membuat dampak nyata melalui  praktik ramah lingkungan . Pilih opsi perjalanan hemat bahan bakar, lebih hemat perjalanan, dan coba pilih rute yang lebih langsung untuk menghemat bahan bakar. Jika kantor >> berada di dekat rumah, cobalah naik sepeda daripada mobil.

    10. Kurangi Penggunaan Produk Berbasis Bahan Bakar Fosil

    Cari tahu produk dan bahan habis pakai apa yang >> gunakan yang dibuat dengan menggunakan   produk dan proses berbahan bakar fosil dan kurangi gunakan atau gantikan dalam hidup >> .

    11. Beli Produk Lokal

    Cara mudah untuk mengurangi jejak karbon >> adalah dengan membeli produk yang ditanam secara lokal. Saat >> berbelanja secara lokal alih-alih membeli produk yang dikirim dari jauh, >> sebenarnya mendukung perusahaan susu dan peternakan lokal. 

    Selain itu, >> dapat mengikuti  praktik pertanian organik  dan dapat menanam makanan, termasuk herba dan sayuran, di halaman belakang rumah >> , kotak jendela, dan atap dan dapat menjual kelebihannya kepada teman >> .

    12. Kurangi Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya

    Bahan kimia seperti cat, minyak, amonia, dan larutan kimia lainnya berbahaya dan, jika dibuang di tempat terbuka, dapat menyebabkan  polusi di udara  dan air.

    Bahan kimia ini bisa meresap ke dalam  air tanah . Udara dan air yang tercemar dapat menyebabkan konsekuensi yang parah bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu, mereka harus dibuang ke tempat limbah beracun untuk pembuangan yang aman.

    13. Gunakan Produk Pembersih Ramah Lingkungan 

    >> menggunakan banyak produk pembersih setiap hari yang mengandung banyak bahan kimia berbahaya yang tidak ramah lingkungan untuk dibuat atau dibuang.

    Paparan berulang terhadap produk pembersih ini memengaruhi kesehatan >> serta lingkungan. Gunakan produk pembersih ramah lingkungan dengan menggunakan metode yang lebih alami dan organik.

    14. Pengomposan

    Pengomposan  adalah proses alami yang mengambil sisa-sisa tanaman dan limbah dapur dan mengubahnya menjadi makanan yang kaya nutrisi untuk tanaman >> yang membantunya tumbuh. Ini mengurangi jumlah sampah yang masuk ke  tempat pembuangan sampah , yang mencemari udara. Dengan cara ini, terbukti aman bagi lingkungan.

    15. 3 R tentang Hirarki Limbah

    The  3 R (Reduce, Reuse, Recycle) hierarki sampah  adalah urutan prioritas tindakan yang harus diambil untuk mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan dan untuk meningkatkan keseluruhan  pengelolaan sampah  proses dan program. 

    Mengurangi berarti mengurangi apa yang diproduksi dan apa yang dikonsumsi. Gunakan kembali barang-barang untuk tujuan yang berbeda daripada mengirimnya ke tempat pembuangan sampah. Mendaur ulang sesuatu berarti akan diubah lagi menjadi bahan mentah yang dapat dibentuk menjadi barang baru.

    16. Pilih Item Personal Hygiene Hati-hati

    Baik itu pasta gigi, sabun mandi, scrub wajah, dan produk lainnya, pastikan tidak mengandung microbeads yang merupakan potongan kecil plastik padat yang masuk ke aliran air dan pada akhirnya merusak lingkungan dengan memasuki rantai makanan.

    Selain itu, hindari juga bahan kimia dan pilihlah produk pembersih alami untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

    17. Beli Produk Daur Ulang 

    Ketika >> pergi berbelanja, usahakan untuk membeli produk dari pasar yang terbuat dari bahan daur ulang dengan kemasan minimal, yaitu  produk tersebut harus ramah lingkungan . Cari tahu proses manufaktur untuk memeriksa apakah itu terbuat dari bahan daur ulang atau penggunaan plastik atau bahan kimia terlibat dalam produksinya.

    >> dapat meningkatkan keterampilan mendaur ulang atau memperbaiki karena internet memberikan akses ke alat dan informasi yang >> butuhkan untuk memperbaiki apa saja dan mendaur ulang hampir semuanya, mulai dari baterai hingga kertas hingga mobil. Sebelum melempar apa pun, cobalah mengubahnya menjadi benda lain yang bisa >> gunakan. 

    18. Coba Tanpa Plastik

    >> mungkin merasa sulit untuk pergi tanpa menggunakan plastik karena tampaknya ada di setiap aspek kehidupan >>. Namun, itu tidak sesulit yang >> pikirkan.

    Membawa tas kanvas saat >> pergi berbelanja, membeli buah-buahan dan sayuran secara lepas, dan tidak membeli air kemasan bahkan dapat membuat banyak perbedaan. Jika >> mencoba, >> dapat menemukan alternatif.

    19. Bergabunglah dengan Kelompok Lingkungan 

    >> mungkin menemukan berbagai kelompok lingkungan di kota >> yang dapat bekerja sama untuk melindungi ibu pertiwi dan membuat lingkungan bersih. Pencarian Google cepat dapat membantu >> menemukan grup semacam itu. >> juga dapat menarik teman dan kerabat >> dan meminta bantuan mereka.

    20. Berhenti Mengotori

    Salah satu pem >> ngan yang biasa >> lihat setiap hari di jalanan adalah melihat orang-orang  membuang sampah sembarangan  di jalan.

    Cara terbaik untuk menjaga kebersihan lingkungan dan se >>rnya di se >>r >> adalah dengan mencegah orang membuang sampah sembarangan di jalan raya . Sebaliknya, didik mereka untuk membuang sampah dan sampah ke tong sampah. Tumpukan sampah di pinggir jalan menghambat keindahan kota dan juga  mencemari udara.

    21. Lindungi Satwa Liar

    Aktivitas manusia mengarah pada kepunahan  spesies  dan habitat yang terancam punah . Lindungi tempat-tempat seperti pantai dan hutan yang menjadi habitat hewan. Bergabunglah dengan departemen kehutanan setempat untuk melindungi habitat hewan.

    22. Mendidik Orang Lain

    Mendidik orang lain tentang pentingnya menjalani  kehidupan yang ramah lingkungan . Semakin banyak orang yang berbagi kesadaran akan pentingnya lingkungan, semakin banyak yang bisa >> lakukan bersama untuk melestarikannya.

    P04 & 05

    Green Economy - Ekonomi Hijau

    Sumber :  UNEP >

    Ekonomi hijau didefinisikan sebagai rendah karbon, efisien sumber daya dan inklusif secara sosial. 

    Dalam ekonomi hijau, pertumbuhan lapangan kerja dan pendapatan didorong oleh investasi publik dan swasta ke dalam kegiatan ekonomi, infrastruktur dan aset yang mampu mengurangan emisi karbon dan polusi, peningkatan efisiensi energi dan sumber daya, dan pencegahan hilangnya keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem.

