Skip to main content

Manajemen Keuangan Usaha Desain Grafis

Sumber : kemenparekraf >

Sumber Modal

Ada beberapa strategi pemenuhan modal yang dapat digunakan oleh pelaku usaha Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual antara lain:


Modal Pribadi

Modal pribadi mencakup modal dari seorang pelaku usaha atau patungan beberapa pelaku usaha dalam usaha bersama yang antara lain bersumber dari warisan, penjualan asset, atau hadiah dari kompetisi. Hal yang perlu diperhatikan adalah pencatatan dan penggunaan, jangan sampai dicampur dengan keuangan pribadi atau keuangan rumah tangga.


Pinjaman dari Bank atau Lembaga Keuangan lainnya

Perlu disadari bahwa bank atau lembaga keuangan lainnya memiliki syarat yang cukup ketat dan bunga yang cukup tinggi. Persyaratan yang dimaksud adalah bagaimana Bank atau lembaga keuangan menilai apakah calon debitur pantas menerima sejumlah pinjaman dan akan mampu melunasi pinjaman beserta bunganya tepat waktu.

bank akan menilai calon debitur berdasarkan kriteria 5C:

1.Character (Karakter)

Bank akan menganalisis bagaimana watak calon debitur, antara lain apakah orang tersebut dapat dipercaya.

2. Capacity (Kapasitas)

Bank akan memperkirakan kemampuan calon debitur untuk melunasi pinjaman berdasarkan kemampuan orang tersebut dalam mengelola bisnis. Oleh karena itu, laporan mengenai jalannya kegiatan usaha (termasuk tentang penjualan, untung dan rugi, serta perkiraan keuntungan di masa mendatang) sangat penting untuk dipersiapkan oleh calon debitur.

3.Capital (Sumber Pembiayaan)

Bank akan meminta informasi dan melakukan pengecekan kebenaran mengenai sumber-sumber pembiayaan untuk usaha. Jadi, usaha harus memiliki sumber pembiayaan lain selain dari pinjaman yang diharapkan akan diberikan oleh Bank.

4.Collateral (Jaminan)

Bank juga memerlukan jaminan untuk melindungi Bank dari risiko kerugian tidak dilunasinya pinjaman oleh debitur. Jaminan adalah sesuatu yang memiliki nilai ekonomi lebih besar dari jumlah pinjaman itu sendiri.

5.Condition (Kondisi)

Bank akan menganalisis kondisi ekonomi sektor usaha calon debitur pada saat ini maupun yang akan datang. Jadi, pada waktu utertentu, mungkin Bank akan menghindari pemberian pinjaman kepada sektor tertentu.


Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (“PKBL”)

Program kemitraan diadakan untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri. Dana program kemitraan disalurkan dalam bentuk:

  1. pinjaman untuk membiayai modal kerja dan/atau pembelian asset tetap dalam rangka meningkatkan produksi dan penjualan;

  2. pinjaman tambahan untuk membiayai kebutuhan yang bersifat jangka pendek dalam rangka memenuhi pesanan dari rekanan usaha Mitra Binaan.

Jumlah pinjaman untuk setiap Mitra Binaan dari Program Kemitraan maksimum sebesar Rp200.000.000,00. Besarnya jasa administrasi pinjaman dana Program Kemitraan ditetapkan satu kali pada saat pemberian pinjaman yaiu sebesar 3% (tiga persen) per tahun dari saldo pinjaman awal tahun. Yang dapat ikut serta dalam Program Kemitraan adalah usaha yang:

  1. dimiliki oleh Warga Negara Indonesia dan bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar;

  2. berbentuk perusahaan perorangan, badan usaha bukan badan hukum, atau badan hukum yang termasuk usaha mikro dan koperasi;

  3. telah melakukan kegiatan usaha minimal 1 (satu) tahun;

  4. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 500.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 2.500.000.000,00;

  5. mempunyai potensi dan prospek usaha untuk dikembangkan; dan

  6. belum memenuhi persyaratan perbankan.

Informasi lebih lanjut mengenai PKBL dapat diakses di infopkbl.bumn.go.id.


Investor

Berbeda dengan konsep pinjam meminjam biasa, namun demikian pada praktiknya, investasi sering dicampuradukkan dengan pemberian pinjaman, sehingga pelaku usaha pada akhirnya harus mengembalikan modal meskipun usaha masih dalam keadaan rugi. Hal yang harus diperhatikan untuk mendapatkan investor dan dalam berhubungan dengan investor antara lain adalah :

  1. Pelaku usaha harus mempersiapkan proposal, menggambarkan bahwa pelaku usaha dapat dipercaya dan bahwa usahanya prospektif.