    ''

    Investasi hijau perlu didukung melalui pengeluaran publik yang terencana, reformasi kebijakan dan perubahan perpajakan dan peraturan.

    UNEP mempromosikan jalur pembangunan yang memahami modal alam sebagai aset ekonomi penting dan sumber manfaat bagi publik, terutama bagi masyarakat miskin yang mata pencahariannya bergantung pada sumber daya alam.

    Gagasan ekonomi hijau tidak menggantikan pembangunan berkelanjutan, tetapi menciptakan fokus baru pada ekonomi, investasi, modal dan infrastruktur, lapangan kerja dan keterampilan, serta hasil sosial dan lingkungan yang positif di seluruh Asia dan Pasifik.

    ''

     


    Ekonomi Hijau

    Peran Ekonomi Hijau, Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan serta Efisiensi Sumber Daya untuk Pembangunan Berkelanjutan

    Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan bertujuan untuk
    • meningkatkan proses produksi dan praktik konsumsi untuk mengurangi konsumsi sumber daya, timbulan limbah, dan emisi di seluruh siklus hidup proses produksi –
    • sedangkan Efisiensi Sumber Daya mengacu pada cara-cara di mana sumber daya digunakan untuk memberikan nilai kepada masyarakat dan bertujuan untuk mengurangi jumlah sumber daya yang dibutuhkan, serta emisi dan limbah yang dihasilkan, per unit produk atau layanan.
    • Ekonomi Hijau memberikan pendekatan makro-ekonomi untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan fokus utama pada investasi, lapangan kerja dan keterampilan.

    ''

    Tiga bidang utama untuk pekerjaan saat ini tentang Ekonomi Hijau adalah:
    1. Advokasi pendekatan ekonomi makro untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui forum regional, sub-regional dan nasional
    2. Demonstrasi pendekatan Ekonomi Hijau dengan fokus utama pada akses ke keuangan hijau, teknologi dan investasi
    3. Dukungan kepada negara-negara dalam hal pengembangan dan pengarusutamaan kebijakan ekonomi makro untuk mendukung transisi ke Ekonomi Hijau

    ''


    Kemitraan

    Kemitraan multi-stakeholder untuk mempromosikan Ekonomi Hijau didukung untuk mempercepat dan mengkonsolidasikan perubahan berkelanjutan baik dalam pola konsumsi maupun produksi. 

    Selain Pemerintah dan organisasi nirlaba, Lingkungan PBB telah meningkatkan keterlibatannya dengan sektor swasta – yang merupakan aktor yang sangat penting dalam mempromosikan efisiensi sumber daya dan ekonomi hijau.

    ''

    P04 & 05

    Green Business - Bisnis Hijau

    Sumber : J. Tanzil & Associates >

    Greeen Business

    Greeen Business atau Bisnis hijau adalah
    suatu bentuk kepedulian dari perusahaan-perusahaan didunia untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar dengan meminimalisir dampak negatif terhadap masyarakat, lingkungan sekitar dan ekonomi, yang kini menjadi tren didunia.

    Hal ini ditunjukan dengan green label, green produc,green packaging,green producer,green consumer,green businessdan sebagainya.

    Latar belakang

    dari kemunculan konsep bisnis hijau ini adalah :
    kesadaran terhadap perubahan lingkungan yang semakin tidak bersahabat yang disertai dengan majunya industry dan usaha yang tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

    Lingkungan merupakan suatu tantangan bagi dunia usaha, dimana bank, asuransi atau investor dapat diyakinkan jika perusahaan telah memiliki bukti bahwa penggunaan sumberdaya alam serta pembuangan limbah pada setiap tahapan aktivitas seperti: perencanaan, produksi, distribusi, pemasaran, sampai kepada konsumen akhir dari barang dan jasa telah berjalan dengan baik dan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak yang bersifat aktivitas positif.

    Bersikap positif yaitu tidak hanya lingkungan yang menjadi sumber pemanfaatan tetapi juga bagaimana mengantisipasi dan mengelola dampak lingkungan yang terbentuk akibat aktivitas bisnis.

    Pemanfaatan yang berlebihan dari sumber daya alam akan mengakibatkan terganggunya proses penyediaan bahan baku yang berdampak pada aktivitas bisnis, yang selanjutnya dapat menghambat pengembangan berkelanjutan dari perusahaan itu sendiri.

    Kriteria

    Secara umum, suatu bisnis dinyatakan sebagai “hijau” jika ia memenuhi empat kriteria:

    1. menggunakan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap keputusan bisnisnya.
    2. menyediakan produk atau jasa yang ramah lingkungan (environmentally friendly), yang menggantikan permintaan terhadap produk-produk dan jasa yang tidak ramah lingkungan.
    3. lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan kompetitor.
    4. memiliki komitmen serta mejalankannya yang berkaitan dengan prinsip-prinsip lingkungan hidup dalam operasi-operasi bisnisnya.

    Greening business management” adalah strategi untuk menjadikan perusahaan itu “Hijau” yaitu
    menyelaraskan antara bisnis serta pengelolaan lingkungan secara terpadu yang meliputi pengembangan struktur organisasi, sistem dan budaya kerja yang ramah lingkungan dengan menerapkan dan mentaati seluruh peraturan tentang pengelolaan lingkungan, pengelolaan bahan baku, pengolahan limbah, penggunaan sumberdaya alam yang efisien dan efektif, penggunaan teknologi produksi yang menghasilkan limbah minimal serta menerapkan komitmen mengenai kesadaran lingkungan bagi seluruh karyawan dalam organisasinya.

    Bentuk awal dari penerapan bisnis hijau adalah dengan menaati peraturan-peraturan tentang lingkungan baik yang dikeluarkan oleh Pemerintah maupun organisasi yang mungkin diterapkan oleh perusahaan.

    Terdapat peraturan-peraturan wajib yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh perusahaan seperti :
    pengolahan limbah B3 dan limbah rumah tangga.

    Setelah peraturan-peraturan wajib tersebut bisa dipenuhi oleh perusahaan, maka perusahaan tersebut harus terus melakukan peningkatan efisensi terhadap penggunaan energi. Salah satu panduan yang dapat membantu perusahaan adalah ISO 14001.

    Dengan penerapan prinsip-prinsip ini perusahaan sudah dapat dikatakan hijau, karena perusahaan telah mengikuti panduan yang ada secara konsisten dan telah dinilai oleh badan yang independen.

    Perusahaan yang paling hijau dalam penerapan prinsip bisinis hijau adalah Vivendi. Vivendi adalah raksasa perusahaan media dan telekomunikasi yang telah melakukan upaya signifikan untuk menurunkan emisi karbon dan bertanggung jawab terhadap lingkungan kerja di seluruh anak perusahaannya, seperti Maroc Telecom dan Universal Music di California Selatan.

    Vivendi membuat strategi yang bersahabat dengan lingkungan melalui kerjasamanya dengan para pemasok. Perusahaan membuat kontrak dengan penyedia untuk bertanggung jawab secara lingkungan dan juga sosial.

    Perusahaan lain yang mungkin sering kita dengar adalah Kering.

    P04 & 05

    Green Technology - Teknologi Hijau

    Sumber : muhammadshidqi

    Satu dekade ini isu yang sedang hangat diperbincangkan diseluruh belahan bumi adalah isu tentang global warming atau pemanasan global.

    Fenomena alam ini telah disadari oleh seluruh umat manusia sebagai dampak dari aktivitas manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalam perut dan muka bumi.

    Upaya yang bisa dilakukan oleh manusia hanya menahan laju dampak dari pemanasan global tersebut, dampak yang terjadi apabila tidak ditahan lajunya akan berakibat fatal bagi kehidupan manusia di muka bumi.

    Contoh dampak yang secara nyata telah dirasakan oleh manusia akhir-akhir ini adalah :

    Dengan latar belakang tersebut  munculah konsep Green Technology/ Teknologi Hijau atau dapat disebut juga Clean Technology/Enviromental Technology.

    Konsep ini terlahir dari kesadaran manusia akan kebutuhan sumber daya alam yang ada di bumi secara berkelanjutan, hal-hal yang berkaitan dengan pengurangan daya dukung bumi termasuk dampak pemanasan global berusaha dikurangi dengan melakukan upaya dan tindakan yang lebih ramah lingkungan.


    Definisi

    Beberapa definisi tentang Green Technology yang diambil dari berbagai sumber :

    “Teknologi hijau (Greentech) yang juga dikenal dengan teknologi lingkungan (envirotech) dan teknologi bersih (cleantech) adalah integrasi antara teknologi modern dan ilmu lingkungan untuk lebih melestarikan lingkungan global dan sumber daya alam serta untuk mengurangi dampak negative dari aktifitas manusia di planet bumi”

    “Teknologi hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian atau keberlanjutan kehidupan di planet bumi ini.

    Kelestarian atau keberlanjutan (sustainabilitas) yang dapat diartikan sebagai perihal pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan dimasa deoan tanpa merusak sumber daya alam, atau pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri”

    “Teknologi lingkungan (envirotech) atau teknologi hijau (greentech) atau teknologi bersih (cleantech) adalah aplikasi ilmu lingkungan untuk melestarikan lingkungan alam dan sumber daya untuk mengekang dampak negatif dari keterlibatan manusia.

    Pembangunan yang berkelanjutan adalah inti dari teknologi lingkungan”

    “Teknologi hijau (greentech) adalah pengembangan dan penerapan produk, peralatan dan sistem yang digunakan untuk melestarikan lingkungan alam dan sumber daya, yang meminimalkan dan mengurangi dampak negatif dari aktivitas manusia terhadap lingkungan”

    Dari beberapa pengertian dari Green Technology yang ada, dapat disimpulkan bahwa

    Greentech adalah integrasi antara teknologi modern dan ilmu lingkungan yang diaplikasikan untuk melestarikan pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan di masa depan tanpa merubah lingkungan dan sumber daya alam.


    Tujuan

    Di masa depan teknologi hijau akan dianggap sebagai tujuan dari kehidupan manusia karena manusia tidak bisa terus menerus menggunakan teknologi yang menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan dan setiap bentuk kehidupan yang bergantung kepada lingkungan.

    Peran kitalah sebagai manusia yang senantiasa harus menjaga planet bumi dari kerusakan dan kehancuran.

    Teknologi hijau bertujuan untuk menemukan dan mengembangkan cara-cara untuk menyediakan kebutuhan bagi manusia tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan atau pengurangan sumber daya alam yang cepat di planet bumi.

    Salah satu contoh alternatif teknologi konvensional yang diterapkan guna mengaplikasikan konsep teknologi hijau adalah proses pendaur-ulangan sampah, upaya ini dapat memberikan pengurangan yang signifikan terhadap efek negatif pada lingkungan yaitu mengurangi jumlah limbah dan polusi yang dihasilkan dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia.

    Konsep penerapan teknologi hijau secara umum memiliki beberapa tujuan utama yang memilki prioritas untuk dapat diterapkan dalam kehidupan manusia, yaitu :

    1. Keberlangsungan – Upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara terus menerus di masa depan tanpa merusak atau menghabiskan sumber daya alam.
    2. Pendaur-ulangan sampah – Upaya untuk mengakhiri siklus barang sekali pakai, dengan menciptakan produk yang sepenuhnya dapat diperoleh kembali atau digunakan kembali
    3. Pengurangan Sumber Sampah – Upaya untuk mengurangi sumber limbah dan polusi dengan mengubah pola produksi dan pola konsumsi.
    4. Inovasi – Upaya untuk mengembangkan alternative teknlogi yang ramah lingkungan guna memenuhi kebutuhan manusia tanpa merusak lingkungan.
    5. Viabilitas – upaya untuk menciptakan suatu pusat kegiatan ekonomi di seluruh bidang teknologi dan produk yang memberikan keuntungan bagi lingkungan dan menciptakan peluang usaha baru yang benar-benar melindungi planet bumi dari kerusakan.
    6. Edukasi – Upaya untuk meningkatkan pemahaman akan pentingnya penerapan teknologi hijau guna mendukung terciptanya daya dukung lingkungan yang berkelanjutan.

    Prinsip utama pada Konsep Green Technology meliputi 3 hal yaitu :

    1. Kenyamanan Sosial
    2. Ekonomis
    3. Ramah Lingkungan

    Penerapan

    Ragam atau tipe dalam penerapan konsep Green Technology di dunia didasarkan pada prinsip-prisip utama pada Greentech .

    Konsep Greentech diterapkan untuk membantu manusia dari teknologi yang paling sederhana hingga teknologi yang paling mutakhir untuk mencapai kehidupan yang nyaman, ekonomis dan ramah lingkungan.

    Pada dasarnya konsep Greentech yang diterapkan dalam menciptakan produk adalah untuk meminimalkan bahan baku, mengefisiensikan proses, dan memaksimalkan output produk tetapi menghasilkan sampah yang minimal. 

    Penggolongan Greentech dalam berbagai tipe disesuaikan dengan penerapannya antara lain :

    1. Energi

    Menekan angka pencemaran karbon ke udara dengan mengurangi pengunaan bahan bakar energi yang berasal dari fosil. Kita ketahui bersama sumber energi fosil memiliki potensi yang terbatas dan menghasilkan dampak yang tidak baik bagi lingkungan yaitu menghasilkan pencemaran karbon, hal ini akan berdampak buruk bagi bumi apabila tidak diambil tindakan.

    Penerapan konsep Greentech adalah untuk mengefisienkan tingkat penggunaan energi, mulai dari sistem eksplorasi sumber energi, proses pengkonversian sumber tersebut menjadi energi hingga terbentuknya energi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dengan adanya efisiensi energi diharapkan pencemaran karbon dapat ditekan.

    Solusi lain dari konsep Greentech adalah dengan mengganti sumber energi dari fosil energi menjadi renewable energy atau energi terbarukan yang lebih potensial, ramah lingkungan dan dapat diperbaharui kembali.