  2. Sebagai pihak yang lebih lemah (membutuhkan uang), posisi tawar pelaku usaha lebih rendah dibandingkan investor. Meskipun demikian, pelaku usaha harus cermat dalam mengadakan perjanjian tertulis dengan investor:

    • Pastikan apakah perjanjian tertulis adalah perjanjian investasi atau perjanjian pinjam meminjam biasa, dimana baik dalam keadaan untung ataupun rugi, pelaku usaha tetap harus memenuhi pelunasan dalam jangka pendek. Pastikan jumlah modal dan bagaimana ketentuan pembayaran kepada investor.

    • Pastikan apa yang tertulis dalam perjanjian sesuai dengan apa yang disepakati secara verbal. Perkara dalam investasi seringkali bermula dari pelaku usaha yang merasa isi perjanjian tertulis yang sudah ditandatanganinya tidak sesuai dengan kesepakatan awal yang dibahas secara verbal.

    • Isi dalam perjanjian tertulis betul-betul harus dipahami oleh pelaku usaha. Apabila perjanjian ditulis dalam bahasa Inggris, pelaku usaha berhak untuk meminta perjanjian tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerjemah tersumpah. Biaya penerjemahan tersebut dapat disepakati untuk dibayar bersama.


Bermitra dengan Sistem Profit Sharing

Pelaku usaha dapat mengerjakan suatu proyek bersama dengan pelaku usaha lain untuk mengurangi kebutuhan modal dan pada akhirnya para pelaku usaha akan berbagi keuntungan dari proyek tersebut.

Klien atau Konsumen

Untuk meringankan beban biaya produksi, pelaku usaha dapat memperoleh modal dari klien atau konsumen yaitu dengan membuat perjanjian tertulis atau kesepakatan bahwa klien atau konsumen harus terlebih dahulu membayarkan sejumlah uang sebelum pelaku usaha mulai mengerjakan apa yang diminta oleh klien atau konsumen.

image-1631134925262.png


Alokasi Modal Usaha

Peralatan

image-1631134942687.png

Peralatan dasar sebuah usaha Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual pada umumnya terdiri dari Personal Computer (PC), laptop dengan standar minimal Core i5, Ram 8 Gb. Kebutuhan lain yaitu koneksi Local Area Network (LAN) antar komputer, peralatan untuk koneksi internet seperti LAN/ local area network atau wi-fi, pen tablet untuk perancangan ilustrasi dan digital imaging, dan lain sebagainya. Jenis dan jumlah peralatan ini tergantung kepada jumlah tenaga kerja, teknologi yang digunakan

disesuaikan dengan teknologi terbaru, dan jenis jasa yang ditawarkan oleh sebuah usaha Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual.


Software

Software yang digunakan tergantung dari kebutuhan dalam usaha desain grafis. Software atau program aplikasi desain grafis saat ini dibedakan berdasarkan dua kategori utama, yaitu gambar desain Vector dan gambar desain Raster. Desain raster juga biasa disebut sebagai bitmap dengan perhitungan ukuran Pixel. Software tersebut dapat berupa software yang berlisensi atau open source.

Penyediaan software untuk keperluan produksi desain harus disesuaikan dengan fokus jasa dari sebuah usaha Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual. Kelengkapan software wajib dipenuhi sesuai kebutuhan. Misalnya, sebuah usaha Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual yang memiliki fokus pada layanan grafis statis, maka software yang disiapkan adalah software kategori pengolah Vector dan Pixel.

Software yang sering digunakan dalam bidang Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual adalah Adobe Illustrator, Adobe Photoshop, Corel Draw, SAI, Adobe Flash, In Design, dan tidak menutup kemungkinan software/program pengolah desain lainnya untuk pengolahan ilustrasi, fotografi, animasi, mobile app, dan lain sebagainya.

Berikut merupakan pembagian software untuk Desain Grafis / Desain.

image-1631134966138.png

Perlengkapan

Perlengkapan dasar sebuah desain grafis pada umumnya berupa satu set furniture meja dan kursi, Air Conditioner (AC), dan file cabinet. Perlengkapan yang dimiliki oleh sebuah usaha desain grafis disesuaikan dengan luas tempat usaha yang mereka miliki.

Ruangan

Ruangan sebuah usaha desain grafis minimal terdiri dari tiga ruangan pokok yaitu ruang desainer, ruang manajemen dan ruang produksi. Ruang desainer adalah tempat dilakukannya proses mendesain. Ruang manajemen biasanya digunakan untuk kegiatan meeting dan brainstorming dengan klien, sedangkan ruang produksi biasanya dikhususkan sebagai ruang pengerjaan proses pasca desain. Standar ruangan untuk 2 desainer minimal 3 x 3 meter persegi.

Lokasi Usaha

Lokasi usaha sebaiknya mudah dijangkau oleh klien. Penetapan lokasi usaha ini dipengaruhi dengan besaran anggaran modal yang disiapkan. Bila anggaran relatif rendah untuk menyewa sebuah tempat usaha, agensi dapat dikondisikan pada co-working space dan memaksimalkan layanan secara online.