    Renewable energy merupakan konsep utama dalam penerapan Greentech di bidang energi, beberapa contoh Renewable energy antara lain :

    Contoh Penerapan :

    1. Penggunaan tenaga air (Hydro power) sebagai sumber energi listrik
    2. Penggunaan tenaga surya (Solar cell power) sebagai sumber listrik
    3. Pemanfaatan biomassa menjadi biofuel untuk bahan bakar (limbah tanaman jarak, tebu, ketela, jagung)
    4. Pemanfaatan biogas dari limbah organik dan kotoran ternak sebagai pengganti bahan bakar minyak tanah/kayu bakar
    5. Pemanfaatan biogas sebagai pengerak generator gas untuk pembangkit listrik
    2. Bangunan

    Konsep green building atau bangunan ramah lingkungan didorong menjadi tren dunia bagi pengembangan properti saat ini. Bangunan ramah lingkungan ini punya kontribusi menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro.

    Poin terbesar dalam konsep ini adalah penghematan air dan energi serta penggunaan energi terbarukan.

    Hal-hal yang menyangkut bangunan ramah lingkungan adalah membangun hanya yang diperlukan dan tidak menggunakan lebih dari yang diperlukan, menganut prinsip keterkaitan, serta memandang profesi arsitek sebagai “pengurus bumi” (steward of the earth).

    Untuk strategi yang dapat diterapkan antara lain pemanfaatan material berkelanjutan, efisiensi lahan, keterkaitan dengan ekologi lokal, keterkaitan antara transit dan tempat tinggal, rekreasi dan bekerja, serta efisiensi penggunaan air, penanganan limbah, dan mengedepankan kondisi lokal baik secara fisik maupun secara sosial.

    Contoh penerapan konsep design Green Building :

    3. Chemistry

    Green Chemistry adalah suatu falsafah atau konsep yang mendorong desain dari sebuah produk ataupun proses yang mengurangi ataupun mengeliminir penggunaan dan penghasilan zat-zat (substansi) berbahaya.

    Green Chemistry lebih berfokus pada usaha untuk meminimalisir penghasilan zat-zat berbahaya dan memaksimalkan efisiensi dari penggunaan zat-zat (substansi) kimia. Sedangkan, Environmental Chemistry lebih menekankan pada fenomena lingkungan yang telah tercemar oleh substansi-substansi kimia.

    Green Chemistry itu sendiri memiliki 12 asas, antara lain

    1. Menghindari penghasilan sampah
    2. Desain bahan kimia dan produk yang aman
    3. Desain sintesis kimia yang tak berbahaya
    4. Penggunaan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable)
    5. Penggunaan katalis
    6. Menghindari bahan kimia yang sifatnya derivatif (chemical derivatives)
    7. Desain sintesis dengan hasil akhir (produk) yang mengandung proporsi maksimum bahan mentah
    8. Penggunaan pelarut dan kondisi reaksi yang aman
    9. Peningkatan efisiensi energi
    10. Desain bahan kimia dan produk yang dapat terurai
    11. Pencegahan polusi
    12. Peminimalan potensi kecelakaan kerja

    Contoh penerapan konsep Green Chemistry :

    4. Nanotechnology

    Green Nanotechnology merupakan pengembangan dari clean technology yang merupakan suatu upaya untuk meminimalisasi potensi resiko kerusakan lingkungan dan manusia yang terkait dengan pembuatan dan penggunaan produk nanoteknologi serta untuk mendorong penggantian produk yang ada dengan produk nano baru yang lebih ramah lingkungan.

    Tujuan dari Green Nanotechnology ada dua yaitu :

    1. Memproduksi Nanomaterials dan produk tanpa merugikan lingkungan atau kesehatan manusia, dan memproduksi nano-produk yang memberikan solusi terhadap masalah lingkungan hidup.

    Contoh :

    2. Mengembangkan produk-produk yang menguntungkan lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Contoh :


    Contoh Penerapan Green Technology di Indonesia untuk Pengembangan UKM

    1. Penggunaan Mikroorganisme Lokal (MOL) untuk Menyuburkan Tanaman Pertanian

    Penerapan teknologi dari masa lalu yang kini mulai terlupakan, penyubur tanaman memanfaatkan mikroorganisme lokal menjadi harapan menuju pertanian ramah lingkungan dan mandiri, bebas dari pupuk dan obat-obatan kimiawi.

    Prinsip Kerja :

    Penerapannya yaitu dengan membuat larutan hasil fermentasi berbagai bahan organik yang sarat dengan mikroorganisme lokal. Larutan fermentasi tersebut dibuat dengan cara mencampurkan bahan-bahan organik menjadi satu kemudian ditutup rapat sehingga proses an-aerob terjadi dan mikroorganisme akan berkembang biak. Bahan organik yang digunakan beragam, mulai dari buah-buahan busuk, sampah organik rumah tangga, bonggol pisang, tunas bambu (rebung) sampai urine ternak yang difermentasi dalam air cucian beras dan air kelapa.

    Contoh Larutan Mikroorganisme Lokal Penyubur Tanaman dan fungsinya

    Jenis MOL

    Kegunaan

    Waktu Penggunaan

    MOL Buah-buahan

    Membantu bulir padi lebih berisi

    Saat malai mulai tumbuh, setelah umur padi 60 hari

    MOL Daun Cebreng

    Menungkatkan pertumbuhan daun

    Umur padi 30 hari sesudah tanam

    MOL Bonggol Pisang

    Mempercepat proses reaksi kompos

    Umur padi 10, 20, 30 dan 40 hari sesudah tanam

    MOL Sayuran

    Merangsang pertumbuhan malai

    Umur padi 60 hari sesudah tanam

    MOL Tunas Bambu

    Meningkatkan pertumbuhan tanaman

    Umur padi 15 hari sesudah masa tanam

    MOL Sampah Dapur

    Memperbaiki kesuburan tanah

    Disemprotkan ke tanah saat diolah sebelum ditanami

    MOL Keong Mas

    Menambah nutrisi tanaman

    Umur padi 15 hari setelah tanam

    MOL : Mikroorganisme Lokal

    Sumber : (Kompas Cetak, Jumat 6 Mei 2011) (Maman Suherman, Mubiar Purwasasmita dan Karya tulis “Pemberdayaan MOL sebagai Upaya Peningkatan Kemandirian Petani” oleh Ahmad Syaifudin dan Leny Mulyani)

    Jenis Mikroorganisme yang ada didalam Larutan MOL : Aspegillus sp., Bacillus sp., Lactobacillus sp., Azospirillium sp., Azotobacter sp., Pseudomonas sp.

    Manfaat lain dari penggunaan MOL sebagai pupuk organik :

    1. Meningkatkan hasil pertanian serta meningkatkan nilai hasil panen karena dikelola dengan pupuk organik yang ramah lingkungan
    2. Lebih murah dalam pembuatannya karena memanfaakan bahan organik yang sudah tidak digunakan lagi sehingga mengurangi sampah yang dibuang
    3. Mengurani ketergantungan petani terhadap pupuk kimiawi sehingga petani lebih mandiri dengan penggunaan pupuk organik
    4. Produk hasil pertanian akan lebih aman untuk dikonsumsi karena menggunakan pupuk organik
    5. Pupuk yang dihasilkan mengandung unsur yang komplek dan mikroba yang berfungsi menyeimbangkan ekosistem alami tanah
    6. Membentuk rongga-rongga di tanah yang berfungsi sebagai tempat hidup mikroorganisme, mengalirkan air, dan nutrisi

    2. Penggunaan Pengawet Alami dalam Mengawetkan Produk Makanan atau Agriculture

    Penggunaan pengawet menggunakan bahan kimia akan sangat membahayakan bagi kesehatan manusia, apalagi bila digunakan untuk mengawetkan makanan. Salah satu contoh pengawet kimia adalah formalin/formadehida dan boraks.

    Formaldehida pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, dengan gejala : sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, depresi susunan syaraf dan gangguan peredaran darah.

    Mengkonsumsi boraks dalam makanan tidak secara langsung berakibat buruk, namun sifatnya terakumulasi (tertimbun) sedikit-demi sedikit dalam organ hati, otak dan testis.

    Boraks tidak hanya diserap melalui pencernaan namun juga dapat diserap melalui kulit. Boraks yang terserap dalam tubuh dalam jumlah kecil akan dikelurkan melalui air kemih dan tinja, serta sangat sedikit melalui keringat. Boraks bukan hanya menganggu enzim-enzim metabolisme tetapi juga menganggu alat reproduksi pria. Boraks yang dikonsumsi cukup tinggi dapat menyebabkan gejala pusing, muntah, mencret, kejang perut, kerusakan ginjal, hilang nafsu makan.

    Prinsip Kerja :

    Pada dasarnya penggunaan pengawet alam adalah dengan memanfaatkan dan menggali potensi bahan pengawet dari alam. Hal ini dilakukan untuk menghindari penggunaan bahan kimiawi sebagai pengawet makanan atau buah-buahan. Solusi pemanfaatan pengawet alami harus segera digalakkan apabila tidak ingin menimbulkan masalah kesehatan.

    Beberapa bahan pengawet alami yang lebih ramah lingkungan yang bisa dimanfaatkan :

    1. Penggunaan lidah buaya sebagai pengawet makanan segar, buah-buahan dan sayuran
    2. Penggunaan tanaman picung (Pangium edule) atau kluwak sebagai pengawet ikan segar
    3. Penggunaan kulit rajungan yang mengandung chitosan untuk pengawet industri makanan
    4. Penggunaan tanaman Gambir (Uncariae Romulus) untuk pengawet industri makanan
    5. Penggunaan asap cair dari pembakaran serabut kelapa untuk pengawet ikan segar
    6. Pemanfaatan limbah cangkang udang sebagai bahan pengawet kayu
    7. Pemanfaatan eksraktif alam untuk pengawet kayu

    Manfaat dari penggunaan pengawet alami :

    1. Mengurangi dampak buruk bagi kesehatan dari penggunaan bahan pengawet kimiawi
    2. Memberdayakan potensi bahan alam dan limbah organik sebagai bahan pengawet alami
    3. Membuka potensi lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sebagai pemasok bahan baku

    3. Pembuatan Plastik Biodegradable yang Ramah Lingkungan

    Plastik berbahan polietilen membutuhkan waktu penguraian yang lama sekali oleh bumi. Hal tersebut akan mengancam kesuburan tanah, karena dengan adanya plastik dari polietilen mikroba tanah akan kesulitan mengurai tanah menjadi subur.

    Penggunaan plastik berulang-ulang dan pendaur ulangan juga bukan merupakan solusi yang terbaik dalam menekan angka pengunaaan plastik. Karena plastik daur ulang yang biasanya berwarna hitam mengandung karsinogen yang dapat membahayakan kesehatan manusia apabila digunakan sebagai pembungkus makanan.

    Untuk itu perlu dicarikan solusi dengan mencari bahan pembuat plastik yang ramah lingkungan yaitu membuat plastik yang lebih cepat dan mudah terurai.

    Plastik yang ramah lingkungan adalah plastik yang dibuat dari bahan alam yang mudah terbaharukan atau bahan yang tidak berbahaya dan proses terurainya lebih cepat serta lebih mudah.

    Penemuan terbaru plastik ramah lingkungan dapat dibuat dari bahan yang mengandung poli asam laktat (PLA). Poli asam laktat menjadi kandidat yang menjanjikan, karena PLA dapat diproduksi dari bahan alam terbarui seperti pati-patian dan selulosa melalui fermentasi asam laktat.

    Berbagai bahan alam yang digunakan untuk membuat plastik ramah lingkungan :

    1. Bioplastik dari PHA (Poly Hydroxy Alkanoat) yang dihasilkan Ralstonia euthropa
    2. Biobag, plastik yang dihasilkan dari mates bi (kulit jagung)
    3. Plastik ramah lingkungan yang dihasilkan dari limbah minyak kelapa sawit
    4. Plastik biodegradable yang dihasilkan dari pati singkong dan chitosan
    5. Plastik ramah lingkungan berbahan bonggol tanaman pisang
    6. Plastik ramah lingkungan berbahan lidah buaya

    Dalam proses pembuatan plastik dari bahan-bahan diatas biasanya dicampurkan bahan seperti kitosan dan gliserol. Kitosan mengandung protein untuk memperkuat sifat mekanika atau kekuatan plastik. Gliserol sebagai plasticizer yang ramah lingkungan untuk memberikan kelenturan atau elastistisitas pada plastik

    Manfaat pembuatan plastik biodegradable :

    1. Mempercepat proses penguraian plastik oleh tanah
    2. Mengurangi pembuatan plastik berbahan polietilen
    3. Memberdayakan potensi bahan alam yang ramah lingkungan sebagai bahan pembuat plastik
    4. Membuka potensi lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sebagai penyedia bahan baku proses
    5. Pemanfaatan Limbah Industri Biomassa sebagai Sumber Energi Alternatif dan Bahan Bermanfaat
    4. Pemanfaatan Biomasa

    Indonesia memiliki potensi besar dalam industri biomassa yang sampai saat ini masih skala kecil yang dimanfaatkan. Selain potensi pemanfaatannya, industri biomassa juga memiliki potensi limbah yang besar yang masih bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif pengganti BBM dan bahan berguna lainnya.

    Industri yang bergerak di bidang biomassa antara lain pertanian, perkebunan, peternakan dan kehutanan.

    Beberapa contoh limbah industri biomassa yang dapat dimanfaatkan kembali :

    1. Pemanfaatan limbah serbuk gergaji sebagai briket bioarang
    2. Pemanfaatan limbah padat dan lindi hitam industri pulp sebagai bahan biobriket
    3. Pemanfaatan limbah padat tebu pada industri gula sebagai briket arang
    4. Pemanfaatan bonggol jagung menjadi tepung sebagai media tumbuh jamur
    5. Pemanfaatan limbah padat tebu sebagai papan partikel
    6. Pemanfaatan serbuk gergaji sebagai media tumbuh jamur
    7. Pemanfaatan sekam padi sebagai bahan baku pada industri kimia dan bahan bangunan

    Manfaat dari pemanfaatan limbah industri biomassa :

    1. Menerapkan konsep zero waste dalam pengelolaan industri
    2. Menciptakan sumber energi alternatif pengganti BBM
    3. Menciptakan peluang lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat
    P04 & 05

    Green Marketing

    Sumber :  Rita >

    Green Marketing adalah konsep yang meliputi semua kegiatan pemasaran yang dikembangkan untuk merangsang dan mempertahankan sikap perilaku konsumen yang ramah lingkungan (Chen & Chang, 2013).