Pemilihan lokasi yang strategis akan mempengaruhi pasar dan klien yang dituju, lokasi usaha di area business center akan lebih maju dalam hal manajemen, pengelolaan dan pendapatan dibandingkan mendirikan usaha di area jauh dari pusat kota, pemasukan dan pengembangan usaha akan lebih baik di lokasi business center.


Struktur Biaya

Secara umum, struktur biaya dalam usaha Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.

Berikut contoh struktur biaya di dalam sebuah usaha Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual yang mempunyai empat orang staf kecuali owner:

image-1631134877308.png

Contoh Asumsi Struktur Biaya Usaha Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual untuk jangka waktu satu tahun di Kota besar dan Kabupaten

 

Berdasarkan contoh struktur biaya tersebut, maka Return On Investment-nya dapat dihitung sebagai berikut:

image-1631134897854.png

Contoh Asumsi Perhitungan Return On Investment untuk jangka waktu tiga tahun.


Tarif Jasa Desain

Tarif jasa desain ditetapkan berdasarkan akumulasi dari biaya kreatif, biaya produksi, dan biaya media. Berikut contoh tarif jasa sebuah usaha Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual. Dasar perhitungan tarif jasa Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual disesuaikan dengan letak geografisnya (kota/ kabupaten/ kecamatan). Dengan menentukan besaran tarif jasa Desain Grafis /

Desain Komunikasi Visual maka dapat diketahui penerimaan atau keuntungan dalam satu tahun.

image-1631135016703.png

Penetapan tarif desain sangat bervariasi dari satu pelaku usaha Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual ke pelaku lainnya. Pertimbangan penetapan tarif desain dapat dirinci mengacu kepada biaya kreatif (biaya riset, brief, brainstorming, dan eksekusi), biaya produksi (biaya cetak, listrik, dan akomodasi), biaya media (biaya pemasangan iklan). Ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan agar dapat menentukan harga jasa desain yang kompetitif, antara lain:

Identifikasikan Pengeluaran Usaha Selama Setahun

Pengeluaran tahunan dapat dihitung berdasarkan biaya overhead seperti sewa tempat usaha, utilitas, biaya perjalanan, biaya rapat, biaya pemasaran, maupun biaya SDM seperti gaji dan asuransi kesehatan.

  1. Tentukan Billable Hours/ Waktu Kerja

  2. Secara umum, billable hours mengacu kepada jumlah waktu yang dihabiskan dalam pengerjaan proses desain. Dengan menggunakan asumsi kerja selama lima hari dalam seminggu dengan durasi delapan jam setiap harinya, maka dapat dihitung billable hours dalam setahun sebagai berikut:

  3. Kalkulasikan berapa banyak waktu yang diperlukan secara akurat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan desain. Contohnya, untuk menyelesaikan 100 halaman buku, apakah diperlukan 24 jam atau 40 jam?

Setelah menghitung billable hours, maka kita dapat menentukan biaya usaha per jam. Berikut rumus perhitungannya:

image-1631135122608.png

Berikut contoh skenarionya:

image-1631135158056.png

Setelah didapatkan biaya usaha per jam, maka tarif jasa dapat dihitung dengan menggunakan kalkulasi waktu pengerjaan desain yang sudah ditentukan sebelumnya dan pertimbangkan berapa jumlah SDM yang dibutuhkan dalam penyelesaian suatu pekerjaan desain.

Berikut contohnya:

image-1631135312342.png


Perpajakan Usaha

Era teknologi telah membawa gaya hidup tersendiri bagi para pelaku bisnis, walaupun masih dalam skala UMKM. Dari sisi pajak, hal ini sangat besar potensinya yang harus diambil untuk menjadi pemasukan pajak. Berikut ini potensi pajak dari usaha Desain Grafis / Desain Komunikasi Visual antara lain:

PPh (Pajak Penghasilan)

Saat ini belum ada aturan khusus mengenai perlakuan PPh atas pengusaha bidang usaha desain, sehingga masih mengikuti ketentuan pajak penghasilan secara umum. Berdasarkan PP Nomor 46 tahun 2013, perlakuan pajak pengusaha dengan penghasilan/omzet bruto tidak melebihi Rp 4,8 milliar dikenakan pajak sama dengan pajak UMKM, yaitu 1% dari omset.

Pajak Daerah

Mengacu pada otonomi daerah, setiap kegiatan usaha yang menghasilkan keuntungan biasanya dikenai kewajiban untuk membayar retribusi daerah yang besarnya sesuai dengan peraturan daerah masing- masing.

PPN (Pajak Pertambahan Nilai)

Sejak 1 Januari 2014, pemerintah telah menetapkan aturan mengenai batasan Pengusaha Kena Pajak (PKP), yaitu pengusaha yang omzetnya mencapai Rp 4,8 miliar per tahun. Dengan demikian, semua pelaku usaha yang omzetnya sudah mencapai atau melebihi jumlah tersebut harus mengajukan PKP karena wajib memungut PPN sebesar 10% atas setiap transaksinya.