    Komponen Green Marketing

    Menurut Suhud (2002) terdapat external green P’s dan internal green P’s. 

    komponen external green P’s

    dapat dijelaskan sebagai berikut:

    Paying Customers : Merujuk pada siapa saja yang masuk dalam kelompok konsumen hijau dengan berbagai tingkat “kehijauannya” dan jenis produk apa saja yang mereka butuhkan.

    Providers : Tentang seberapa ‘hijau’ para pemasok bahan-bahan baku, energi, alat-alat perkantoran. Misalnya, bagaimana para pemasok kayu mendapatkan kayu-kayunya, apakah dengan cara menebang hutan secara sembarangan yang akan menyebabkan penggundulan hutan.

    Politicians : Mengenai seberapa cepat hal ini dapat mendorong pemerintah untuk menyusun dan mengesahkan peraturan tentang lingkungan dan seberapa jauh peraturan pemerintah akan mempengaruhi organisasi bisnis untuk menjalankan peraturan tersebut.

    Pressure groups : Merupakan kelompok-kelompok yang memiliki andil dalam menekan perusahaan untuk menjadi hijau. Kelompok ini terdiri dari lembaga konsumen, lembaga hukum organisasi perdagangan, pemerintah suatu negara.

    Problems : Masalah lingkungan dan masalah sosial beragam macamnya. Apakah perusahaan terlibat dalam satu atau lebih dari masalah-masalah ini baik dulu maupun kini.

    Predictions : Perusahaan dapat memprediksi masalah-masalah apa saja yang mungkin dihadapi oleh perusahaan di masa yang akan datang.

    Partners : Partner merupakan pihak ketiga apakah perusahaan mempunyai hubungan dengan perusahaan atau instansi lain yang mempunyai masalah-masalah lingkungan dan sosial.

    komponen internal green P’s

    meliputi:

    Product : Tentang bagaimana produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan menjawab berbagai masalah yang dihadapi lingkungan secara makro, misalnya sampah, polusi, lapisan ozon, pemanasan global, nutrisi, dan kesehatan, sehingga perusahaan menghasilkan produk yang bisa didaur ulang, hemat energy, non-CFC, non-kolestrol.

    Price : Untuk menghasilkan produk-produk ‘hijau’ umumnya menuntut ongkos produksi yang lebih tinggi yang mengakibatkan harga jual menjadi lebih tinggi.

    Place : Tentang pemanfaatan para pengecer atau distributor dengan tepat. Misalnya, untuk mendukung program daur ulang kemasan, perusahaan dapat bekerjasama dengan para pengecer agar mendorong konsumen mengembalikan kemasan melalui mereka, ditukar dengan souvenir, potongan harga, voucher, dan produk promosi.

    Promotion : Tentang kegiatan perusahaan untuk mengkampanyekan program-program yang mengangkat isu lingkungan untuk mengokohkan image sebagai perusahaan ramah lingkungan. Promosi ini bisa dilakukan melalui iklan, logo atas label, promosi penjualan (melalui kemasan), maupun humas.

    Providing Information :Tentang usaha perusahaan untuk memonitor mengenai isu-isu relevan dengan lingkungan yang berkembang.

    Process : Tentang bagaimana perusahaan dapat menggunakan energi seminimal mungkin dalam proses produksinya dan mengurangi pembuangan sisa pemakaian seoptimal mungkin.

    Policies : Tentang implementasi dan kebijakan-kebijakan perusahaan untuk memotivasi, memonitor, dan mengevaluasi kegiatan yang berhubungan dengan lingkungannya.

    People : Tentang bagaimana para pelaku, yaitu orang-orang di kalangan industri/organisasi memanfaatkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuannya untuk mengimplementasikan amanat pemasaran hijau ini dalam praktek bisnis sebagai kebijakan perusahaan yang berpedoman pada kelestarian lingkungan.


    Green Marketing dan Pembangunan Berkelanjutan[glints.com]

    Lazimnya, tidak semua perusahaan menerapkan green marketing. Proses pemasaran ini biasa dilakukan oleh perusahaan yang memang ingin menjalankan proses pembangunan berkelanjutan.

    green marketing ini biasanya dilakukan perusahaan saat mereka harus memenuhi corporate social responsibility (CSR). Terlepas dari itu, sekarang banyak juga organisasi yang cukup vokal menyuarakan metode ini.

    Apa sebabnya? Sama seperti proses marketing lain, green marketing juga bisa menghadirkan keuntungan. Metode ini juga dianggap sebagai sebuah praktik bisnis yang berkelanjutan.

    Beberapa hal positif yang bisa didapat dari proses marketing ini.


    Haruskah Berinvestasi pada Green Marketing?

    Di beberapa negara, green marketing sudah menjadi kebutuhan. Misalnya di Kanada, Australia, dan India. Bahkan sekitar 25% masyarakat di India meyakini bahwa metode ini penting untuk keberlanjutan bumi di masa depan.

    Lantas, apakah ada hal lain yang membuat metode ini layak diwujudkan? Tentu masih ada. Dengan menerapkan metode ini, secara tidak langsung sebuah perusahaan akan mengedepankan keharmonisan alam. Hal ini pun diwujudkan pada penggunaan energi dan desain bangunan.

    Selain apa yang dijelaskan di atas, berikut alasan lain mengapa perusahaan harus berinvestasi di metode ini.

    1. Produk akan lebih awet

    Produk yang melalui proses green marketing biasanya akan tahan lama. Proses produksi yang melibatkan bahan-bahan ramah lingkungan membuatnya bisa bertahan dalam waktu lebih lama ketimbang produk yang lain.

    Lewat proses yang mengedepankan keseimbangan alam, selain lebih lama, produk green marketing biasanya juga bisa didaur ulang. Hal ini tentu saja berbeda dengan produk lain, yang mungkin hanya bisa digunakan sekali saja.

    Alasan ini pula yang membuat Nielsen Global Survey berasumsi bahwa orang rela membayar lebih mahal. Berdasarkan survey ke 30.000 orang, 55% di antaranya rela merogoh kocek lebih dalam untuk menggunakan produk lewat green marketing

    Alasan utama mereka melakukan ini dikarenakan meski uang yang dikeluarkan lebih banyak, tapi produk lebih tahan lama.

    2. Biaya yang dikeluarkan lebih sedikit

    Dalam menjalankan green marketing, perusahaan harus memastikan seluruh proses produksi ramah lingkungan. Termasuk dalam menggunakan energi.

    Penggunaan energi ramah lingkungan biasanya lebih hemat dalam jangka panjang. Karena itu kamu bisa sedikit memangkas pengeluaran untuk energi.

    3. Mengubah pola pikir soal lingkungan

    Konsumen bukan satu-satunya yang harus memedulikan segala dampak bagi lingkungan. Metode green marketing juga mendorong pemilik bisnis atau perusahaan untuk memanfaatkan sumber daya dengan semestinya, seperti konsumsi air dan listrik. 

    Metode ini secara tidak langsung mengubah mindset kita mengenai lingkungan. Beberapa contohnya adalah dengan mencari bahan pokok yang terbarukan, menggunakan sumber energi alternatif, dan menemukan cara untuk mengirimkan produk dengan cara yang lebih hemat bahan bakar.


    Penerapannya di Perusahaan Indonesia

    Di Indonesia sendiri, sudah banyak perusahaan yang menerapkan konsep green marketing. Kementerian Perindustrian bahkan pernah memberikan anugerah industri hijau bagi 69 perusahaan di Indonesia.

    Industri hijau ini, merunut pada penilaian pemerintah, adalah industri yang menggunakan bahan kimia ramah lingkungan. Perusahaan ini juga menerapkan 4R (reduce, recycle, reuse, dan recovery) dalam setiap proses produksinya.

    Selain itu, perusahaan ini juga biasanya menggunakan intensitas energi dan air yang rendah. Yang terpenting, ke-69 perusahaan ini melakukan minimalisasi limbah dan menggunakan teknologi yang rendah karbon.

    Total dari 69 perusahaan ini rata-rata merupakan perusahaan besar di Indonesia. Mereka adalah Tirta Investama (perusahaan yang memproduksi Aqua), Petrokimia Gresik, Pupuk Kaltim, Unilever, hingga Sinar Sosro (yang memproduksi teh botol Sosro).

    Baca Juga: 10 Perusahaan yang Bergerak Mendukung Lingkungan Alam

    Ambil contoh Tirta Investama. Mereka punya banyak kebijakan yang didasari prinsip ramah lingkungan. Misalnya penggunaan energi secara efisien, serta pengelolaan limbah yang higienis.

    Bukan cuma itu, prinsip green marketing di Tirta Investama ini juga diterapkan dalam produk yang mereka buat. Kemasan yang mereka gunakan termasuk cukup ramah lingkungan. Botol plastik Aqua bisa didaur ulang, sehingga tidak menjadi limbah bagi lingkungan.

     

    P04 & 05

    Green Certification & Labeling (ECOLABEL)

    Sumber : LibraryBinus >

    Tidaklah mudah untuk menggunakan istilah ‘green’ di dalam bisnis. Apa lagi dengan tidak pastinya pengertian dari istilah green gusiness dapat membuat penggunaan label ‘green’, hanya sebagai trik marketing untuk menarik customer (Ernst & Young, 2008:2).

    Dorit Kerret dan Alon Tal mengemukakan bahwa ada dari para peneliti yang meragukan kontribusi ‘green business’ kepada alam, karena mereka berpendapat bahwa tujuan utama dari inisiatif ‘green’ perusahaan adalah untuk greenwash’ reputasi perusahaan, yaitu membuat perusahaan terlihat seperti perusahaan yang bertanggung jawab terhadap lingkungannya, padahal sebenarnya tidak. (seperti dikutip Dennis D. Hirsch, 2010:26).

    Makower (2009) mengatakan “The lack of a uniform standard, or set of standards, defining environmentally responsible companies means that anyone can make green claims, regardless of whether their actions are substantive, comprehensive, or even true. Want to put solar panels on the roof of your toxics-spewing chemical company? You can be a green business!” (seperti yang dikutip Eric Koester, 2010:9).

    Dapat disimpulkan dari pendapat para ahli di atas, bahwa istilah ‘green’ tidaklah sembarangan bisa digunakan.

    Ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, yang membuat sebuah perusahaan dapat menggunakan label ‘
    green’ dan ada akreditasi atau penilaian terhadap sejauh mana perusahaan itu menerapkan konsep ‘green’ ke dalam bisnisnya.

    Untuk itu, sangatlah diperlukan ecolabel untuk secara sah menyatakan apakah sebuah perusahaan/bisnis termasuk green business dan menyediakan standar-standar dalam penerapan konsep tersebut.

    Ecolabels are an attempt to standardize and clearly communicate the environmental impacts of a product to customer (Gil Friend, 2009:72).

    Lebih lanjut lagi, Gil menjelaskan bahwa

    ecolabel dan standar-standarnya tidak hanya melindungi konsumen, tetapi juga melindungi para bisnis dengan mencegah mereka melakukan pengakuan yang palsu (Gil Friend, 2009:72)

    ecolabel adalah alat komunikasi yang bagus. Dengan memberikan label kepada perusahaan,

    ecolabel memberikan cara mudah untuk perusahaan tersebut mengkomunikasikan kepada konsumen mereka bahwa mereka adalah perusahaan yang “ramah lingkungan”.

    Dikutip oleh Eric Koester (2010:231), Ecolabeling.org mencatat lebih dari 325 badan ecolabel di seluruh bumi dimulai dari label dan pemberian sertifikat pada industri makanan, barang-barang retail sampai makanan dan elektronik, tekstil, produk hutan, energi, pariwisata, dan karbon.

    Berikut adalah contoh program pemberian label dan sertifikat (Eric Koester, 2010:232):

    Beberapa Ecolabel yang Didaftar Ecolabeling.org

    Certification or Label

    Emphasis

    Product Included

    Certification Process

    Cradle to Cradle Certification

    General certification

    Various

    Independent research and analysis; levels: basic, silver, gold or platinum

    Ecologo Certified

    General certification

    Various

    Third party auditors test for compliance with standards

    ENERGY TARS

    Energy efficiency

    Appliances, light commercial HVAC, external

    power adapters,

    Manufacturing submit data detailing how a product meets standards

     

       

    roof products, room air cleaner, transformers, water coolers, windows and doors

     

    EPEAT

    Green electronics

    Computer monitors

    and

    Manufacturer to provide production reports, lab analysis or other data; may be audited/verified

    FLO-CERT

    Certified fairtrade product

    Various

    Independent compliance standards

    analysis of with FLO

    Green-e

    Renewable

    Green-e climate

    Independent research and

     

    energy &

    (credits); Green-e

    analysis

     

    greenhouse gas

    energy (renewable

     
     

    emissions

    energy); Green-e

     
       

    Marketplace

     
       

    (company

     
       

    purchases

     
       

    certification)

     

    Greenguard

    Indoor

    air

    Adhesives,

    Independent lab emissions

     

    quality

     

    appliances,

    test

         

    ceilings, cleaning

     
         

    systems, flooring,

     
         

    insulation, office

     
         

    furniture, paint,

     
         

    textiles, and

     
         

    wallcoverings

     

     

     

    General certification

    Various

    Product must meet Environment Leadership Standards; application reviewed by Green Seal Staff

    Leadership in Energy and Environmental Design (LEED)

    Green Building

    Environmentally sustainable construction and remodeling

    Submission of application documenting compliance with the requirements of LEED rating system

    SCS


    Certification

    Independent certification of environmental and sustainability claims

    Agricultural production, food processing and handling, forestry, fisheries, flowers and plants, energy, green building

    Engineers test products based on internationally recognized standards and certification programs; also test external standards

    Sustainable Materials Rating Systems MaRT)

    General certification for sustainability

    Building products, fabric, apparel, textile & flooring

    Levels; sustainable, silver, gold or platinum

    USDA


    Organic

    Organic

    Food, some cleaning products and cosmetics

    National Organic Program certifies agents who inspect organic production

    Dengan berdirinya badan-badan yang mengakreditasi, memberikan konsultasi dan memberikan label kepada perusahaan, maka kredibilitas dari label ’green’ dapat lebih dipercaya.

    P06 & 07

    P06 & 07

    Konsep Valuasi Ekonomi Sumber Daya Alam

    Sumber : Razi M >

    Valuasi ekonomi sumber daya alam dan lingkungan (SDAL) adalah upaya  untuk memberikan nilai kuantitatif (monetisasi) terhadap barang atau jasa yang  dihasilkan oleh sumber daya alam dan lingkungan atas dasar nilai pasar (market value)  ataupun nilai non pasar (non market value).

    Valuasi ekonomi ESDAL merupakan alat  ekonomi (economic tools) yang menggunakan teknik penilaian tertentu untuk  mengestimasi nilai uang atau jasa yang dihasilkan oleh SDAL.

    Ada perbedaan antara valuasi ekonomi (economic valuation) dengan apraisal  ekonomi (economic appraisal atau economic assessment) dimana apraisal ekonomi  berkaitan dengan penilaian rencana investasi pada suatu kegiatan ekonomi atau studi  kelayakan investasi.

    Pada umumnya studi kelayakan investasi menilai biaya dan  manfaat barang dan atau jasa yang bersifat nyata (tangible) dan ada pasarnya  (marketable good), baik dengan harga pasar atau harga bayangan (shadow price).

    Tujuan kegiatan apraisal ekonomi adalah untuk menentukan nilai atau manfaat dan  kelayakan investasi berdasarkan kriteria pengambilan keputusan.

    Sementara valuasi  ekonomi upaya memberi nilai kuantitatif (monetasi) terhadap barang atau jasa yang 
    dihasilkan sumber daya alam dan lingkungan baik atas dasar nili pasar (market value)  maupun nilai non pasar (non market value). 

    Pemahaman terhadap konsep valuasi ekonomi SDAL memungkinkan para  pengambil kebijakan dapat menentukan penggunaan SDAL yang efektif dan efisien. 

    Valuasi ekonomi SDAL dapat digunakan untuk menunjukan keterkaitan antara  konservasi SDAL dan pembangunan ekonomi, sehingga valuasi ekonomi dapat  menjadi alat penting dalam upaya meningkatkan apresiasi dan kesadaran masyarakat  terhadap SDAL dan lingkungan.

    Valuasi ekonomi SDAL merupakan suatu bentuk  penilaian yang komprehensif, tidak hanya nilai pasar (market value) dari barang tetapi  juga nilai jasa yang dihasilkan oleh SDAL yang sering tidak terkuantifikasi ke dalam  perhitungan menyeluruh SDAL. 

    Pendekatan perhitungan ekonomi untuk jasa ekosistem dan sumber daya  alam (economic valuation) dewasa ini semakin popular di dunia konservasi alam dan perlindungan hutan. Conservation International (CI) kerap menggunakan metoda ini untuk menjelaskan kepada pemangku kepentingan alasan betapa pentingnya  melindungi suatu kawasan hutan dari suatu kegiatan lain yang bersifat kontra  produktif.

    tujuan valuasi ekonomi SDAL adalah untuk menjamin  tercapainya tujuan maksimalisasi kesejahteraan individu yang berkaitan dengan  keberlanjutan ekologi dan keadilan distribusi. 

    manfaat valuasi ekonomi SDAL adalah untuk mengilustrasikan  hubungan timbal balik antara ekonomi dan lingkungan yang diperlukan untuk  melakukan pengelolaan sumber daya alam yang baik, menggambarkan keuntungan  dan kerugian yang berkaitan dengan berbagai pilihan kebijakan dan program pengelolaan sumber daya alam sekaligus bermanfaat dalam menciptakan keadilan  dalam distribusi manfaat sumber daya alam. 

     

     

     

    P06 & 07

    Nilai Total Valuasi Ekonomi Sumber Daya Alam

    Sumber : Razi M >

     Nilai Total Valuasi (TEV) SDAL, dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut: 

    image-1631929725571.png

    Nilai Guna Langsung (DUV): mencakup seluruh manfaat SDA dan  lingkungan yang dapat diperkirakan langsung dari konsumsi dan produksi melalui  satuan harga berdasarkan mekanisme pasar. Nilai guna tersebut dibayar oleh seseorang  atau masyarakat yang secara langsung menggunakan dan mendapatkan manfaat dari  SDA dan lingkungan. Nilai DUV dihitung berdasarkan kontribusi SDA dan  lingkungan dalam membantu proses produksi dan konsumsi saat ini (komiditi yang  secara langsung dapat dikonsumsi atau bahan produksi barang atau jasa) 

    Nilai Guna Tidak Langsung (IUV): terdiri atas manfaat fungsional dari  proses ekologi yang secara terus-menerus memberikan konstribusinya terhadap  masyarakat dan ekosistem. Areal pertanian yang cukup luas memberikan manfaat  tidak langsung berupa kenyamanan udara, keindahan pemandangan, pengendali banjir, erosi dan sedimentasi, serta pemasok sumber air tanah baik bagi petani maupun  masyarakat lainnya. 

    Nilai Guna Pilihan (OV): tidak dieksploitasi pada saat ini, tetapi "disimpan"  demi kepentingan yang akan datang. Manfaat ini bersifat bonus dimana konsumen mau  membayar untuk aset yang tidak digunakan, dengan alasan yang sederhana yakni  untuk menghindari risiko karena tidak memilikinya di masa mendatang. 

    Nilai Keberadaan (EV): muncul dari kepuasan seseorang atau komunitas atas  keberadaan suatu aset, walaupun yang bersangkutan tidak berminat untuk  menggunakannya. Dengan kata lain nilai diberikan seseorang atau masyarakat kepada  SDAL tertentu karena memberikan manfaat spiritual, estetika dan budaya. 

    Nilai Warisan (BV): diberikan oleh masyarakat yang hidup saat ini terhadap  SDA dan lingkungan tertentu agar tetap ada dan utuh untuk diberikan kepada generasi  akan datang. Nilai ini berkaitan dengan konsep penggunaan masa datang atau pilihan  dari orang lain untuk menggunakannya. 

     

     

    P06 & 07

    Metode Valuasi Ekonomi Sumber Daya Alam

    Sumber : Razi M>

    Pendekatan yang digunakan dalam mengukur nilai ekonomi SDAL menurut Turner, Pearce dan Bateman (1993), yaitu: